BatamNow – Beberapa kali media ini menurunkan laporan geliat PLN Batam. Banyak hal di bright PLN Batam ini yang dikritisi.

Untuk lebih obyektif dalam pemberitaan, klarifikasi wajib dilakukan. Sehubungan itu, Junpa Siregar dan Omrad dari BatamNow mewawancarai Direktur Utama PT PLN Batam Dadan Kurniadipura, di ruang kerjanya, di lantai tiga Gedung bright di Batam Center, Kamis (12/03/2020).
Dadan didampingi Coorporate Secretary Denny Hendri Wijaya, Manajer Legal Bukti Panggabean, Humas PLN Batam Yoga Perdana dan Romy Andry Vice Presiden Tax and Accounting.
BatamNow pun memberi ruang yang cukup untuk publikasi lewat satu wawancara dan disajikan dengan format tanya jawab:
Seraya mengambil posisi di sofa yang disediakan, Dadan langsung bicara mengalir apa adanya.
Apa kabar?
Seraya menyapa kabar baik. Dadan langsung bicara tentang pesan WhatsApp dari direktur perencanaan PLN, menanyakan ada tulisan BatamNow masalah Pelayanan Energi Batam (PEB), Dalle Energi Batam (DEB), Mitra Energi Batam (MEB).
Kok kita enggak pernah dikonfirmasi. Kan seharusnya ada check and balances.
Ya, Benar.
Kalau kita sih, sebenarnya, enggak ada yang ditutup-tutupi. Memang kalau laporan keuangan (LK), tidak kita cantumkan (publikasikan-red), karena bukan perusahaan publik.
Dulu kan dicantumkan?
Dulu pernah kita cantumkan, karena kita mau listing, Initial Public Offering (IPO). Diminta oleh pemegang saham, zaman Pak Dahlan Iskan, lanjut pak Nur Pamudji.
Saat itu kita sudah siap prepare, kita panggil Bahana Sekuritas, Price Waterhouse Cooper (PWC) dan Ernst and Young segala macam, sudah. Nah begitu ready 2015, 2016 awal, kita lapor.
Kemudian, tetiba gantilah management. Lantas saya laporlah. Pak dapat tugas di RUPS harus IPO, ini kami sudah siap pak.
Sudah sampai berapa persen proses restructuring-nya?
Waooo, udah. Tinggal roadshow. Sudah semuanya, sudah dipersiapkan. Bila yang punya perusahan bilang begitu, ya, tinggal kita jalankan saja.
Berapa persen rencananya saham PLN Batam ini diperdagangkan?
Rencananya 20%.
Dengan harga berapa rencananya diperdagangkan di Bursa?
Ada sih ancar-ancarnya, tapi belum sampai ke harga.
Kalau kita dulu lebih transparan, makanya kita masukkan Laporan Keuangan kita di website. Supaya semua bisa akses.
Nah, ini sekarang kebijakan baru lagi, manajemen baru lagi, selanjutnya ya kita ikuti saja.
Kalau boleh tahu, dari tahun berapa Pak Dadan bertugas di PLN Batam ini?
Saya di Batam baru tahun 2012. Sudah mau habis pak. Ini kan terakhir.
Bagaimana performance PLN selama di tangan Pak Dadan?
Memang itu yang saya jaga pak. Saya terus terang, saya dikasih kepercayaan untuk membawa PLN Batam ini.
Bagaimana sejarahnya, kenapa PLN Batam melaksanakan pembangunan PLTGU MPP 500 MW?
Kalau bicara tentang listrik 500 MW, kita menerima penugasan, kita membuat pembangkit 500 MW di 8 lokasi.
Dalam rangka apa, kenapa penugasan ke PLN Batam?
Jadi gini. Ada sejarahnya. Dua tahun saya di sini. Saya melihat PLN Batam ini untung Rp 70 sampai 80 Miliar pertahun dan tahun berikutnya, naik 100 an Miliar. Lantas saya tanya ke Pemegang Saham (PS), pak Batam ini mau diapain? Kalau mau digedein, saya punya rencana.
Kalau cuma disuruh mengelola Batam saja, ya, begini-begini saja. Karena kalau Batam ini tumbuh 5%, ya, PLN Batam juga hanya tumbuh lebih kurang segitu.
Saya enggak puas. Saya bilang, saya ingin Batam ini harus ada sesuatulah. Terus saya usul ke direksi PLN sebagai IPP PLN pusat, kalau swasta boleh jadi Independent Power Producer (IPP) di PLN. Kenapa anak perusahaan enggak boleh?
Nah terus saya cerita. Kita punya kemampuan dalam skill. Artinya, kita mengelolah pembangkitan. Nah, itu empat kali saya sampaikan di rapat direksi, saya minta waktu presentasi agar mereka percaya kepada PLN Batam.
Nah, tak begitu lama, blak, dikasih penugasan. Kita, awalnya minta enggak banyak. Cukup 100 Mega Watt. Karena Batam ini kan size pembangkitnya, waktu itu, cuma 300 Mega Watt. Kalau kita minta 500 Mega Watt ‘kan sok tahu betul. Kita mintanya yang 100 mega watt sajalah.
Dikerjakan siapa?
Tiga anak perusahaan yang ditugaskan, yaitu Indonesia Power (IP), Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan PLN Batam dikasih 500, 500 dan 500. Tugas ini kan dalam rangka pemenuhan proyek listrik nasional 35.000 MW.
PLN Batam ini ternyata fighting spirit anak-anak mudanya, bukan main. Kita punya di 8 lokasi dengan 500 Mega Watt. Satu tahun jadi. Operasi semua tahun 2016. Yang lain kita enggak tahu, apa sudah operasi atau enggak.
Keterkaitan kerja sama dengan General Electric (GE)?
Dengan GE bukan kerja sama. Kita beli mesin GE. Jadi begini, waktu kita lakukan pemilihan, pemain Mobile Power Plant (MPP) ini kan cuma beberapa saja. Enggak semua punya MPP.
Kita diminta menyediakan yang mobile. Karena kalau ada krisis di satu daerah, MPP bisa datang segera. Selesai krisis, misalnya, berpindah lagi. Begitu selanjutnya, bilamana krisis lagi, kita datang.
PLN konsepnya seperti itu. Kita scanning, yang punya MPP siapa. Ada Siemens, Pratt & Whitney Amerika juga, ada GE yang sudah di PLN.
Akhirnya, tiga-tiganya kita undang. Karena kita punya target waktu. Saya dikasih waktu oleh direksi 6 bulan. Artinya, barang ini tergantung pembangkitnya. Uang kita ada enggak? Tiga-tiganya itu kita panggil. Kita bikin kayak beauty contest.
Saya didampingi Accenture waktu itu. Nah, di-interview-lah kesiapannya. Bagaimana saya butuh 500 Mega Watt. Size-nya, setiap grade-nya itu 25 Mega Watt. Artinya, kan 20 unit saya butuh. Padahal waktu itu Siemens, oke. Kita enggak punya ready stock. Benar-benar kita tak punya apa-apa.
Kita butuh waktu 8 bulan, baru bisa supply, jawab Siemens. Wah kalau begitu, bikinnya saja 8 bulan. Suplai mesinnya setahun. Lalu kapan kita mau mulai ini?
Nah, Pratt and Whitney waktu itu menjawab, saya punya ada 10. Saya bisa, sambil ini berjalan saya bisa bikin 3 bulan lagi. Artinya kan dari 3 perusahaan itu. Kalau ketiganya enggak ada yang sanggup, saya juga akan bilang ke PLN Pusat, saya enggak sanggup. Saya dikasih waktu 6 bulan. Hasil beauty contest saya itu, ternyata GE, waktu itu, sanggup.
Perkembangan terakhir GE ke Alstom ada keterkaitan dengan Alstom Co?
Kalau itu mungkin pakai barang Alstom, GE yang maju. Kalau saya kan komunikasinya dengan GE. Kita beli mesin GE. Nah, karena waktu itu kita scanning di PLN, MPP yang existing ada 3 perusahaan.
Kan di Alstom juga ada Mobile Power Plant (MPP)?
Alstom saya enggak tau. Karena waktu itu, di kita enggak ada yang existing. Kita kan tak mau gambling. Yang sudah proven di PLN, dipakai. Ini kan waktunya 6 bulan.
Kalau nanti coba-coba yang lain, begitu gagal, mati kita. Kalau ini yang sudah proven dan terpasang di PLN ada 3 perusahaan. Ketiganya kita undang beauty contest.
Bagaimana dengan GE akuisisi Alstom?
Waktu itu kita enggak tahu GE mau akuisisi Alstom. Karena proses kita, waktu itu, murni. Bagaimana cari pembangkit yang baik. Waktu itu juga Siemens klaim. Kenapa saya enggak dipilih. Saya bilang, loh, kan kita sudah ngomong.
Saya dikasih penugasan hanya segini. Lantas kita tunjukkan ke Siemens penugasan oleh PLN Pusat. Waktu itu kan direksi butuh 35.000 Mega Watt. Setahun sudah harus ada. Inilah 500 Mega Watt, yang pertama kali on. Cuma punya kita.
Bukankah penawaran Siemens waktu itu lebih murah?
Ohh, belum masuk ke harga pak. Jadi waktu terakhir, kita compare sama Siemens, ya jauh lebih mahal. Kita tidak bicara harga, tapi kemampuan dulu. Begitu dia sudah mampu, baru kita negosiasi.
Kan kita gencet habis, sampai terakhir. Kita bandingkan dan saya bisa kasih harga ke PLN Pusat, dengan harga yang termurah. Kita buktikan anak perusahaan sebagai IPP bisa memberi harga yang termurah.
Apa alasan bapak bilang mampu? Jika melihat suatu investasi, juga harus melihat performanya. Sementara kami dengar, performa financial PLN Batam, saat itu, kan tidak memadai.
Betul pak. Jadi gini, yang pinjam Rp 7 Triliun itu atas nama PLN Pusat. Holding yang pinjam uangnya ke Exim Hungaria dan Exim Canada.
Jadi konsorsium 2 bank Exim pak. Kalau kita yang pinjam uang di luar negeri, mana dilihat sekelas kita ini.
Bentuk pinjaman itu apa pinjaman luar negeri atau bagaimana?
Jadi begini. Persyaratan kita dulu waktu beli pembangkit itu, supplier harus membawa pendana dan yang mencari GE sendiri. Begitu dapat pendananya, negosiasilah dengan kita.
PLN Pusat waktu sudah ok. Jadi di-pass to PLN Batam, yang nyicil hutang PLN Batam.
Bagaimana pada waktu itu basic agreement-nya?
Ooo, ada pak. Tanpa saya sadari, saya dapat penghargaan dari Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) itu di Singapura.
Pada waktu itu dapat bunga termurah 3 koma berapa, jadi 3,6 di atas Singapore Interbank Offered Rate (SIBOR) per tahun.
Itu yang saya enggak ngerti ini. Tiba- tiba dari Singapura ada undangan. Karena tak ngerti, sampai saya tanya-tanya award apaan itu? Ternyata, ya itu tadi, PLN-GE Fast Power Tread Finance.
Ownership MPP ini kan ada di PLN Batam dan kemudian Return on Investment (ROI) adalah tanggung jawab PLN Batam.
Oh iya, benar.
Personal garansi dari PLN Pusat, bagaimana mungkin PLN Batam hanya punya 4 Triliun aset, ekuitasnya 1,8 Triliun.
Kenapa PLN Batam mau menerima penugasan dengan performa financial begitu?
Iya pak, enggak mungkin dengan nilai proyek Rp 8 Triliun.
Sekarang begini. Pihak yang meminjami adalah PLN Pusat, off taker-nya PLN. Siapa yang enggak mau.
Kan penjaminnya PLN Pusat dan daya listriknya juga dibeli PLN Pusat. Kecuali dibeli sama luar, saya juga enggak berani.
Hitung-hitungannya menurut bapak apakah MPP itu profit?
Pak, kalau ngga ada MPP, Batam sudah gulung tikar dari kemarin. Saya jual listrik di Batam, untungnya Rp 1-3 per KWh.
Bagaimana dengan kondisi MPP yang stand by?
Ohhh, itu urusannya PLN Pusat. Kita kan sebagai pemilik pembangkit. Kalau kata PLN taruh di Pontianak, ternyata di Pontianak cuma 3 persen kapasitasnya, akhirnya stand by.
Tapi kan ada take or pay, 85% dia harus bayar. Karena skemanya begitu, kalau full ya dia harus bayar full.
Minimumnya ada. Karena saya ada kewajiban ke lender (pemberi pinjaman). Nah kalau saya gagal, PLN Pusat yang kena. Kalau enggak begitu, saya juga enggak mau gadaikan Batam ini. Ya, habislah. Jadi, kalau enggak ada 500 MW, selesai (PLN) Batam ini.
Bukankah cashflow Batam ini akan menjadi defisit, dengan adanya MPP ini?
No, justru terbalik pak. Waktu kita hitung-hitungan, pokoknya cost post margin.
Karena market-nya sudah fixed selama 20 tahun.
ROI nya berapa lama?
Dengan bank, pengembaliannya 12 tahun dan grace period-nya 1 tahun. Berarti 13 tahun.
Apakah PLN Batam mampu dengan skema itu?
Mampu pak. Posisi terakhir ini, unaudited (belum diaudit). Profit PLN Rp 690 Miliar per tahun 2019.
Karena MPP itu menopang Batam. Jauh hari saya sudah baca, andaikan mesin di Batam kacau, lalu menaikkan tarif.
Siapa sih yang mau mengambil kebijakan itu? Apalagi sekarang ini kan mau Pilkada.
Secara performa kan nggak ada masalah. Kita diaudit sama Deloitte, PWC. Apa lagi? Nah, sekarang kita diaudit Amir Abadi Jusuf (AAJ) karena itu dari Pusat. BPK juga mengaudit. Yang audit kita itu banyak.
Begini ya, kalau memang saya enggak perform, sudah digulung dari kemarin pak! Kita juga kan ikut Holding. Kalau PLN diaudit AAJ, kita juga.
Bagaimana tentang kenaikan tarif 45%?
Sebenarnya dinaikkan tarif pun nggak nutup pak. Kalau mau bicara fair, tarif itu tak kami naikkan dari tahun 2014.
Sudah itu, dolar saat itu berapa. Harga gas itu berapa. Nah, sekarang ini, terus terang, kalau dari tarif kita rugi. Untuk industri kita jual rugi Rp 110/per KWh. Kemudian non-industri kita hanya untung Rp 3/KWh.
Mau pinjam duit ke bank Rp 8 Triliun, mana mungkin? Justru saya anggap MPP 500 MW itulah yang menopang Batam.
Berapa persen margin dari MPP itu?
Kalau perhitungan akuntansi saya nggak begitu hafal banget. Tapi majority profit, ya dari situlah.
Kita pinjam Rp 7 Trilun, yang Rp 1 Triliun lagi dari kas kita. Nilai perusahaan kita berapa sih?
Jadi memang terbantu juga bunganya bagus 3,67 %. Ya, Tuhan masih sayang sama saya, sudah 8 tahun di sini.
Kalau kita lihat dari pemaparan bapak tadi…
Sekarang risk nya mana pak? Enggak ada. Saya juga menjadi tenang ke PLN Pusat. Future market-nya sudah fixed. Kita dijamin juga sama PLN Pusat.
Bagaimana dengan kegalauan Menkeu perihal program 35.000 MW itu?
Ya betul, betul. PLN ini kesulitan cash. Tapi kalau saya kan punya jaminan yang dipakai ke bank. Kalau ada apa-apa, nama PLN Pusat yang rusak.
Bagaimana dengan Tarakan yang shutdown, bukankah karena dampak 35.000 MW ini juga?
Kalau Tarakan itu sama juga posisinya seperti Batam. Cuma kalau saya melihat, mereka kan ada janji dengan Medco.
Gas, ternyata gasnya Medco, setahun, dua tahun habis, kemudian dia bakar solar kan?
Akhirnya, tarif nya itu tinggi banget Rp 1.700. Kalau saya melihat, kurang cepat mereka mengambil keputusan. Kalau pakai solar, udahlah pak. Apalagi kalau Rp 2.600 harga pokoknya. Bagaimana mau jual lagi dengan harga jual Rp 1.700. Tinggal hitung waktu saja, tutup.
Nah kalau di kita dan teman-teman ini, selalu mencari sesuatu yang baru. Kita kemarin Memorandum of Understanding (MoU) dengan yang namanya Langenberg.
Langenberg itu pembangkit listrik. Bahan bakarnya air laut. Jadi mesin itu segede kontainer 40 feet. Kasih air laut, keluar listrik 10 MW. Dari situ keluar lagi solar setara 40 MW. Keluar air bersih. Ini dari Amerika.
Mereka presentasi. Tapi saya bilang, laut Amerika berbeda dengan laut Indonesia. Enviroment-nya beda. Iklimnya juga.
Lantas saya tes dia. Sekarang gini, loe pasang di Batam. Gua siapin tanah. Keluar listriknya gua beli. Jadi berapa harga pokok listriknya yang diproduksi?
Apakah setrumnya lebih mahal?
Nah, itu pak. Berapa harga listriknya dan berapa harga solarnya? Jadi hitungan nya 9 sen, waktu itu. Karena kan kalau 10 Mega itu masuknya ke tegangan menengah (TM) 1300 watt.
Nah, hitung-hitungan masih bisa masuk. Lantas added value-nya apa. Disamping Energi Baru Terbarukan (EBT), tidak menggunkan fosil dll. Kemudian ada output-nya solar setara 40 MW. Saya tanya solarnya berapa? Harganya Rp 850. Di luar pasaran Rp 6.000. Tapi belum lah untuk saat ini.
Nah kembali lagi, PLN Batam ini mempunyai Subsidiary?
Pada awalnya PT Tanjung Kasam Power Plant (TJK) itu subsidiary PLN Batam. Pada waktu itu kan mau pinjam duit kemana-mana, enggak ada yang percaya, ha ha…
Terus terang sampai sekarang ini, saya, masih ada dispute (perselisihan) sama mereka.
Bagaimana skema pembelian dari ketiga joint venture ini?
Sebenarnya sih bagus harganya. Kita kan ada share 10% di TJK, karena tanah kita dipakai. Terus di MEB, kita 30%. DEB 20%.
Kalau pola kerja samanya, kita beli listrik dari dia, karena saya pemegang saham. Kalau RUPS kan saya ikut. Namanya MEB, DEB itu punya pembangkit 160 MW.
Kualitas batubaranya TJK, otomatis harga listriknya mahal?
Jadi memang itu ada salah dari awal. Kita kan dulu enggak ngerti. Jadi waktu nge-design boiler nya itu, pakailah batubaranya dari Kideco. Jadi design boiler-nya itu pakai batubara Kideco. Jadi susah masuknya batubara yang dari Sumatera.
Design boiler-nya itu design menyesuaikan asal batubara kita ambil. Kalau dari Sumatere kita ambil, ya, boiler-nya kita design sesuai dengan Sumatera.
Jadi berarti kita tidak bisa lepas dari Kideco, begitu?
Ya itu dia, kita harus pakai batubaranya. Kalau nggak, performanya juga enggak bagus. Usia equipment-nya juga jadi enggak baik, sebentar-sebentar ganti.
Kemarin juga TJK sudah mengeluh. Awak datang ke sini TJK sudah ada 2012, tinggal operasi saja.
Bagaimana dengan tarif PLN saat ini?
Saya sebenarnya sudah wajib mengajukan kenaikan tarif. Kemudian saya bilang ke Gubernur, sudahlah, keadaan masyarakat seperti ini jadi emmang belum ada kenaikan.
Ada pertimbangan lain?
Begini pak, jadi waktu rapat sama pak Arcandra ketika masih Wamen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama pak Isdianto ketika masih Wagub.
Saya sudah ajak teman-teman mau hitung-hitungan lagi, eh, nggak lama lagi Presiden bikin statement harga gas turun menjadi USD 6 dolar. Setelah itu, kita lihat, kita hitung lagi. Kalau perlu tarif turun, ya kita turunkan. Kita jaga kepercayaan masyarakat.
Yang namanya infrastruktur ini enggak bisa main-main lah pak, kita bukan sekedar mencari untung. Kita kan punya kewajiban. Listrik itu sudah menjadi kebutuhan pokok, bukan sekunder lagi.
Saya merasakan apa yang dirasakan rakyat Batam pak.
Kalau saya mau ikutan tak mau tahu, tarif saya naikkan terus. Kecuali kalau sudah hampir tenggelam, baru kita ngomong, Gubernur, sudah enggak bisa lagi, daripada nanti listrik Batam mati.
Kemarin ada investor asing datang ke sini. Mau membangun pembangkit untuk industri. ‘Kan tadi saya sudah bilang tarif industri Rp 110 rupiah sudah saya subsidi setiap KWh.
Lantas saya bilang sama dia: bos, kalau ikut tarif ini saya enggak bisa. Saya buka semua. Sudahlah, saya nggak ambil untung, tapi kalau bisa anda bangun IPP dan Rp 110 ini tidak saya tanggung lagi. Silakan.
Si investor bilang: wah saya enggak bisa bangun IPP di Batam dengan tarif segitu.
Lalu?
Bayangkan, dia investor asing, masa kita korbanin pribumi. Kita kan ada subsidi tarif listrik. Kemudian mau kita kasih subsidi ini ke asing, enggak masuk akal. Kalau dia orang Indonesia masih mending lah, kita masih ada pertimbangan.
Bagaimana jadinya?
Dia mengadu ke Deputi IV PLN Pusat. Kemudian, dia mengadu lagi ke Menteri Perekonomian. Sekarang dia buat surat ke Presiden lagi. Saya bilang, bikin suratnya ke Tuhan saja, enggak ada masalah.
Kita bukan mau niat jahat, apa adanya dan kita tahulah, industri harus bersaing. Tapi jangan sampai mengorbankan orang dong?
Lantas saya jawab ke Deputi IV, pak saya sangat mengerti industri, harus bersaing, tapi jangan mengorbankan PLN Batam. Saya enggak setuju, gitu saya bilang, hahaha…
Mantap betul investor itu. Dia yang untung, kita yang rugi. Jadi kalau sudah masuk ke dalam suasana dan kondisi seperti ini, antara nurani dan bisnis harus menjadi pertimbangan.
Bagaimana komunikasi dengan menteri BUMN yang baru ini?
Saya jauh pak, saya enggak ada uruslah, kita jalan sajalah. Selama saya di Batam ini, ya, syukurnya sejauh ini bak-baik saja.
Even direksi PLN Pusat juga enggak pernah intervensi. Saya sudah di ujung masa jabatan ini. Jadi kita jalan saja. Kalau mau dicari-cari masalah yang Rp 8 Triliun itu pasti bermasalah dari dulu, karena itu sudah saya tender dan mengikuti prosedur jadi gak ada masalah.
Justru selalu saya ingatkan sama teman-teman, awas loe kalau main main. Sedangkan enggak main-main saja loe sudah dipelototi apalagi loe main-main, habislah. Saya juga diaudit pak, bagaimana bisa main-main?
Perihal TJK?
Makanya nanti, dia kan mau extention nih rencananya. TJK mau tambah 2 unit lagi. Saya sudah bilang dari awal, batubaranya pakai dari Sumatera.
Kalau dengan kondisi sekarang ini, buat kita juga high cost. Jadi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) kita tinggi. Cuma, kalau dulu kita nggak bisa ngomong apa-apa pak. Kita enggak punya gigi. Tapi kalau sekarang ini kan kondisinya sudah berbeda.
Untuk batubara spot ini juga sepertinya orang-orang Kideco ya?
Wah, kita ngga tahu, semua pengadaan dan penawaran batubara kan lewat online.
Dulu bapak di PLN Pusat ya?
Ya, saya ini dulu di PLN Pusat. Sudah pensiun 2013, jadi setelah pensiun saya masih dipercaya ditempatkan di sini.(*)

