Mengapa Perairan Singapura Jarang Tercemar Limbah? - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Mengapa Perairan Singapura Jarang Tercemar Limbah?

10/Apr/2019 16:56
Mengapa Perairan Singapura Jarang Tercemar Limbah?
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

:batamnow:-TAK seperti perairan Indonesia. Perairan Singapura dan Johor Malaysia hampir jarang terdengar tercemar dengan limbah minyak. Khususnya yang bersumber dari “berak” kapal.

Padahal jarak antara perairan kita dengan negara tetangga hanya sepelemparan batu.

Sama sama bersebelahan dengan jalur pelayaran internasional yang riuh dengan lalu lalang ribuan kapal itu.

Aneh bila hanya perairan kita yang menjadi korban pencemaran. Kalau limbah minyak itu bersumber dari berak kapal tersebut.

Menurut sumber di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, jangankan limbah B3 minyak kotor. Sampah rumah tangga atau limbah bungkus plastik saja susah ditemukan di perairan negara Lee Hsien Loong itu.

Pemerintah Singapura memang terkenal ketat terhadap pencemaran lingkungan. Baik di darat, laut bahkan di udara (paling tidak asap atau polusi).

Sanksi hukuman terhadap pelaku pencemaran lingkungan sangat berat di negara tetangga itu.

Belum lagi mental dan disiplin aparat yang bertugas yang terkenal sangat tegas dalam menegakkan hukum negaranya.

Itu menjadi modal mahal yang bernilai tinggi di negara yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa itu.

Mereka benar benar setia menjaga lautnya. Jarang kedengaran aparat mereka menerima suap alias cincai cincai dengan pelaku kejahatan di perairan mereka.

Itulah, menurut sumber tersebut, mengapa negara itu maju dan aman. Lingkungan bersih berstandar internasional.

Minimnya tindak pencemaran laut, perairan dan pantai di Singapura, karena tak seorang atau satu kapal laut yang berani berak limbah minyak.

Jangankan siang, di malam hari pun, nyali kapten kapal akan ciut melakukan pencemaran.

Itu bisa berlaku karena mereka sadar gerak gerik mereka terdeteksi oleh alat teknologi canggih dengan petugas yang tegas di Singapura.

Kapal bernama apa. Bendera mana. Bobot berapa. Tujuan ke mana. Mau berak limbah minyak pakai pipa ke bawah laut pun, konon bisa mereka deteksi.

Pun kapal yang hanya melintas saja di perairan internasional dekat pulau mereka.

Jangan coba coba sembari berak minyak kotor. Rugi besar akibatnya.

Makanya dengan penjagaan yang ekstra ketat, ditambah peralatan canggih, perairan Johor Malaysia dan Singapura selalu minim dari kasus pencemaran lingkungan.

Padahal selain yang berseliweran di sepanjang jalur Internasional, ada ribuan kapal laut besar dan kecil , lego jangkar dan bersandar didermaga di Singapura setiap hari.

Tapi di sana, sangat minim terjadi pencemaran. Tak mungkin ada yang berani buang limbah sembarangan dari kapal kapal itu.

Negeri Kita Tampak Hina

Beda dengan negara kita. Para pelaku pencemaran lingkungan itu, tampak begitu leluasanya “buang hajat” di halaman kita.

Tak tahu mengapa sehina itu negeri kita ini di mata mereka. Di mata luar negeri.

Istilahnya, begitu gampangnya mereka menyemprotkan berlimpah “tinja” ke rumah kita.

Diduga keras ada kapal yang membuang limbahnya diam diam. Ada yang saat berlayar di perairan internasional sembari bermanuver mendekati perairan kita lalu membuang limbah minyak itu.

Mereka disebut sebut bisa membaca arus laut dan angin. Bila siklus arus laut dan angin ke arah perairan kita, saat itulah mereka membuang limbah minyak kotor itu.

Mungkin saja ada yang memang pura pura lego jangkar diperairan Batam dan Bintan secara formal.

Ada juga yang lego jangkar secara gelap dengan tujuan hanya berak limbah minyak.

Ini bisa terjadi karena mereka sudah membaca kelemahan sistem pengawasan kita di paut oleh para pelaku pencemaran.

Atau jangan-jangan banyak oknum tertentu yang picing mata karena sudah “cincai”.

Bisa jadi pula banyak oknum tertentu jadi makelar tau pakang limbah B3.

Menjadikan Batam dan Bintan menjadi kuburan besar limbah beracun.(red-1)

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Batam-Bintan Menjadi Hamparan Limbah Minyak

Berita Selanjutnya

Bak Sutradara Membriefing Bawahan Menjadi Presenter Handal

Berita Selanjutnya
Irjen Pol Andap Budhi Revianto, Kapolda Kepri yang Egaliter (Bagian 2)

Bak Sutradara Membriefing Bawahan Menjadi Presenter Handal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com