BatamNow.com – Mesin x-ray di Pelabuhan Feri Internasional (kedatangan) Batam Center diperkirakan sudah hampir sebulan tak dioperasikan.
Belum diperoleh keterangan apakah karena rusak atau ada faktor lain.
Kepala Seksi Layanan Informasi/ Humas Kantor Bea Cukai Batam, Ricky Mohamad Hanafie mengatakan akan mengecek kepastiannya. “Terima kasih masukannya, akan kami cek,” jawabnya ketika dikonfirmasi BatamNow.com, Senin (28/11/2022) siang.
Namun hingga pukul 17.40 belum ada lagi jawaban dari Ricky.
Sumber media ini di pelabuhan itu enggan membocorkan mengapa mesin x-ray tersebut tak dioperasikan. Apakah karena rusak atau faktor lain.
Meski begitu, dia membenarkan sudah hampir sebulan mesin itu tak diaktifkan.
Namun dia juga heran karena menurut pengakuannya beberapa pejabat teras di BP Batam sering wara-wiri dari pelabuhan itu sekembali dari Singapura.
“Tak paham juga kita, kenapa tak ada teguran dari para pejabat BP Batam itu karena mereka tahulah tak dioperasikan,” ujarnya.

Mesin x-ray sebagaimana lazimnya salah satu sistem elektronik pengawasan barang bawaan penumpang dan pemeriksaan fisik penumpang.
Mesin x-ray inilah yang utama secara otomatis memberi kode serta mengawasi barang bawaan yang dianggap perlu didalami pemeriksaannya. Hal ini untuk membantu petugas dalam mendeteksi barang-barang yang dilarang maupun berbahaya.
Di pelabuhan penumpang di Singapura mesin pengawas yang sama tak pernah tidak aktif begitu penumpang luar negeri (LN) melewati gate pemeriksaan.
Namun di Batam mesin pemeriksaan ini hampir sebulan tak aktif.
Sementara isu yang sedang hot kini dimana Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) baru-baru ini tengah menyoroti lalu lintas gelap uang secara besar-besaran dari Singapura-Indonesia, baik rupiah maupun dalam bentuk dolar.
Pelabuhan internasional yang begitu banyak di Kota Batam diduga keras salah satu pintu keluar-masuk uang rupiah dan dolar.
Kepala PPATK Ivan Yustiavandana mengungkapkan bahwa banyak orang Indonesia yang pergi ke Singapura membawa koper kosong dan nantinya diisi uang yang ditukarkan melalui supermarket di salah satu mal di Singapura.
“Potensi uang masuk itu Rp 12 triliun yang tidak dilaporkan pada tahun 2018 dan sekitar Rp 3 triliun pada 2019 yang tidak dilaporkan,” kata Ivan.
Lalu bagaimana mendeteksi di pelabuhan jika mesin x-ray-nya tidak aktif, kecuali dengan pemeriksaan manual. (*)

