BatamNow.com – Lengkap sudah derita warga Batam yang terdampak matinya aliran air minum perpipaan SPAM Batam dalam beberapa hari ini.
Sudah tak mendapat air minum berbayar lewat suplai SPAM Batam, warga pun diimbau Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi untuk tidak mengonsumsi air kubangan dan air hujan.
Alasan Didi di balik imbauan itu karena air kubangan dan air hujan belum tentu memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Terutama air hujan yang ditampung melalui atap rumah.
Didi menjelaskan, air layak dikonsumsi jika memenuhi tiga persyaratan yakni fisik, kimia, dan biologi.
Syarat fisik: air itu harus tampak jernih, tidak berbau, dan tidak berasa. Syarat kimia: air tidak mengandung zat berbahaya. Sedangkan syarat biologi adalah tidak mengandung kuman berbahaya.
Kata Didi kalaupun air itu bersih, dan tidak berbau serta tawar, secara fisik memenuhi, tapi secara kimia dan biologi tidak bisa dijamin.
Namun Didi, tampaknya, tak memberi solusi bagaimana caranya warga untuk mendapat air minum kehidupan yang sehat dan terjangkau selama suplai dari SPAM Batam terhenti berhari-hari.

Pantauan BatamNow.com sejauh ini belum dapat dipastikan apakah air kubangan yang bersumber dari air hujan itu memang digunakan warga untuk keperluan minum dan memasak makanan atau hanya keperluan sanitasi dan mencuci.
Ihwal warga Batam di beberapa kawasan perumahan menggunakan air kubangan bekas galian tambang dan air hujan lantaran suplai air minum dari SPAM Batam, mati berhari-hari.
Sekadar referensi, di Singapura jika muncul kasus seperti yang dialami warga terdampak, pemerintah di sana memberi kompensasi atas hak warga sesuai ketentuan perundang-undangan.
“Ya mendapat kompensasi dari pemerintah itu sangat jelas aturannnya antara hak dan kewajiban penyedia air minum dengan konsumen,” kata Erick yang merupakan Long-Term Pass Holders Singapore itu.
“Tapi yang saya tahu, sangat-sangat jarang ada masalah suplai dari pengelola SPAM di Singapura, apalagi dengan masif. Masa sekelas Singapura masih dicekokin dengan tetekbengek suplai air minum, malu dong pemerintahnya dan apa kata dunia,” kata Erick seperti mencibir yang lain.
Sementara bila melihat kondisi di Batam, manakala warga pelanggan SPAM Batam telat bayar rekening tagihan sehari saja, langsung didenda. Padahal kebutuhan standar volume air minum yang didapat kerap tak mencukupi apalagi kala aliran pipa mati.
Sebaliknya jika terjadi kesalahan pengelola SPAM Batam atas kewajibannya tak ada sanksi administrasi, justru warga yang menanggung derita akibat aliran air minum mati.
Dan sialnya lagi, imbauan mengonsumsi air hujan muncul, padahal itulah salah satu alternatif alami bagi warga karena membeli air kemasan terbatas dan relatif dengan harga mahal.
Batam kini tengah berjujan-hujan kala SPAM Batam tengah “tidur-tiduran”. Air dam meluap “mengalir sampai jauh entah kemana”. (red)

