BatamNow.com – Dalam satu perjalanannya dengan menumpang kereta api cepat di Cina, Dahlan Iskan disuguhi berbagai jenis makanan instan.
Maklum dengan perjalanan 14 jam biasanya para penumpang mempersiapkan bekal di kereta api. Naik kereta api dari Beijing ke Chang Jiang.
Di kereta api, Dahlan pun disuguhi temannya makanan instan dalam saset (kotak).
Dari packaging-nya terlihat seperti mie instan. ”Untuk sarapan besok pagi,” kata temannya itu.
Bangun pagi, begitu tulis Dahlan Iskan di laman Disway-nya, kereta sudah sampai di kota Jiujiang. Kota indah di pertemuan antara bengawan Yangtze (Chang Jiang) dengan untaian danau. Ini sungai berdanau-danau. Atau sebaliknya.
Tibalah waktunya sarapan.
“Saya lihat mie instan itu. Saya perhatikan baik-baik tulisannya. Ternyata bukan mie. Ini apa?” tanya Dahlan.
Makanan di saset kotak itu nasi. Lauknya kare. Bisa dipilih: kare ayam atau daging sapi. “Dia menyodorkan dua pilihan itu. Yang ini untuk saya,” kata temannya.
Di dalam kotak itu masih berupa beras. “Saya harus memasaknya dulu untuk menjadi nasi. Masak nasi di kereta api,” tulis Dahlan.
Di beberapa saset tak hanya berisi beras. Ada saset berisi kare daging, irisan kentang dan wortel. Ada saset berisi sayuran kering. Ada dua saset berisi air.
Menurut Dahlan, isi beberapa saset itu ada yang jadi kompornya.
Saset yang berfungsi sebagai ”kompor” itu jangan dibuka. Ada tulisan di luarnya: jangan dimakan.
Saset ”kompor” ini harus ditaruh di bagian paling bawah kotak. Lalu air satu saset dituangkan. Sesaat kemudian air itu mendidih. Beras dituang ke kotak kecil. Diberi air dari saset kedua. Karenya ditaruh di kotak sebelah beras. Sayur kering ditabur di atas kare.
Kotak pun ditutup. Air mendidih. “Kotaknya saya pegang: panas sekali,” sebut Dahlan. Uap didih keluar dari lubang kecil di penutup kotak. Sekitar 12 menit kemudian tidak ada uap lagi. Pertanda nasi sudah masak.
“Saya buka tutup kotak itu. Uap mengebul. Masih panas. Nasi panas. Kare panas. Merangsang selera makan pagi setelah satu malam kedinginan,” sebut Dahlan lagi.
Ia sebut nasinya pulen sekali. Seperti nasi Jepang. “Saya tahu: ini berasnya pasti dari Tiongkok bagian Dongbei. Jagung ketan pun awalnya dari provinsi Heilongjiang dan sekitarnya.”
Rasa karenya, menurut Dahlan, sudah disesuaikan dengan lidah Tiongkok. Tidak terlalu menyengat –seperti di tempat asalnya, India. Banyak orang Tiongkok kini sudah suka kare.
Itulah, sebut Dahlan, sarapan seharga sekitar Rp 50.000 di negeri Tirai Bambu. Menanak beras menjadi nasi yang dibungkus dalam saset dan jenis makanan instan lainnya tak perlu dengan kompor biasa.
Ada bahan dalam saset sebagai kompor: saset kompor. (red)
Sumber: Disway.id

