BatamNow.com – Warga Rempang yang kukuh menolak relokasi, menantang BP Batam untuk transparan membuka data jumlah KK yang diklaim telah setuju digeser dari kampung terdampak PSN Rempang Eco-City.
Apalagi kata warga, ada publikasi menuding bahwa hanya sebagian kecil masyarakat Rempang masih menolak proyek strategis nasional (PSN) itu.
“Seperti saat ini pendataan yang tersebar di beberapa media mengatakan warga Rempang yang setuju relokasi sudah banyak, yang tak setuju sedikit. Tapi berani nggak BP Batam mengadu data sama kami masyarakat Pulau Rempang. Tolong buktikan data-data tersebut,” kata perwakilan warga Rempang.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi bersama digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Rempang, pers, civil society organization (CSO), di Batam pada Senin (08/07/2024).

Warga Rempang yang kukuh menolak relokasi, ingin BP Batam merincikan jumlah sebenarnya KK yang setuju direlokasi dan berasal dari 5 kampung terdampak tahap pertama pengembangan Rempang Eco-City.
“BP Batam jangan cuma berani mengklaim saje bahwa masyarakat Pulau Rempang banyak setuju. Berapa setuju? Siapa nama die? Dari kampung mana-mana saje?” tanya warga.
“Jangan disebutkan warga Rempang banyak setuju tapi yang setuju itu di luar kami yang terdampak ini ada 5 kampung. Ingat itu. Sampai sekarang BP Batam tidak ada mengeluarkan itu, kami kecewa di situ,” lanjutnya.
Dia mencontohkan, pada pergeseran sebelumnya ada 3 KK digeser dari Kampung Sembulang Hulu. Tapi mereka warga asli yang sudah berpuluh tahun tinggal di sana hanya kenal 1 KK saja.
“Jadi kalau mau bikin data itu, BP Batam tolonglah bertanggung jawab tentang data itu, jangan asal bikin, asal bicara, asal dimediakan, kami kecewa,” tukasnya.
Senada, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Riau, Boy Jerry Even Sembiring juga meminta agar BP Batam transparan atas muasal jumlah KK ssetuju digeser yang diklaim sudah mencapai 300 lebih.
“Kami sangat terbuka kalau BP Batam mau buka data itu dan kami yakin masyarakat sangat terbuka untuk beradu data dengan BP Batam,” kata Boy, Senin kemarin.

“Jangankan soal KK, soal identifikasi pribadi per pribadi kami pun berani untuk membuka datanya,” tambahnya.
Menurut Walhi, data BP Batam itu seharusnya dijelaskan apakah jumlah KK setuju digeser dari 5 kampung terdampak pertama atau dari keseluruhan 16 kampung di Rempang.
“Jangan-jangan ada yang dari Galang juga. Karena kan data yang 300-an itu kalau kita ingat di sekitar 7 atau 11 September BP Batam bilang ada 300-an, nah sekarang 300-an juga. Nah mereka masih pakai data yang seluruh Rempang atau yang 5 kampung tua. Itu yang harus mereka pertegas,” terang Boy.

Sebelumnya, pengembangan Rempang disebut akan berdampak pada 16 kampung yang ada di Pulau Rempang, Galang.
Namun menyusul kerasnya penolakan dari warga Melayu bahkan lewat aksi demonstrasi, rencana pengembangannya diubah dan hanya berdampak pada 5 kampung dahulu.
Kelimanya, yakni Belongkeng, Pasir Panjang, Sembulang Tanjung, Sembulang Pasir Merah, dan Sembulang Hulu.
Hingga saat ini, masih banyak warga Rempang yang menolak relokasi/pergeseran, dampak Rempang Eco-City.
Sikap kukuh penolakan disampaikan warga lewat berbagai aksi. Mulai dari unjuk rasa, orasi dengan obor dan pelita di malam Iduladha, pembentangan spanduk di perairan Rempang, dan sebagainya.
@batamnow Di Malam Iduladha, Warga Rempang Bersumpah Tolak Penggusuran Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #bpbatam #muhammadrudi #fyp #fypシ #fypシ゚viral #jokowidodopresidenkita #jokowidodo #rempangecocity #rempanggalangtanahmelayu #ham #komnasham #rempanggalangtanahmelayu ♬ Takbiran – Nursilian
Data BP Batam 1 Juli: 126 KK Digeser
Data BP Batam per 1 Juli 2024, baru 126 Kepala Keluarga (KK) setuju direlokasi dan sudah digeser ke hunian sementara sambil menunggu dibangun rumah relokasi.
Belum ada data terbaru BP Batam mengenai total KK setuju direlokasi termasuk yang belum digeser ke hunian sementara. Kecuali pada 19 Juni disebut totalnya ada 386 KK setuju digeser dari kampungnya.
Sedangkan untuk tahap pertama Rempang Eco-City di atas lahan 2.370 hektare, disebut akan berdampak kepada 821 KK. Jumlah ini berkurang setelah dilakukan verifikasi oleh tim, dari awalnya disebut berjumlah 961 KK.
Ketika dikonfirmasi, Selasa (09/07), Kepala Biro Humas BP Batam Ariastuty Sirait belum merespons ketika ditanya terkait rincian jumlah KK setuju direlokasi yang berasal dari 5 kampung terdampak. (D)
