BatamNow.com – Heboh, sehari setelah diresmikan Kepala BP Batam Muhammad Rudi.
Kini, jembatan layang atau flyover bernama Laksamana Ladi menuai polemik panas, di tengah publik Batam atau Kepri.
Bukan saja peresmian jembatan layang yang terkesan dipaksakan itu dikritisi media namun pemberian nama Laksamana Ladi pun ramai dipertanyakan karena diduga tak punya landasan sejarah atau tak beralasan.
Apalagi tak patut disebut nama Laksamana Ladi punya benang merah dengan Kesultanan Melayu Riau – Lingga.
Adalah Lembaga Adat Melayu (LAM), Kepri -Batam yang mempermasalahkannya lewat satu rapat yang mereka lakukan dan akan tabayun dengan BP Batam.
LAM meminta BP Batam agar meninjau ulang pemberian nama yang, menurut mereka, nama itu tak ditemukan dalam literasi maupun sejarah Kerajaan Riau Lingga.

Lalu siapa sebenarnya yang merekomendasikan nama Laksamana Ladi ke BP Batam?
Sebagaimana sesaat peresmian pada Selasa (31/12/2024), Muhammad Rudi mengarahkan pertanyaan wartawan kepada Komandan Lantamal (Danlantamal) IV Batam Laksamana Pertama (Laksma) TNI Tjatur Soniarto untuk menjelaskan asal usul pemberian nama flyover itu.
Lalu Laksma Tjatur pun menjelaskan singkat ke wartawan bahwa nama Laksamana Ladi adalah disebut seorang bangsawan Melayu-Riau yang menjaga daerah yang kini dinamai Sei Ladi itu, dan melawan Belanda saat masa penjajahan.
Ia mengakui, belum ada referensi literatur terkait perjuangan Laksamana Ladi itu.
“Jadi, manfaat atau kegiatan beliau yang secara referensi tidak ditulis di literatur, tetapi masyarakat kearifan lokal, untuk kegiatan beliau di zaman dulu untuk melawan bangsa Belanda sehingga kita penghargaan dinamakan dari wali kota, Laksamana Ladi, di daerah sini,” jelas Tjatur kepada wartawan di depan tugu Flyover Laksamana Ladi.

Ketika ditanya siapa yang kali pertama mengusulkan nama itu, ia menjawab, “Oleh bapak wali kota”.
Tampaknya rekomendasi pemberian nama itu pun tidak melibatkan para tokoh adat masyarakat Melayu yang terafiliasi dengan lembaga Kesultanan Melayu Riau-Lingga maupun LAM.
Sebelumnya nama yang dimunculkan adalah Lela Bahari, dan pun diduga sudah sempat dicetak markah 3 dimensinya untuk dipasang di tugu flyover itu.
Amatan BatamNow.com, di hari peresmian, terlihat beberapa markah huruf 3 dimensi teronggok tak beraturan di bawah flyover. Susunannya dapat dikombinasikan membentuk frasa “LELA BAHARI”.

Tapi tetiba muncul nama Laksamana Ladi yang kini ramai disoal dan menjadi polemik panas di tengah masyarakat Batam.
Sebagaimana running news BatamNow.com, pelaksanaan peresmian jembatan layang itu seperti dipaksakan.
Hal itupun dapat dimaknai dari pidato Muhammad Rudi saat peresmian yang dihadiri jajaran Lantamal Batam dan dari instansi lainnya. “Pada kesempatan yang sangat baik ini karena mungkin tidak ada waktu lagi untuk meresmikan karena akhir jabatan kami mungkin di awal, bisa Januari bisa Februari, untuk serah terima,” ujarnya.
Sebelum diresmikan pada Selasa pagi sekitar pukul 10.00, pengerjaan proyek itu terlihat sangat dikebut dan salah satu yang terlihat pada pengecoran ruas 1 dengan ready mix yang dilakukan pada dini hari itu.
Dan pengerjaan keseluruhan proyek pun masih terlihat belum rampung hingga peresmian.
Bahkan dalam pesan pidato Muhammad Rudi saat peresmian, bahwa penggunaan ruas 1 jembatan itu belum bisa dilalui kendaraan bermoror size besar, kecuali dua minggu ke depannya.
Sementara kendaraan bermotor dengan size kecil dibolehkan.
Namun sesaat setelah rombongan Muhammas Rudi berangsur dari areal flyover, pelaksana proyek tak kunjung membuka ruas 1 untuk dilalui kendaraan bermotor size mana saja.
Alasan pengawas karena jalan ruas 1 belum diaspal.
@batamnow Usai seremoni peresmian dan wawancara dengan Kepala BP Batam, wartawan media ini menggunakan sepeda motor mencoba melintasi flyover yang menjadi ruas 1 penghubung Tiban ke Simpang Laluan Madani itu. Ternyata, pangkal flyover di seberang Universitas Internasional Batam, masih belum boleh dilewati kendaraan, bahkan sepeda motor. Terlihat juga terpasang garis pembatas pada akses masuk jembatan layang itu dan marka jalan mengalihkan ke ruas jalan di sisi kiri. Menurut pekerja di proyek tersebut, masih dilakukan pekerjaan pengaspalan pada Flyover Laksamana Ladi. “Belum boleh pak, masih ada pengaspalan,” katanya. Lalu kapan Flyover Laksamana Ladi yang sudah diresmikan itu boleh dilintasi kendaraan dan terbuka untuk masyarakat umum? “Mungkin besok,” jawabnya. Selanjutnya awa media ini mengecek pada bagian ujung flyover itu, di dekat SPBU Sei Ladi. Terlihat, alat berat berupa asphalt finisher dan tandem roller tengah mengerjakan pelapisan aspal di atas struktur beton pada Flyover Laksamana Ladi. Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #fyp #fypシ #flyoverseiladi #seiladi #flyoverlaksamanaladi ♬ Funny video “Carmen Prelude” Arranging weakness(836530) – yo suzuki(akisai)
Tapi, menurut pekerja di areal flyover, tetiba datang perintah dari BP Batam agar membuka lebar akses masuk kendaraan bermotor pada sore hari, setelah disorot media, termasuk BatamNow.com.
Imbas dari penyelesaian pengerjaan konstruksi jembatan yang seperti “kejar tayang” itu terlihat pada Rabu (01/01/2025) pagi, ada yang berlubang dan terkupak.
Hingga kini, finishing proyek berbiaya Rp 132 miliar itu masih terlihat dikerjakan oleh entitas BUMN Wika Karya.
Peresmian terkesan dipaksakan, pemberian nama flyover pun tengah dipermasalahkan. (A/red)

