BatamNow.com – Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, kini sedang menghadapi lonjakan jumlah pasien cuci darah atau hemodialisa. Musababnya, disebut karena keterbatasan sarana alat untuk prosedur hemodialisis.
Saking banyaknya, sehingga penderita tidak bisa masuk daftar antrean yang akhirnya terpaksa dirujuk ke RS lain untuk mendapatkan penanganan cepat.
Menurut sumber terpercaya BatamNow.com saat ini RSBP hanya mempunyai 10 unit mesin hemodialisa.
BP Batam sudah mengupayakan menambah pengadaan 32 unit sarana hemodialisa.
Namun, proses pengadaan itu dihentikan meski sudah ada tiga perusahaan asal Kota Jakarta, yang menjadi calon mitra yang lolos prakualifikasi pada 1 Desember 2024.
Disebut, alasan mandeknya pengadaan alat cuci darah itu diduga terbentur pada proses rencana masuknya PT Karunia Praja Pesona (KPP), grup Mayapada Healthcare, menjadi pengelola baru RSBP Batam.
Meski perjanjian kerja sama pengembangan operasional (KSPO) tak kunjung ditandatangani yang seyogianya pada 15 Januari 2025.
Permasalahan tersebut telah disoroti oleh beberapa akademisi ataupun pengamat di Kota Batam, kini.
Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kota Batam yang juga merupakan alumnus Institut Kesehatan Mitra Bunda (IKMB) Batam Fakultas Farmasi Kesehatan, May Shine Debora Panaha, ikut menyoroti persoalan tersebut.
“Kesehatan harusnya menjadi program prioritas untuk menciptakan kekuatan SDM yang cerdas tangguh, sehingga juga dapat produktif membantu negara/pemerintah,” kata May Shine kepada BatamNow.com, Kamis (23/01/2024).
May Shine juga menyayangkan kinerja Kepala BP Batam, yang terlihat seperti ‘berleha-leha’ terhadap urusan keselamatan dan kemanusiaan. Ia meminta agar Badan Layanan Umum (BLU) itu segera memprioritaskan pengadaan untuk menambah alat cuci darah di RSBP Batam.
“Dalam hal ini, kami menyayangkan kerja Kepala BP Batam yang terlihat ‘berleha-leha’ terhadap urusan keselamatan masyarakat dan kemanusiaan. Kami minta BP Batam segera bertindak penuhi fasilitas alat kesehatan tersebut sebelum adanya jatuh korban dari kelalaian mereka,” ujarnya.
Kata May Shine lagi, seharusnya pengelolaan BP Batam jangan cuma fokus pada pembangunan infrastruktur yang terkesan hanya menciptakan ‘halusinasi’.
“Dengan segala pendapatan dari pengelolaan BP Batam, hanya fokus pada pembangunan infrastruktur yang kelihatannya hanya menciptakan halusinasi kekaguman masyarakat pada dirinya,” tegas May Shine. (A)

