BatamNow.com – Kekhawatiran akan penurunan ekspor dari Batam ke Amerika Serikat akibat kebijakan resiprokal Presiden Donald Trump ternyata tidak terbukti.
Sebaliknya, ekspor barang dari Batam justru mengalami lonjakan signifikan hingga 200 persen.
Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (BC) Batam, Zaky Firmansyah, mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan masa penundaan tarif 32 persen yang dikenakan kepada Indonesia, permintaan terhadap produk ekspor dari Batam meningkat pesat.
“Dalam periode tersebut, produksi barang ekspor yang biasanya mencapai 100 unit, kini meningkat dua kali lipat di saat tarifnya masih ditahan,” ujarnya, kepada tim redaksi BatamNow.com, Senin (05/05/2025) di kantornya.

Dijelaskan, produk-produk yang mengalami peningkatan permintaan antara lain perangkat elektronik rumah tangga dan industri, dengan merek-merek ternama seperti Philips yang permintaannya melonjak tajam.
Zaky menambahkan bahwa meskipun ada peningkatan permintaan, tantangan utama yang dihadapi adalah kelancaran pasokan bahan baku impor dari rantai pasok bahan baku ke Batam dari Cina, Singapura, Jepang, Taiwan, Malaysia, Korea Utara, dan Amerika Serikat.
“Jika produksi meningkat namun impor bahan baku dari luar Batam terlambat, itu akan menjadi masalah,” tegasnya.
Langkah Strategis Bea Cukai Batam
Untuk mengatasi tantangan tersebut, BC Batam mengambil langkah proaktif dengan menjalin komunikasi intensif dengan perusahaan-perusahaan penghasil 10 komoditas unggulan ekspor.
Zaky menjelaskan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan tim nasional yang melakukan negosiasi dengan pembeli di Amerika Serikat.
Selain itu, BC Batam juga memastikan kelancaran proses impor bahan baku dan ekspor barang jadi, serta mengatasi hambatan terkait sistem yang dapat mengganggu kelancaran operasional.
Dalam mekanisme ekspor-impor, Zaky mengidentifikasi tiga kendala utama dalam sistem, yaitu downtime sistem, proses maintenance, dan akses yang terbatas pada hari libur.
“Kami berupaya untuk memastikan bahwa meskipun ada hambatan teknis, proses ekspor dan impor tetap berjalan lancar,” ujarnya.
BC Batam juga memberikan prioritas kepada industri dalam proses pemeriksaan jalur merah untuk memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi barang jadi.
Zaky juga menyoroti tantangan terkait tarif impor yang masih tinggi, yaitu 32 persen, dibandingkan dengan negara-negara pesaing seperti Thailand (36 persen) dan Vietnam (46 persen).
Namun, ia menekankan bahwa efisiensi operasional menjadi kunci untuk tetap kompetitif. “Meskipun tarif kita lebih rendah, jika efisiensi operasional kita tidak optimal, itu akan menjadi masalah,” katanya.
BC Batam terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi melalui pengembangan sistem logistik dan koordinasi antarinstansi.
Komitmen untuk Meningkatkan Ekspor
Zaky tegaskan lagi, bahwa BC Batam berkomitmen untuk mendukung peningkatan ekspor dan menjaga ekosistem industri di Batam.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk memastikan bahwa Batam tetap menjadi hub industri dan perdagangan yang kompetitif di Asia Tenggara,” ujarnya.
Ia tambahkan lagi, dengan langkah-langkah strategis yang diambil, BC Batam optimis dapat menjaga dan meningkatkan kinerja ekspor Batam ke Amerika Serikat di tengah dinamika perdagangan global yang terus berkembang.
Dalam menghadapi persaingan perdagangan global, BC Batam juga mendorong perusahaan-perusahaan di Batam untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk.
“Inovasi dan kualitas produk adalah kunci untuk memenangkan persaingan di pasar internasional,” tambah Zaky.
Dengan dukungan penuh dari BC Batam, diharapkan ekspor Batam ke Amerika Serikat akan terus meningkat dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Adapun 10 komoditi ekspor Batam-Amerika yang perlu diwaspadai terkait kebijakan tarif resiprokal Trump;
1. Bagian elektrik dari mesin
2. Perangkat telepon, audio, video, penyiaran & bagiannya
3. Peralatan elektris rumah tangga & industri
4. Produk kakao
5. Motor & transformator listrik
6. Bermacam macam barang hasil listrik
7. Tekstil dan barang tekstil
8. Perkakas & produk logam lainnya
9. Produk dari batu, keramik, & kaca
10. Produk dari kulit (tas dan sejenisnya). (H/A/Red)

