BatamNow.com – Kondisi fisik Dermaga Selatan Pelabuhan Batu Ampar Batam kini memprihatinkan karena diperkirakan sudah hampir dua tahun amblas, namun tak kunjung diperbaiki.
“Lihat aja sendiri lah bagaimana kondisi sebenarnya,” kata para sopir truk sambil menunjuk ke dermaga yang amblas itu.
Dermaga amblas ini sudah beberapa kali diberitakan media ini. Kondisi memprihatinkan itu persisnya di antara siku timur dengan selatan di posisi laluan kendaraan keluar masuk pelabuhan.
Masuk dari pintu gerbang utama autogate system yang dibangga-banggakan BP Batam itu, dan belok ke kiri masuk ke dermaga, terlihat jelas di posisi kanan konstruksi dermaga terbiarkan amblas menganga.
Kondisi amblasnya konstruksi dermaga mencapai panjang sekitar 40 meter dari lebih kurang 600 meter dan kedalaman mencapai hampir 1,5 meter dan kini mulai melebar.
Bukan saja hanya dengan amblasnya konstruksi bangunan, tapi jalan rute keluar masuk kontainer terlihat mulai kupak-kapik apalagi di saat hujan.
“Kami terganggu menyetir truk maupun trailer kontainer keluar masuk pelabuhan, tapi sudah dua tahun tak ada perbaikan,” kata beberapa sopir truk yang tak mau ditulis namanya.

Kualitas Pelabuhan Batu Ampar Sedikit di Atas Primitif
Apa yang dikeluhkan para sopir ini, hampir mengingatkan apa yang disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Sitorus pada Juni 2024 lalu, bahwa kualitas Pelabuhan Batu Ampar sedikit di atas primitif.
Rombongan DPR RI kala berkunjung ke pelabuhan itu melihat belasan crane manual masih beroperasi dan kondisi pelabuhan secara keseluruhan dilihat jauh dari modern.
Ironisnya, meski kondisi amblasnya dermaga sudah hampir dua tahun dan sudah dua kali dalam rentang waktu yang tak jauh, namun hingga kini tak ada perbaikan.
Sementara pelabuhan ini adalah pelabuhan kargo utama di Batam.
Catatan BatamNow.com, pada peristiwa ambruk sebelumnya, BP Batam melakukan perbaikan dermaga itu dengan waktu yang tergolong cukup lama. Dikerjakan sejak Oktober 2020 oleh PT Kharisma Multi Jaya, perusahaan dari Jawa Timur dengan anggaran Rp 21 miliar.

Namun diperkirakan sejak tahun 2023 lalu, dermaga ini amblas lagi.
Banyak pihak berharap dan menyampaikan hendaknya Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra segera mengatensi ke pelabuhan jangan hanya melakukan inspeksi ke Dermaga Utara PT Persero Batam sebagai pengelola Terminal Peti Kemas yang didukung 5 STS crane.
“Kondisi amblasnya dermaga ini sangat memalukan dimana pelabuhan ini kerap didengungkan dapat bersaing dengan Singapura,” kata Ahmadi SE, pemerhati pelabuhan.
Untuk itu para pihak banyak berharap ke Li Claudia Chandra agar segera mengaudit dermaga selatan karena selain memperlambat arus keluar masuk kargo ke pelabuhan juga berpotensi membahayakan.
Mengapa Li Claudia Chandra yang diminta mengatensi?
Bukan tanpa sebab, dimana minggu lalu atau tepatnya Senin (19/05/2025), Li Claudia Chandra melakukan inspeksi ke Dermaga Utara, Pelabuhan Terminal Peti Kemas (TPK) yang dikelola PT Persero Batam.
Tapi kedatangan Li Claudia Chandra ke pelabuhan tak melakukan inspeksi yang sama ke dermaga selatan yang amblas.
“Mungkin ibu belum dapat laporan tentang amblasnya dermaga itu,” ujar seorang sopir truk trailer peti kemas.
Sederet pejabat ikut dengan rombongan, antara lain Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safruddin dan jajarannya seperti Dirreskrimsus Kombes Silvester Mangombo Simamora.
Disebutkan bahwa kunjungan mereka dalam rangka meninjau kedatangan 4 STS Crane yang kabarnya sempat disegel BC Batam.
Entah apa alasan STS Crane dari Cina itu disegel BC, namun dikabarkan bahwa pada hari keempat akhirnya diberi “lampu hijau” oleh BC untuk dibongkar dari atas kapal Zen Hua 37 yang membawanya dari Cina. (Red)

