BatamNow.com – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyampaikan rencana transformasi pengelolaan Bandara Internasional Hang Nadim saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Senayan, Rabu (09/07/2025).
Menurut Amsakar, Bandara Hang Nadim kini telah memasuki tahun ke‑4 pengelolaan berbasis kontrak konsesi oleh PT Bandara Internasional Batam (BIB).
Dalam penjelasannya, sepertinya lebih baik dikelola sendiri karena BP Batam adalah badan pengusahaan.
Lalu apa yang mendorong BP Batam akan mengelola kembali bandara ini kurang jelas diungkapkan Amsakar dalam RDPU karena ia tak mau membahas masa lalu.
Padahal masa kontrak konsesi bandara antara BP Batam dengan PT BIB terikat selama 25 tahun dan hampir empat tahun sudah dijalani sejak 1 Juli 2022.
Begini kutipan penjelasan Amsakar tentang transformasi untuk tata kelola bandara dalam RDPU itu: “Bandara ini sudah masuk tahun ke 4, transformasi dari BUBU (badan usaha bandar udara) menjadi BIB (Bandara Internasional Batam). Itu konon ceritanya Inceon ada di dalamnya, konon ceritanya Angkasa Pura ada di dalamnya, konon ceritanya Wijaya Karya ada didalamnya, tiga konsorsium, konsorsium itu ditopang oleh tiga , tapi pada prakteknya hari ini…, singkatnya saya tak usah bahas, kami tidak juga suka mempersoalkan masa lalu, pak. Kami sedang ingin memperbincangkan masa depan. Lebih bagus, kita tata ulang soal di bandara ini dan itulah antara lain kami butuh support pendanaan seperti angka yang kita sudah bahas”.
@batamnow Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, membahas transformasi tata kelola bandara serta pelabuhan laut di Batam dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Rabu (09/07/2025). Menjawab pertanyaan anggota Komisi VI, Mufti Anam, Amsakar menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi besar yang tengah dilakukan BP Batam. Soal bandar udara, menurutnya, sudah hampir empat tahun ini pengelolaan Bandara Intetnasional Hang Nadim beralih dari Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) BP Batam ke konsorsium yang membentuk PT Bandara Internasional Batam (BIB). Konsorsium BIB dibentuk oleh Angkasa Pura I dengan kepemilikan saham 51 persen, Incheon International Airport Corporation (IIAC) 30 persen, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 19 persen. Amsakar enggan mengungkap detail alasan yang menjadi musabab rencana tata ulang pengelolaan bandara Batam. Tapi Kepala BP Batam yang baru menjabat sekitar empat bulan itu, menyinggung soal tak ingin mempersoalkan masa lalu. “Konsorsium itu ditopang oleh tiga. Tapi pada praktiknya hari ini, singkatnya saya tak usah bahas, kami tidak juga suka mempersoalkan masa lalu, Pak. Kami sedang ingin memperbincangkan masa depan. Lebih bagus, lebih bagus kita tata ulang soal di bandara ini,” ujar Amsakar dalam RDP, Rabu (09/07). Ia menambahkan bahwa BP Batam membutuhkan dukungan pendanaan untuk mewujudkan transformasi tersebut. Transformasi Pengelolaan Pelabuhan Laut Selain bandara, BP Batam juga tengah menyiapkan langkah untuk tata kelola pelabuhan laut. Amsakar menuturkan, saat ini pelabuhan dikelola oleh satu badan usaha yang pendanaannya bukan mandiri, justru memperolehnya dari berbagai sumber. “Kita punya pelabuhan lalu kita kerjasamakan dengan satu badan usaha. Badan usaha ini juga harus mencari pinjaman dari berbagai daerah, dari berbagai sumber termasuk dana reksa apa reksa dana, nah terbalik-balik,” katanya. “Setelah kita pelajari, kenapa enggak BP Batam saja yang kelola? Nggak ada manfaatnya, Pak. Namanya badan pengusahaan, boleh kita berusaha kok,” lanjut Amsakar. Saat ini, lanjutnya, BP Batam sedang dalam proses pembahasan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) untuk pengambilalihan pengelolaan pelabuhan tersebut. “Akan kita ambil alih dan sekarang dalam tahap sedang membahas MoU dan PKS-nya. Mudah-mudahan ini akan selesai,” ungkapnya. RDP Komisi VI ini membahas laporan keuangan, RKA, dan RKP dengan tiga mitra, salah satunya BP Batam. Hadir juga Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, ketujuh Deputi/ Anggota Bidang BP Batam, serta beberapa direktur di jajarannya. Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #fyp #fypシ #fypシ゚viral ♬ original sound – BatamNow.com
Diksi “konon” dalam narasi Amsakar memantik pertanyaan publik.
“Mengapa Amsakar menggunakan diksi ‘konon’ dan tidak menyampaikan secara gamblang soal struktur konsorsium dan kendala yang dihadapi kekinian?” kata pemerhati kebijakan publik, Ahmad Sandri SSos.
Tentu, ujarnya, Amsakar dipastikan tahu siapa saja konsorsium PT BIB. “Itu semacam sindiranlah menurut aku,” ujar Ahmad.
Sementara Ketua DPP Kepri LI-Tipikor, Panahatan SH, menilai penggunaan kosa kata “konon” sepertinya indikasi adanya masalah krusial dalam pelaksanaan pengelolaan KPBU selama empat tahun terakhir.
Penelusuran BatamNow.com, ruang lingkup konsesi adalah renovasi Terminal I, pembangunan Terminal II & terminal kargo, serta pemeliharaan infrastruktur.
Sementara proyek pembangunan Terminal II, tak kunjung dilaksanakan meskipun peletakan batu pertama (groundbreaking) dilakukan Kepala BP Batam sebelumnya, Muhammad Rudi, pada 30 Mei 2024.

Adapun target bandara didesain melayani hingga 9,6 juta penumpang.
Tapi didapat informasi, hingga empat tahun berjalan ditangani BIB, baru mencapai ±4 juta penumpang per tahun.
Direktur Utama PT BIB yang baru, Annang Setia Budhi belum dapat dikonfirmasi BatamNow.com. Sedangkan Coporate Secretary PT BIB I Wayan Widana, belum merespons pesan yang terkirim, Kamis (10/07/2025).
Sementara dalam RDPU, BP Batam meminta persetujuan Komisi VI terkait tambahan anggaran sebesar Rp 2,88 triliun untuk tahun 2026 guna mendukung transformasi pengelolan BP Batam, salah satunya bandara. (Red)

