BatamNow.com – Seremoni groundbreaking Terminal 2 Bandara Internasional Hang Nadim Batam telah digelar meriah pada 30 Mei 2024. Namun, hingga pertengahan 2025, belum ada geliat pembangunan fisik di lapangan.
Lahan hijau seluas lima hektare di sisi gudang kargo lama hanya menyisakan satu patok cor semen sebagai penanda awal. Selebihnya, senyap.

PT Bandara Internasional Batam (BIB), yang mengelola proyek ini, berdalih proses konstruksi belum dimulai karena masih menyelesaikan sejumlah tahapan administratif. Targetnya, pekerjaan fisik bisa dimulai pada 2026.
Direktur Utama PT BIB, Annang Setia Budhi, kepada BatamNow.com menjelaskan, bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam agar percepatan pembangunan dapat segera terealisasi.
“Kalau untuk pembangunan, memang belum ada fisik yang terbangun. Tapi groundbreaking sudah dilaksanakan. Inilah yang kami terus upayakan bersama BP Batam, sebagai bagian dari kewajiban kedua belah pihak agar pembangunan bisa dimulai pada 2026,” katanya secara doorstop usai peresmian penerbangan langsung perdana Batam-Jeddah di ruang tunggu keberangkatan Internasional, Sabtu (12/07/2025).
@batamnow Seremoni groundbreaking Terminal 2 Bandara Internasional Hang Nadim Batam telah digelar meriah pada 30 Mei 2024. Namun, hingga pertengahan 2025, belum ada geliat pembangunan fisik di lapangan. Lahan hijau seluas lima hektare di sisi gudang kargo lama hanya menyisakan satu patok cor semen sebagai penanda awal. Selebihnya, senyap. PT Bandara Internasional Batam (BIB), yang mengelola proyek ini, berdalih proses konstruksi belum dimulai karena masih menyelesaikan sejumlah tahapan administratif. Targetnya, pekerjaan fisik bisa dimulai pada 2026. Direktur Utama PT BIB, Annang Setia Budhi, kepada BatamNow.com menjelaskan, bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam agar percepatan pembangunan dapat segera terealisasi. “Kalau untuk pembangunan, memang belum ada fisik yang terbangun. Tapi groundbreaking sudah dilaksanakan. Inilah yang kami terus upayakan bersama BP Batam, sebagai bagian dari kewajiban kedua belah pihak agar pembangunan bisa dimulai pada 2026,” katanya secara doorstop usai peresmian penerbangan langsung perdana Batam-Jeddah di ruang tunggu keberangkatan Internasional, Sabtu (12/07/2025). Bandara Hang Nadim sendiri resmi dikelola oleh PT BIB sejak 1 Juli 2022 lewat skema kerja sama konsesi selama 25 tahun. Konsorsium PT BIB terdiri dari Angkasa Pura I, Incheon International Airport Corporation (IIAC), dan PT Wijaya Karya Tbk. Fokus awal kerja sama ditujukan pada pengelolaan dan renovasi Terminal 1 yang saat ini beroperasi. Namun, rencana pembangunan Terminal 2 menjadi perhatian utama karena digadang-gadang akan mendongkrak kapasitas dan posisi Hang Nadim sebagai hub internasional. Terminal baru ini dirancang berdiri di atas lahan seluas 50.000 meter persegi. Targetnya, dapat menampung hingga 9,6 juta penumpang domestik dan internasional setiap tahun. Proyek ini menelan dana dengan nilai investasi mencapai Rp 2,4 triliun. Pembangunannya dipercayakan kepada PT Wijaya Karya Tbk. Fasilitas yang dijanjikan cukup ambisius: apron baru yang mampu menampung 10 pesawat berbadan lebar, area parkir modern, serta jalur-jalur penerbangan internasional baru. Desain terminal bahkan digarap arsitek asal Korea Selatan dengan konsep artistik yang memadukan bentuk kepakan sayap elang dan ornamen lokal seperti batik Melayu, ikan marlin, dan gonggong. Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, dalam seremoni tahun lalu pernah menyatakan bahwa Terminal 2 akan rampung dan mulai beroperasi pada 2026. Kenyataannya, sampai pertengahan 2025 ini, belum terlihat progres yang berarti di lapangan. Baca Beritanya di BatamNow.com #batamnow #batam #batamtiktokcommunity #batamhits #batamnews #batamisland #batamsirkel #kotabatam #batampunyacerita #semuatentangbatam #galang #rempang #barelang #bpbatam #bandarahangnadim #umrah2025 #fyp #fypシ゚viral ♬ original sound – BatamNow.com
Bandara Hang Nadim sendiri resmi dikelola oleh PT BIB sejak 1 Juli 2022 lewat skema kerja sama konsesi selama 25 tahun. Konsorsium PT BIB terdiri dari Angkasa Pura I, Incheon International Airport Corporation (IIAC), dan PT Wijaya Karya Tbk.
Fokus awal kerja sama ditujukan pada pengelolaan dan renovasi Terminal 1 yang saat ini beroperasi.
Namun, rencana pembangunan Terminal 2 menjadi perhatian utama karena digadang-gadang akan mendongkrak kapasitas dan posisi Hang Nadim sebagai hub internasional.
Terminal baru ini dirancang berdiri di atas lahan seluas 50.000 meter persegi. Targetnya, dapat menampung hingga 9,6 juta penumpang domestik dan internasional setiap tahun.
Proyek ini menelan dana dengan nilai investasi mencapai Rp 2,4 triliun. Pembangunannya dipercayakan kepada PT Wijaya Karya Tbk.

Fasilitas yang dijanjikan cukup ambisius: apron baru yang mampu menampung 10 pesawat berbadan lebar, area parkir modern, serta jalur-jalur penerbangan internasional baru.
Desain terminal bahkan digarap arsitek asal Korea Selatan dengan konsep artistik yang memadukan bentuk kepakan sayap elang dan ornamen lokal seperti batik Melayu, ikan marlin, dan gonggong.
Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, dalam seremoni tahun lalu pernah menyatakan bahwa Terminal 2 akan rampung dan mulai beroperasi pada 2026.
Kenyataannya, sampai pertengahan 2025 ini, belum terlihat progres yang berarti di lapangan.

Trafik Masih Rendah Pasca Pandemi Covid-19
Menurut Annang, salah satu kendala utama yang menghambat percepatan pembangunan adalah rendahnya trafik penumpang pascapandemi Covid-19.
Ia menyebut bahwa operasional penuh PT BIB baru dimulai pada 1 Juli 2022—periode saat dunia penerbangan masih dibayangi efek pandemi.
“Pada 2023 dan 2024, beberapa konsultan ternama dunia seperti ACI (Airports Council International), Yata, dan lembaga-lembaga aviasi lainnya menyebut 2024 sebagai titik balik menuju kondisi sebelum Covid. Namun faktanya, hanya sebagian bandara di Indonesia yang trafiknya berhasil kembali seperti sebelum pandemi,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa trafik penumpang di Hang Nadim saat ini masih berada di kisaran 3,8 juta hingga 3,9 juta per tahun. Angka tersebut masih di bawah capaian 2019, saat jumlah penumpang sempat menyentuh angka 4,2 juta.
“Inilah yang menjadi kendala awal. Dalam proyeksi kami, ketika penumpang sudah lebih dari 4 juta, karena kapasitas Terminal 1 hanya 3,5 juta, maka dari sisi pelayanan tentu menurun. Saat trafik menyentuh angka 5 juta, pembangunan Terminal 2 menjadi keharusan,” ujar Annang.

Meski situasinya belum ideal, Annang memastikan bahwa pihaknya tetap memegang teguh komitmen untuk membangun Terminal 2.
Kapasitas terminal yang dirancang mencapai hampir 10 juta penumpang per tahun, menurutnya, akan tetap menjadi target yang realistis asalkan ekosistem pendukungnya dibangun sejak sekarang.
“Jika target 10 juta penumpang per tahun tidak tercapai, maka investasi besar ini justru akan menjadi beban bagi beberapa pihak, termasuk bagi kami sebagai pengelola. Apalagi setelah 25 tahun masa kerja sama berakhir dan aset diserahkan kembali ke BP Batam, stabilitas bisnis bandara harus terjaga. Kalau trafik tidak naik, maka bangunan Terminal 2 akan menjadi infrastruktur dengan kapasitas rendah dibanding trafik aktual,” paparnya.

Untuk itu, Annang menekankan pentingnya pembangunan ekosistem yang kuat, seperti sektor pariwisata dan logistik yang bisa menunjang aktivitas bandara.
“Kami terus upayakan, bahwa komitmen kami tetap ingin membangun terminal 2 dengan kapasitas 10 juta per tahun,” jelas Annang.
“Tapi dengan trafik yang stabil, dengan ekosistem pariwisata, serta ekosistem logistik harus di bangun dari sekarang, supaya ketika kapasitas tadi sudah tersedia, maka realisasi passengers meningkat ataupun logistik ini akan terus terpenuhi dan kita akan terus bisa melakukan pengembangan,” lanjutnya. (A)

