BatamNow.com – Pacu jalur lomba perahu dayung dengan ikon bocah penari semangat pencetus trend “aura farming” telah viral mendunia.
Ternyata Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, juga punya tradisi yang mirip dengan pacu jalur dari Kuantan Singingi, Riau, itu.
Di Kecamatan Belakang Padang, rutin digelar setiap tahun perlombaan balap perahu mulai dari jenis sampan layar (kolek), boat, hingga ketinting. Selain dari ragam perahu, balapan di perairan Batam ini semakin menarik dengan latarnya siluet gedung pencakar langit di Singapura.
Pada perayaan HUT RI ke-80 tahun ini, seperti biasa, pulau dengan julukan “Pulau Penawar Rindu” itu kembali menyelenggarakan balapan di laut.
Camat Belakang Padang, Abdul Hanafi mem-branding tradisi balapan itu dengan nama “Pacu Laut”.
“Ini kan slogannya saya bikin Pacu Laut. Insya Allah nanti akan kita buat dragonboat,” kata Hanafi kepada BatamNow.com, Minggu (17/08/2025) di Belakang Padang.

Balapan perahu di Belakang Padang ini, sudah seperti “tradisi” yang dilakukan dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Balapan ini sempat ditiadakan pada masa pandemi Covid-19.
“Ini sudah dari tahun 1964, dulu masih sampan layar saja,” kata Hanafi.
Pacu Laut tahun ini dipusatkan di Dataran Elang-elang Laut di pulau utama Kecamatan Belakang Padang, yang punya dok sebagai titik start dan finish.
Dari Pulau Batam, Warga Berbondong ke Belakang Padang
Pantauan BatamNow.com, ramai warga yang ingin menyaksikan balap perahu di Belakang Padang.
Pelabuhan Pengumpan Sekupang –akses menuju Belakang Padang, di Batam, dipenuhi calon penumpang pada Minggu (17/08/2025) pagi. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa mengantre di jetty dermaga.
Antrean calon penumpang di dermaga perahu kayu (pompong) itu bukan pemandangan yang rutin terjadi.
“Mau nonton balap boat,” kata Faisal yang datang dengan rombongan 5 orang.
Dari Sekupang, menempuh perjalanan laut sekitar 12 menit untuk sampai di Dermaga Belakang Padang. Kondisi pelabuhan itu juga tampak ramai hilir-mudik pompong menurunkan penumpang.
Disampaikan panitia, sudah 4.800 tiket pompong tujuan Belakang Padang yang terjual per pukul 10.45 WIB.
Kategori Lomba Perahu
Pacu Laut di Belakang Padang dengan beberapa kategori.
Hanafi mengatakan ada sekitar 11 perlombaan, mulai dari jenis sampan layar (kolek), boat kayu, boat fiberglass, hingga ketinting.
“Kalau kegiatannya dihitung semua ada hampir 11, bermacam-macam seperti sampan layar, kolek, speed fiber, boat ketinting, speed kayu, sama 200 PK,” jelas Camat Belakang Padang itu.
Untuk perahu bermesin tempel, dipecah ke dalam beberapa nomor lomba berdasarkan spesifikasi mesin dengan satuan Horsepower (HP) atau biasa juga dikenal Paardenkracht (PK). Ada yang kategori 15 HP, 40 HP, hingga 200 HP untuk speed boat racing.
Untuk peserta balap, kata Hanafi, ada juga yang jauh-jauh dari Kabupaten Tanjung Balai Karimun.
Wisatawan Antusias
“Alhamdulillah kalau kunjungan dari Malaysia, Singapura, tiga hari sebelum dimulai lomba tanggal 17, alhamdulillah sudah banyak,” tukasnya.
Namun ia belum bisa membeber data pasti soal kunjungan wisatawan mancanegara selama event Pacu Laut ini.
Tokoh masyarakat Belakang Padang yang juga ikut mendukung terselenggaranya Pacu Laut ini, berharap tradisi lama tersebut dapat terus dipertahankan.
Apalagi, katanya, acara tersebut menggerakkan roda perekonomian di Pulau Penawar Rindu itu.
“Saya sebagai tokoh masyarakat, dengan adanya event ini, berjalan transport pancung, UMKM juga jalan di Belakang Padang dengan kita mengadakan acara seperti ini,” kata H. Hasyim.
Di lokasi, terlihat para pengunjung memadati mulai dari dermaga, tepian Dataran Elang-elang Laut, hingga pelantar Kantor Bea Cukai.
Hingga Minggu siang, panitia menyebut sudah 8.100 penumpang yang datang ke Belakang Padang. Jumlah totalnya dipastikan semakin banyak, sebab pengunjung masih terus berdatangan hingga sore. (D)








