BatamNow.com – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dijadwalkan kembali ambil bagian dalam agenda World Cleanup Day (WCD) pada September 2025.
Acara ini akan digelar serentak di beberapa daerah di Kepri bersama ratusan negara lain dalam gerakan bersih-bersih terbesar di dunia.
Sejumlah organisasi perangkat daerah, komunitas lingkungan, pelajar, hingga elemen masyarakat akan dilibatkan.
Secara niat, inisiatif ini patut diapresiasi. Kepri memang memerlukan lebih banyak aksi kolektif.
Tujuannya untuk menciptakan kebersihan dan pencemaran lingkungan, khususnya dari limbah rumah tangga dan sampah plastik yang semakin mencemari ruang hidup kita.
Namun, penting untuk bertanya secara jujur: mengapa semangat bersih-bersih ini hanya bergelora saat seremoni global berlangsung?
Gotong Royong Kampung yang Nyaris Tiada
Masalah utama bukan pada pelaksanaan WCD-nya, melainkan pada menghilangnya budaya bersih dalam keseharian.
Sampah masih menumpuk di pasar, pinggir jalan, hingga pesisir pantai.
Sistem kebersihan pun belum berjalan optimal. Tempat pembuangan sementara (TPS) terbatas, truk angkutan sampah yang tak laik fungsi, jadwal angkut sampah tidak menentu, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan cenderung tumpul.
Di sisi lain, budaya gotong royong—modal sosial yang telah lama menjadi ciri bangsa Indonesia—juga nyaris tak tampak.
Dulu, membersihkan kampung adalah bagian dari rutinitas warga.
Kini, gotong royong kebersihan hadir hanya menjelang lomba kebersihan atau sebagai pelengkap agenda kampanye.
Ia kehilangan rohnya sebagai kebiasaan hidup kolektif yang lahir dari kesadaran menjaga ruang bersama.
WCD Bukan Titik Puncak
Di tengah semangat global yang dibawa WCD, kita justru terjebak pada seremoni yang berulang.
WCD jangan sampai hanya menjadi seremoni tahunan yang latah diikuti, menghabiskan biaya tanpa membentuk makna.
Apalagi jika setelah acara selesai, sampah kembali berserakan dan kesadaran kembali lenyap.
Ironisnya, negara tetangga seperti Singapura mampu menjadikan kebersihan sebagai ikon nasional dan daya tarik wisata.
Padahal Indonesia memiliki akar budaya gotong royong yang jauh lebih kuat, namun tak menjelma dalam perilaku kolektif hari ini.
Daripada sekadar mengikuti tren global, mengapa tidak dibangun gerakan lokal yang lebih kontekstual dan berkelanjutan?
Seperti misalnya: “Indonesia Gotong Royong Bersih” — sebuah gerakan aksi nyata berbasis komunitas, dari RT, sekolah, masjid, pasar, hingga kelurahan.
Demikian juga gerakan kebersihan dengan tema Adipura yang melempem itu
Gerakan ini bukan program sesaat, tapi bisa menjadi gaya hidup baru warga yang dimulai dari bawah.
Momentum atau Gimik?
WCD seharusnya menjadi momentum, bukan titik puncak.
Pemerintah harus serius membenahi sistem pengelolaan sampah, memperkuat edukasi lingkungan, serta menegakkan aturan secara konsisten.
Masyarakat pun harus diberi ruang dan peran aktif yang tidak sebatas hadir saat panggilan gotong royong massal tiba.
Dan yang paling penting, budaya bersih harus dibangun kembali sebagai karakter bangsa.
Gotong royong tidak boleh lagi menjadi jargon di spanduk atau acara seremonial, tapi hidup dalam perilaku sehari-hari.
Karena kota yang bersih tidak lahir dari seremoni sehari. Tapi dari sistem yang bekerja dan kebiasaan yang terus dijaga — setiap hari, oleh semua orang. (Hamansyah)

