"Batam Sakit Parah", BEM SI Kerakyatan Kepri Bagian Sumbagut Akan Gelar Aksi “Indonesia Sold Out” - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

“Batam Sakit Parah”, BEM SI Kerakyatan Kepri Bagian Sumbagut Akan Gelar Aksi “Indonesia Sold Out”

by BATAM NOW
26/Agu/2025 17:17
“Batam Sakit Parah”, BEM SI Kerakyatan Kepri Bagian Sumbagut Akan Gelar Aksi “Indonesia Sold Out”
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan Kepri–Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) akan menggelar aksi unjuk rasa besar bertajuk “Indonesia Sold Out” pada esok Rabu, (27/08/2025).

Aksi itu akan digelar di dua tempat, antara lain depan Gedung DPRD Kota Batam serta kantor wali kota Batam dengan massa aksi yang diperkirakan hadir sebanyak 50-100 mahasiswa dari berbagai universitas.

Aksi ini merupakan bentuk akumulasi kekecewaan mahasiswa atas lemahnya tata kelola pemerintahan dan meningkatnya ketidakadilan sosial yang kian mengakar di tengah masyarakat.

Menurut rilis resmi dari BEM SI Kerakyatan, aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Ini adalah bentuk perlawanan terbuka terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai semakin jauh dari kepentingan rakyat, khususnya di Batam dan wilayah sekitarnya.

Aliansi ini membawa 11 tuntutan strategis yang dianggap sebagai bukti kegagalan pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam menyelesaikan persoalan-persoalan krusial masyarakat.

Berikut poin-poin tuntutan yang akan diusung dalam aksi:

  1. Penanganan banjir tahunan yang tak kunjung mendapat solusi struktural.
  2. Menumpuknya sampah kota akibat buruknya tata kelola lingkungan.
  3. Kekacauan sistem parkir yang lebih condong pada pungutan liar ketimbang pelayanan publik.
  4. Penolakan terhadap RKUHAP yang berpotensi melemahkan keadilan untuk rakyat kecil.
  5. Tindakan represif aparat terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil.
  6. Kegagalan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hanya menjadi slogan politik.
  7. Ketidakjelasan nasib guru honorer yang masih menggantung tanpa kepastian kesejahteraan.
  8. Maraknya mafia pangan yang menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak dan tak terkendali.
  9. Persoalan infrastruktur dan jam operasional truk kontainer serta dump truk yang membahayakan keselamatan warga.
  10. Sengkarut agraria di Tanjung Uma, termasuk praktik penimbunan yang mengancam keberadaan kampung tua Melayu.
  11. Minimnya ruang publik ramah anak dan lemahnya perlindungan generasi muda, menjadikan Batam belum layak disebut sebagai Kota Anak.

Batam Hari Ini Sedang Sakit Parah

Koordinator Wilayah BEM SI Kerakyatan Sumatera Bagian Utara, Muryadi Agus Priawan, dalam keterangannya menegaskan bahwa aksi ini merupakan refleksi dari kegagalan pemerintah dalam berpihak pada rakyat.

“Batam hari ini sedang sakit parah. Pemerintah daerah hanya sibuk menjual citra pembangunan, sementara rakyat terjebak dalam persoalan banjir, sampah, hingga mafia pangan. Indonesia seolah benar-benar ‘sold out’, dijual murah demi kepentingan kelompok tertentu. Kami hadir untuk menggugat, karena mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat,” tegas Muryadi, Selasa (26/08/2025).

Senada dengan itu, Alexander Manurung, Koordinator Daerah BEM SI Kerakyatan Kepri, menyatakan bahwa gerakan ini adalah bentuk konsolidasi mahasiswa untuk menolak praktik politik transaksional yang menggadaikan masa depan rakyat.

“Kami tidak akan tinggal diam melihat Batam dijadikan kota dagang tanpa arah, di mana rakyat hanya menjadi penonton. Dari masalah agraria di Tanjung Uma hingga persoalan guru honorer, semua menunjukkan bahwa pemerintah gagal menghadirkan keadilan sosial. Mahasiswa turun ke jalan bukan untuk kepentingan kelompok, tapi untuk menyuarakan jeritan rakyat yang selama ini diabaikan,” ujar Alexander.

Tuntutan yang Tidak Bisa Ditawar

Melalui aksi ini, BEM SI Kerakyatan ingin menyampaikan sinyal keras kepada pemerintah pusat dan daerah bahwa permasalahan rakyat tidak bisa lagi disembunyikan di balik pencitraan pembangunan.

Sebelas tuntutan tersebut disebut sebagai harga mati dan jika tidak ada langkah nyata untuk menindaklanjutinya, gelombang aksi berikutnya akan terus digencarkan secara masif.

Aksi bertajuk “Indonesia Sold Out” ini juga menjadi refleksi dari makin sempitnya ruang demokrasi di Indonesia. Mahasiswa dan rakyat sipil disebut sering dibungkam dengan tindakan represif, namun BEM SI Kerakyatan memastikan tetap berada di garis depan perjuangan rakyat.

Dalam seruannya, aliansi ini mengajak seluruh elemen masyarakat sipil—buruh, nelayan, guru honorer, hingga pemuda—untuk bersatu dan bergabung dalam barisan perjuangan.

“Indonesia tidak boleh ‘sold out’ di tangan penguasa yang abai, dan Batam tidak boleh terus dijadikan etalase kosong tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya,” tulis BEM SI Kerakyatan dalam pernyataan akhir mereka.

Dengan semangat perlawanan, mereka menutup seruannya dengan satu pesan tegas: “Ketika rakyat dibungkam, mahasiswa wajib bersuara!”. (A)

Berita Sebelumnya

APPEKNAS Apresiasi Pengusaha Batam Raih Gelar Doctor Honoris Causa dari GILMS Singapura

Berita Selanjutnya

Pertamina Sidak Laundry di Batam, Tegaskan Elpiji Subsidi Bukan untuk Usaha Komersial

Berita Selanjutnya
Pertamina Sidak Laundry di Batam, Tegaskan Elpiji Subsidi Bukan untuk Usaha Komersial

Pertamina Sidak Laundry di Batam, Tegaskan Elpiji Subsidi Bukan untuk Usaha Komersial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com