BatamNow.com – Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam masih menyelidiki penyebab terbaliknya kapal tugboat ASL Mega di perairan PT ASL Shipyard Indonesia, Tanjung Uncang, Kota Batam.
Penilik Kelaiklautan Kapal KSOP Batam, Krisno, mengatakan pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap kronologi serta penyebab kecelakaan tersebut.
Saksi yang diperiksa berasal dari pihak perusahaan galangan kapal, mulai dari dock master hingga petugas safety.
“Selanjutnya kita akan periksa kru yang selamat. Sambil menunggu itu baru kita bisa mengambil kesimpulan penyebab terjadinya kecalakaan,” ujar Krisno usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD Batam, Kamis (12/03/2026).

RDP lintas komisi itu dipimpin Wakil Ketua I DPRD Batam, Aweng Kurniawan, di ruang rapat pimpinan lantai II DPRD Batam.
Rapat juga dihadiri Wakil Ketua III DPRD Batam Muhammad Yunus Muda, perwakilan dari berbagai komisi DPRD, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Kepulauan Riau, KSOP, agen kru kapal dari PT Pradana Samudera Lines serta perwakilan PT ASL Shipyard Indonesia.

Krisno menjelaskan, kapal tugboat ASL Mega tidak memerlukan izin Surat Persetujuan Berlayar (SPB) karena beroperasi di areal terminal khusus (Tersus) fasilitas pelabuhan milik PT ASL Shipyard Indonesia.
“Kapal tidak berlayar antar-pelabuhan. Dia cuma di dalam fasilitas pelabuhannya saja, jadi tidak ada SPB. Dia berada di dalam kolam pelabuhannya dan itu Tersus kan milik dia sendiri, berarti under tanggung jawab ASL sendiri dan kapalnya juga milik ASL,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan KSOP biasanya memberikan pemberitahuan kepada pengguna jasa pelayaran jika terjadi cuaca ekstrem, khususnya untuk pelayaran antar pulau. Namun untuk aktivitas di kawasan pelabuhan seperti di Tanjunguncang, kondisi geografisnya dinilai tidak terlalu terdampak.
“Kalau di area pelabuhan dengan kondisi geografis Tanjunguncang saya rasa tidak terlalu berpengaruh. Operasional kapal tersebut juga bukan ilegal karena berada di kolam pelabuhan milik ASL,” katanya.
Saat insiden terjadi, tugboat ASL Mega diketahui sedang membantu proses manuver kapal Kyparissia yang hendak melakukan docking di galangan ASL Shipyard. Hingga kini, penyelidikan masih dilakukan untuk memastikan kronologi lengkap dan penyebab kapal tersebut terbalik.
Sementara itu, Manajer Agensi PT Pradana Samudera Lines, Moh. Fatur Akbar, menegaskan perusahaannya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan PT ASL dalam pengoperasian kapal kecuali hanya perekrutan kru.
“Jadi kami mengajukan agreement dengan perusahaan shipping juga tapi tidak ada keterkaitan langsung dengan ASL dan untuk pengoperasian kapal bukan dari kami. PT Pradana ini hanya sebatas perekrutan kru saja,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap bertanggung jawab terhadap para kru yang bekerja melalui perusahaan tersebut.
“Kenapa tadi saya sebutkan bertanggung jawab sama kru? Dikarenakan kru ini berdasarkan agreement itu di bawah PT kami. Tapi untuk pengoperasian kapal itu tidak keterkaitannya dengan PT Pradana,” pungkasnya.
Tugboat ASL Mega terbalik pada Jumat (06/03/2026) sore dan menewaskan tiga kru kapal yakni Abdul Rahman (kapten kapal), Guntur Pardede (chief), dan Jhonson Bertuahman Damanik (kepala kamar mesin/KKM).
Dua kru lainnya berhasil selamat, yakni M. Habib Ansyari (chief engineer) yang diselamatkan pada hari kejadian, serta Yusuf Tankin (second engineer) yang berhasil terjebak selama sekitar 38 jam di ruang mesin sebelum dievakuasi. (H)

