BatamNow.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan akan berkunjung ke Batam.
Keinginan itu disampaikan secara lisan dalam perbincangan santai usai rapat Debottlenecking Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) di Kementerian Keuangan RI, Jakarta.
“Ya kapan-kapan saya gelar perkara di Batam,” kata Purbaya kepada Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, Jumat (13/03/2026).
Li Claudia pun menyambut baik respons itu dan berharap Menkeu dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dinilainya masih “kusut”.
“Harus beresin pak yang kusut-kusut. Saya senang pak menteri mau bantu, jangan biarkan emak-emak ini berjuang sendiri,” ujar Li Claudia.
View this post on Instagram
Salah satu masalah yang mencuat selain PSN Galang, Kota Batam adalah proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Batam yang diduga mangkrak setelah pengerjaannya berjalan sekitar delapan tahun.
Proyek strategis tersebut dimulai sejak 2017, namun hingga kini progres penyelesaiannya belum jelas di mata publik.
Proyek IPAL Batam dikerjakan oleh kontraktor utama Hansol Paper Co., Ltd/Hansol EME Co., Ltd dari Korea Selatan dengan konsultan Sunjin Engineering & Architecture Co., Ltd. Sementara itu, BP Batam melalui Direktorat Fasilitas Lingkungan bertindak sebagai pemilik proyek sekaligus pelaksana di lapangan.
Pendanaan proyek berasal dari pinjaman lunak Economic Development Cooperation Fund (EDCF) Korea Selatan senilai sekitar USD 54,5 juta atau setara sekitar Rp 900 miliar.
Pinjaman tersebut dilakukan melalui pemerintah Indonesia dengan Kememkeu sebagai borrower resmi.
BP Batam berperan sebagai pengguna dana (implementing agency) sebagai pelaksana proyek.
Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka dari BP Batam setelah janji penyelesaian proyek tak ditepati.
Demikian juga mengenai skema pengembalian dana pinjaman tersebut lewat kas negara, termasuk apakah menggunakan mekanisme on-lending dari Kementerian Keuangan kepada BP Batam.
Publik juga belum memperoleh transparansi menyeluruh mengenai tanggung jawab BP Batam terhadap pinjaman luar negeri tersebut.
Sementara itu, pinjaman tersebut diperkirakan telah memasuki masa pembayaran cicilan pokok dan bunga.
Skema pinjaman memiliki tenor sekitar 30 tahun dengan bunga sekitar 1 persen per tahun.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan publik, karena beban anggaran negara sudah mulai berjalan, sementara manfaat proyek IPAL tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Batam.

Target Lama Terlewati Berkali
Target awal penyelesaian proyek IPAL Batam sebenarnya dijadwalkan rampung pada 2020. Namun sejumlah perubahan kontrak dan penyesuaian jadwal dilakukan, hingga kemudian proyek itu kembali dijanjikan selesai pada 2025.
Selain itu, rencana sambungan layanan ke sekitar 11.000 rumah tangga juga diduga sarat masalah dan menuai sorotan.

Sejumlah warga mengeluhkan pekerjaan sambungan rumah di beberapa titik, yang dinilai menimbulkan persoalan teknis bahkan memicu penolakan.
Dan setahun kepemimpinan Amsakar dan Li Claudia, proyek IPAL warisan kepmimpinan terdahulu masih bermasalah
Masyarakat berharap dengan turunnya Purbaya ke Batam ,masalah “kusut-kusut” di proyek IPAL bisa dibongkar dan dituntaskan.
Berkali media ini melakukan konfirmasi ke BP Batam tentang kwndala di balik proyek ino, namun tak ada respons. (Red)

