Dimulai dari D’Patros, Kegelisahan "Kawan Lama” Menggelinding: Jabatan Ex-Officio Kembali Diungkit - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Dimulai dari D’Patros, Kegelisahan “Kawan Lama” Menggelinding: Jabatan Ex-Officio Kembali Diungkit

28/Mar/2026 11:51
Mengisi Jabatan Syahril Japarin

Kantor Badan Pengusahaan (BP) Batam di Batam Center. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Dari sebuah meja buka puasa bersama di D’Patros Harbour Bay, gagasan itu lahir—tenang di permukaan, namun menyimpan gelombang besar di dalamnya. Kini, mulai bergerak.

Gagasan yang dimotori para tokoh senior Batam yang tergabung dalam Perkumpulan Kawan Lama (KALAM) itu tak lagi sekadar wacana.

Ia menjelma menjadi arus pemikiran yang kian deras: menuntut penataan ulang arah pembangunan Batam agar kembali ke koridor awal—berpihak pada rakyat, bukan menyimpang dari mandat kesejahteraan.

Pertemuan yang berlangsung Sabtu (14/03/2026) itu dihadiri sejumlah figur kunci yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan Batam.

Nama-nama seperti Ismeth Abdullah, Soerya Respationo, hingga tokoh pendidikan Sri Soedarsono, duduk dalam satu forum—membicarakan satu kegelisahan yang sama: Batam sedang kehilangan arah.

Buka puasa bersama oleh Perkumpulan Kawan Lama (Kalam) Kota Batam, di Restoran D’Patros Harbour Bay, Jodoh, Batam, Sabtu (14/03/2026). (F: Dok. Kalam Kota Batam)

Kegelisahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Kegelisahan itu bukan tanpa dasar. Para tokoh ini menilai, perjalanan pembangunan Batam hari ini mulai menjauh dari semangat awal pembentukannya.

Alih-alih menjadi motor kesejahteraan, arah kebijakan justru dinilai berpotensi membebani masyarakat.

Ismeth Abdullah secara terbuka menyuarakan contoh keresahan yang ia temui langsung di lapangan. Keluhan masyarakat terkait beban ganda atas tanah—antara UWTO dan PBB—menjadi salah satu indikator bahwa ada yang tidak beres dalam tata kelola saat ini.

“Contoh UWTO ini bukan sekadar persoalan administrasi, tapi menyangkut keadilan bagi masyarakat,” menjadi garis besar kegelisahan yang ia sampaikan dalam forum tersebut.

Buka puasa bersama oleh Perkumpulan Kawan Lama (Kalam) Kota Batam, di Restoran D’Patros Harbour Bay, Jodoh, Batam, Sabtu (14/03/2026). (F: Dok. Kalam Kota Batam)

Nada serupa juga datang dari Soerya Respationo yang menilai bahwa Batam membutuhkan forum serius untuk merumuskan ulang arah kebijakan yang sekarang rada melenceng.

Ia bahkan mendorong KALAM agar segera menginisiasi diskusi publik dan kajian strategis pasca-Idulfitri.

Tokoh Melayu Huzrin Hood Bersuara Keras Lagi

Namun, suara paling keras datang dari Huzrin Hood. Tokoh Melayu Kepri ini tak lagi sekadar mengkritik—ia bersiap melangkah lebih jauh.

Ia melihat perjalanan BP Batam ini sudah tidak pada tempatnya. Karena seolah-olah sebagai pemerintah, pemberi izin.

Padahal dia sebagai badan industri. Adanya pemerintah Kota Batam disetujui sebagai pemerintah otonom, mengikutsertakan BP Batam.

Ia tegaskan pemilihan ex-officio, nampaknya, membuat BP Batam menguasai pemerintahan.

“Saya akan menyurati Presiden Prabowo Subianto, DPR RI, MPR RI, dan DPD RI. Bila perlu, kita tempuh uji materi ke Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung,” tegasnya. (dikutip dari J5Newsroom)

Huzrin Hood memberikan sambutan dalam Halalbihalal Idulfitri 1444 H yang diadakan warga Rempang-Galang pada Kamis (11/05/2023). (F: BatamNow)

Langkah Ketua Umum Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) itu menunjukkan bahwa kegelisahan para tokoh ini telah memasuki fase advokasi serius. Dan bukan hanya wacana lokal, tetapi berpotensi menjadi isu nasional.

Huzrin juga menyoroti sejumlah persoalan mendasar, mulai dari tumpang tindih kewenangan antara pemerintah daerah dan BP Batam, hingga posisi BP Batam yang dinilai telah melampaui perannya sebagai badan pengelola kawasan industri.

Kritik Tajam terhadap Skema Kekuasaan

Salah satu isu krusial yang mengemuka adalah jabatan ex-officio Wali Kota/Wakil Kota Batam ex-officio Kepala/ Wakil Kepala BP Batam.

Skema ini kini mulai dipertanyakan secara terbuka dan hendak diluruskan oleh para pemerhati dan tokoh masyarakat.

Mereka menilai, konsentrasi kewenangan dalam satu tangan telah melampaui batas ideal dan berpotensi mengaburkan fungsi kontrol serta keseimbangan kekuasaan.

“Seolah-olah BP Batam kini bukan lagi badan industri, tetapi sudah menjadi pemerintah itu sendiri,” menjadi kritik tajam yang bergulir dalam diskusi tersebut.

Dari Diskusi ke Gerakan

Apa yang bermula dari perbincangan santai saat buka puasa kini, tampaknya, berubah menjadi embrio gerakan sosial-politik.

KALAM disebut akan segera menggelar forum urun rembuk untuk merumuskan langkah konkret.

Sejumlah nama telah ditunjuk sebagai tim perumus, menandakan bahwa gerakan ini tidak berhenti pada retorika.

Lebih dari itu, pertanyaan besar yang menggantung di atas Batam hari ini adalah: Masihkah kota ini dibangun untuk warganya, atau justru mereka mulai tersisih?

Gerakan “Kawan Lama” dan kelompok Huzrin Hood tampaknya ingin meluruskannya. (Redaksi)

Data dari berbagai sumber dan dikutip dari J5Newsroom

Berita Sebelumnya

Reputasi Batam Terganggu: Dugaan Pemerasan WNA di Pelabuhan Internasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




@batamnow

iklan PLN
BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com