BatamNow.com – BP Batam kini tengah berupaya melakukan modifikasi cuaca dalam upaya pemenuhan ketersediaan air baku di enam waduk di Batam.
Operasi Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) pun telah dilakukan sejak (15/05/2026) dan ternyata kali kedua dilaksanakan oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Operasi TMC kali pertama dilakukan pada Juni 2020. Saat itu, proses penyamaiannya menggunakan flare higroskopis atau dengan metode pembakaran untuk menyerap uap air di atas awan.
Menurut sumber terpercaya, saat itu wilayah Batam sedang dilanda kemarau berkepanjangan, sementara jumlah pelanggan juga terus bertambah dari waktu ke waktu.
Dalam operasi itu, BP Batam saat itu harus menggelontorkan dana hingga Rp 6 miliar, dengan target 2 bulan yang dimulai sejak bulan Juni hingga Juli.
Tahun 2026 Operasi TMC Kembali Dilakukan
Dalam operasi TMC yang dilakukan pada tahun ini, Badan Pengusahaan (BP) Batam menyebutkan bahwa operasi tersebut merupakan salah satu antisipasi untuk menghadapi fenomena “El Nino”.
Dalam rilis BP Batam yang dipublikasikan pada 16 Mei 2026, melalui Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan, Denny Tondano, mengatakan akan melaksanakan operasi TMC tersebut.
Namun, pernyataan dalam rilis resmi, sepertinya berbanding terbalik dengan penjelasan yang diterangkan oleh Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, kepada BatamNow.com baru-baru ini.
Menurut Ramlan, operasi telah berjalan sejak satu hari sebelum rilis itu dipublikasikan atau tepatnya pada Jumat, 15 Mei 2026.
Dalam operasi rekayasa cuaca kali ini, Ramlan menjelaskan teknis pelaksanaan di udara.
Ia katakan, modifikasi cuaca dengan menggunakan Natrium Klorida atau Sodium Klorida (NaCL) atau yang lebih dikenal dengan sebutan garam dapur.
Garam itulah yang ditaburkan di atas awan yang memiliki bibit hujan untuk disemaikan, untuk proses percepatan turunnya hujan.
Ramlan mengatakan operasi tersebut bukanlah untuk menciptakan hujan, namun hanya proses percepatan saja.
Operasi itu direncanakan hingga satu bulan, dan akan dievaluasi setiap minggu atau dalam jangka sepuluh hari.
“Bila ada potensi akan berlanjut,” kata Ramlan.
Penyemaian itu menggunakan pesawat Cessna PK-AKR milik PT Elang Nusantara Air (ENA) dari landasan pacu Bandara Hang Nadim Batam yang membawa bahan semai NaCL sebanyak 800 Kg-1 ton dalam sekali terbang.
Kata Ramlan, dalam satu hari, operasi itu bisa digelar satu sampai dua kali dalam sehari.
“Rata-rata satu ton, tergantung potensi pertumbuhan awan,” jelas Ramlan.
Namun, menurut informasi yang diterima oleh BatamNow.com, dalam operasi kali ini, semua kebutuhan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam operasi disediakan oleh BP Batam.
Diantaranya Avtur, NaCL, serta biaya rental pesawat, yang jika ditotal keseluruhannya hampir mencapai Rp 200 juta sekali terbang atau operasi.
Kemudian, Ramlan menjelaskan bahwa perkiraan biaya operasi itu dikeluarkan dari beberapa kegiatan di wilayah lain, yaitu antara Rp 150 juta – Rp 200 juta.
“Tapi klo di Batam mungkin bisa lebih murah mengingat jenis pesawat yang digunakan, sewa-sewa hanggar pesawat dan sebagainya, atau bisa juga lebih mahal mengingat harga avtur saat ini juga tinggi,” lanjutnya.
Ramlan menjelaskan, dari 15 Mei sampai Jumat (22/05), operasi baru dilakukan sebanyak 7 kali penerbangan dan berhenti untuk sementara dikarenakan adanya kendala yang dihadapi saat melakukan operasi.
“Baru 7 kali terbang, mengingat beberapa kendala di mana potensi awan hujan yang tidak memadai, area terbang yang harus clear oleh penerbangan lain dan berbagai kendala lainnya,” ujarnya, Jumat (22/05).
“Hari kemarin dan hari ini tidak dilaksanakan penyemaian/ penaburan karena potensi awan yang tipis,” sambungnya.
Bahan Semai Disuplai BP Batam, Persediaan Tersendat
Namun kata Ramlan, operasi TMC sempat dihentikan dalam beberapa hari karena menunggu stok NaCL yang disediakan oleh BP Batam.
Misalnya pada 17 Mei 2026, operasi dihentikan karena padatnya lalu lintas udara.
Selang dua hari berikutnya, operasi juga terpaksa dihentikan dikarenakan saat itu pelaksana operasi masih menunggu bahan semai dari BP Batam.
Dalam tujuh hari sudah dilakukan operasi modifikasi cuaca demi menciptakan hujan buatan dengan potensi anggaran dihabiskan diprediksi mencapai Rp 1,4 miliar.
Lalu bagaimana hasil maksimalnya?
Denny Tondano yang dihubungi beberapa kali, melalui pesan di WhatsApp tidak pernah memberi respons.
Dan dalam perbincangan di ruang publik yang terpantau BatamNow.com, banyak menyebut proyek ini terkesan kurang transparan, termasuk publikasi yang kurang terbuka tentang deskripsi proyek ini. (A)

