BatamNow.com – Hujan yang mengguyur Kota Batam dalam beberapa hari terakhir sebagian merupakan hasil operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau rekayasa cuaca.
Hal itu dilakukan dengan alasan menjaga ketersediaan air baku di sejumlah waduk tadah hujan imbas kemarau panjang.
Meski dalam siaran pers BP Batam tertanggal 16 Mei 2026 operasi tersebut masih disebut dalam tahap rencana, pelaksanaan hujan buatan diketahui telah berlangsung sejak Jumat (15/05/2026).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, membenarkan bahwa operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di wilayah Batam.
“Rencananya memang satu bulan, namun akan dievaluasi setiap minggu atau 10 harian. Bila masih ada potensi, maka akan berlanjut,” ujar Ramlan kepada BatamNow.com melalui sambungan telepon, Rabu (20/05/2026).
Sementara itu, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, belum memberikan respons saat dikonfirmasi BatamNow.com terkait pelaksanaan operasi TMC tersebut.

Antisipasi Dampak El Nino
Dalam siaran persnya, BP Batam menyebut operasi TMC dilakukan sebagai langkah antisipatif menjaga ketahanan dan ketersediaan air baku menghadapi ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026.
Operasi tersebut melibatkan BP Batam; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG); serta AirNav Indonesia.
Dalam keterangan persnya, Denny Tondano menjelaskan bahwa rekayasa cuaca menjadi bagian penting untuk menjaga elevasi air di sejumlah waduk agar tetap berada pada level aman.
Dengan demikian, distribusi air bersih kepada masyarakat maupun sektor industri di Batam diharapkan tetap berjalan optimal tanpa gangguan selama musim kemarau.
Dampak El Nino di Batam Tidak Seberat Daerah Lain
Ramlan Djambak menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena global, namun dampaknya tidak sama di setiap wilayah Indonesia.
Menurut dia, wilayah yang paling terdampak umumnya berada di selatan garis khatulistiwa dengan tipe curah hujan monsunal.
“Tipe curah hujan monsunal paling sering ditemukan di Indonesia, seperti di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua,” ujarnya.
Sementara itu, wilayah Provinsi Kepulauan Riau, termasuk Batam, dinilai tidak sepenuhnya terdampak El Nino karena memiliki pola curah hujan ekuatorial atau equatorial.
“Wilayah Kepri tipikal curah hujannya equatorial, yaitu hampir terjadi hujan sepanjang tahun. Kalau pun terdampak El Nino, hanya sebagian kecil,” kata Ramlan.
Meski demikian, ia mengakui El Nino tetap berpengaruh terhadap wilayah Kepri, meskipun dampaknya tidak seberat daerah lain di Indonesia.
Operasi TMC Gunakan Bahan Semai NaCL
Ramlan menjelaskan, operasi TMC bukan bertujuan menciptakan hujan secara instan, melainkan mempercepat potensi awan hujan yang sudah terbentuk di atmosfer.
“Kami bukan membuat hujan, tetapi memaksimalkan potensi awan hujan yang ada, sehingga hujannya dipercepat atau diarahkan ke wilayah target,” jelasnya.
Dalam operasi tersebut, bahan semai yang digunakan adalah Natrium Klorida (NaCl) atau garam dapur yang berfungsi sebagai partikel higroskopis di dalam awan.
Menurut Ramlan, NaCl berfungsi sebagai inti kondensasi yang membantu mengikat uap air di atmosfer sehingga awan dapat menyatu dan menghasilkan hujan.
“Fungsinya untuk merekatkan dan menempelkan uap-uap air di atmosfer sehingga awan yang berpencar bisa menyatu,” katanya.
Ia juga memastikan bahwa hujan hasil modifikasi cuaca aman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Sama seperti air hujan biasa, tidak ada dampaknya bagi lingkungan maupun kesehatan. Masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Operasi Sedang Dihentikan Sementara
Meski operasi TMC telah berjalan, kini kegiatan tersebut dihentikan sementara pada Rabu (20/05/2026) karena BMKG masih menunggu distribusi bahan semai dari BP Batam.
“Mungkin satu-dua hari ini break dulu sambil menunggu kepastian distribusi bahan semai NaCl dari BP Batam,” kata Ramlan.
Pun operasi TMC dihentikan pada Rabu ini, hujan alami tetap mengguyur Batam.
Selain kendala distribusi bahan semai, operasi TMC juga menghadapi tantangan lain, yakni padatnya lalu lintas udara di wilayah Batam dan sekitarnya.
Ramlan mengatakan, setiap penerbangan untuk penyemaian awan harus menunggu persetujuan dari Air Traffic Control (ATC) dan AirNav Indonesia.
Hal ini agar tidak mengganggu jalur penerbangan internasional, khususnya pesawat dari dan menuju Singapura.
“Kami harus menunggu arahan dari ATC dulu supaya tidak mengganggu penerbangan lain,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, operasi TMC bahkan sempat dihentikan selama satu hari pada Minggu (17/05) akibat padatnya lalu lintas udara di atas wilayah Batam.

Tantangan Terbesar: Hujan Harus Jatuh ke Waduk
Ramlan menambahkan, tantangan terbesar operasi modifikasi cuaca di wilayah Kepulauan Riau adalah memastikan hujan benar-benar jatuh ke area waduk.
Pasalnya, sebagai daerah kepulauan, air hujan yang meleset dari target berpotensi langsung jatuh ke laut. TMC juga tak menjamin turunnya hujan tepat di titik waduk.
“Kalau jatuhnya tidak ke waduk, ya larinya ke laut. Itu tantangan terbesar kami di Kepri,” katanya.
Saat ini BMKG bersama BP Batam terus berupaya mengarahkan hujan agar masuk ke daerah tangkapan air waduk sehingga ketersediaan air baku tetap aman selama musim kemarau.
Sementara itu, Anggota/Deputi Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, saat dikonfirmasi BatamNow.com hanya menjawab singkat melalui pesan WhatsApp, “Saya koordinasikan”.
Namun hingga berita ini diterbitkan, BP Batam belum memberikan jawaban lanjutan. (A)

