BatamNow.com – Gangguan pelik distribusi air minum kembali terjadi di Batam.
Kali ini, dalam publikasi PT Air Batam Hilir (ABHi) disebutkan, kebocoran pipa utama berdiameter DN 500 mm di depan Informa Simpang Kepri Mall menyebabkan aliran air terhenti di sejumlah kawasan sejak Minggu (07/06/2026).
Memasuki hari kedua, Senin (08/06), pasokan air ke sejumlah kawasan pelanggan masih belum mengalir.
Kondisi ini memicu kepanikan dan kekecewaan ribuan pelanggan yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BP Batam.
Konsumen juga menilai pengelola SPAM kebablasan karena sampai dua hari tak kunjung bisa menormalkan aliran air.
Wilayah yang terdampak antara lain Temenggung, Taman Niaga, Plamo, Duta Mas, Anggrek Mas, Anggrek Sari, Kawasan Industri Batam Center, Citra Batam, Bengkong, Kintamani, Central Sukajadi, Batu Batam, Orchid, Rosedale, Marchelia dan wilayah sekitarnya.
Dengan cakupan wilayah yang luas, jumlah pelanggan yang terdampak diperkirakan mencapai puluhan ribu sambungan rumah tangga maupun pelanggan usaha.
Hingga berita ini diturunkan, proses perbaikan pipa yang dilakukan pengelola SPAM BP Batam melalui mitra operasionalnya, PT Air Batam Hilir (ABHi), belum selesai.

Ketua RT dan RW Bukan Bawahan Pengelola SPAM
Sebagai langkah darurat, PT ABHi mengumumkan penyiagaan mobil tangki air bersih bagi pelanggan yang mengalami gangguan suplai lebih dari 1×24 jam.
Namun kebijakan tersebut justru memunculkan kritik dari pelanggan.
Dalam pemberitahuannya, pengelola meminta pelanggan berkoordinasi melalui Ketua RT, RW maupun pihak kelurahan untuk memperoleh layanan distribusi air tangki.
Menurut pelanggan, pola pelayanan tersebut terus berulang setiap kali terjadi gangguan distribusi air.
“Banyak warga sudah lebih dari sehari tidak mendapatkan air. Setiap ada gangguan, solusinya selalu mobil tangki. Pertanyaannya, apakah jumlah mobil tangki yang tersedia mampu melayani puluhan ribu pelanggan yang terdampak secara bersamaan?” ujar seorang pelanggan.
Keluhan serupa juga datang dari sejumlah Ketua RT dan RW yang mengaku tidak memiliki kewenangan maupun peran dalam sistem distribusi air minum.
“Kami bukan bawahan pengelola SPAM. Kenapa setiap ada gangguan warga diarahkan ke RT dan RW? Kami juga pelanggan dan ikut terdampak,” ujar beberapa Ketua RT dan RW yang dihubungi BatamNow.com.
Mereka menegaskan RT dan RW merupakan lembaga kemasyarakatan, bukan bagian dari operator layanan air minum maupun pelaksana distribusi air darurat.
“Warga diminta menghubungi RT, RW dan kelurahan. Padahal kami juga mengalami kesulitan air yang sama. Kami bukan bagian dari pengelola layanan air minum,” kata salah seorang Ketua RT.
Narasi Komunikasi Pengelola Tak Menjawab Persoalan
Pelanggan juga mempertanyakan efektivitas layanan call center ketika gangguan terjadi secara bersamaan di banyak kawasan.
Menurut mereka, pola komunikasi yang disampaikan pengelola setiap kali terjadi gangguan cenderung berulang dan tidak menjawab persoalan utama yang dihadapi pelanggan.
Informasi mengenai mobil tangki selalu disampaikan, namun pelaksanaannya di lapangan dinilai tidak sebanding dengan jumlah pelanggan yang terdampak.
“Dalam setiap pemberitahuan selalu ada kalimat mobil tangki disiagakan. Tetapi ketika warga benar-benar membutuhkan air, responsnya sering tidak secepat yang dibutuhkan. Padahal air minum merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda,” ujar sejumlah pelanggan.
Masyarakat menilai gangguan yang terus berulang menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan SPAM Batam.
Pasalnya, air minum merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus tersedia secara berkelanjutan sesuai standar pelayanan publik dan ketentuan perundang-undangan.
Hak Pelanggan, Bukan Sekadar Bantuan
Kekecewaan pelanggan juga tertuju pada narasi yang kerap digunakan pengelola saat terjadi gangguan distribusi.
Dalam berbagai pengumuman, pelanggan yang membutuhkan air tangki diminta menghubungi Kantor Pelayanan Pelanggan Air Batam Hilir di Bengkong, Batu Aji dan Batam Center atau melalui Call Center (0778) 5700 000 serta WhatsApp 0811-7780-155.
Namun sejumlah pelanggan menilai penggunaan istilah “bantuan” tidak tepat.
“Kami bukan meminta bantuan. Kami adalah pelanggan yang membayar layanan setiap bulan. Ketika air tidak mengalir, itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban pengelola untuk memenuhi hak pelanggan, terutama dalam kondisi darurat,” ujar Sabirin, salah seorang pelanggan.
Ia menilai narasi pelayanan yang digunakan pengelola terkesan menempatkan distribusi air darurat sebagai bentuk belas kasihan, bukan kewajiban pelayanan publik.
“Air mati bukan kesalahan pelanggan. Karena itu yang dibutuhkan bukan janji atau imbauan, melainkan pelayanan yang cepat, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Tanggapan PT ABHi
Direktur Utama PT Air Batam Hilir (ABHi), Yuni Suprianto maupun Corporate Communication-nya Ginda Alamsyah tidak merespons konfirmasi yang dikonfirmasi BatamNow.com terkait keluhan konsumen ini.
Sementara ketika lokasi kebocoran pipa didatangi, Direktur Operasional PT ABHi, Jefri Maulidani mengatakan pihaknya akan mengupayakan distribusi air tangki ke warga terdampak.
“Kami coba lihat kondisinya, kami usahakan dibantu juga,” kata Jefri kepada BatamNow.com, Senin (08/06) pagi.

Pun begitu, katanya, Peraturan Kepala (Perka) BP Batam mengatur distribusi menggunakan air tangki diwajibkan setelah aliran mati selama dua hari. “Tapi kita lihat kondisinya seperti apa, kalau itu memang emergency, kami tentu bantu lewat water tanker,” ucapnya.
“Sekarang ini kami dengan kondisi suplai ke area Sengkuang dan sebagainya itu sekitar kita mengoperasikan lebih kurang 35-40 water tanker,” tambahnya. (Red)

