BatamNow.com – Permukaan air Waduk Nongsa di Kelurahan Sambau dilaporkan menyusut sekitar 2,5 meter.
Temuan tersebut berdasarkan verifikasi lapangan yang dilakukan organisasi non-pemerintah Akar Bhumi Indonesia (ABI).
Pendiri ABI, Hendrik Hermawan, menilai penyusutan muka air tersebut tidak semata-mata disebabkan minimnya curah hujan.
Menurutnya, kondisi itu merupakan akumulasi dari menurunnya fungsi daerah tangkapan air (DTA), minimnya curah hujan, serta meningkatnya kebutuhan air yang disebut telah melampaui kapasitas produksi.
“Jika merujuk pada kapasitas produksi optimal Bendungan Nongsa 60 liter per detik, maka dalam setahun diproyeksikan menghasilkan air sekitar 1,9 juta meter kubik,” ujar Hendrik melalui rilis yang diterima BatamNow.com, Sabtu (08/08/2026).
Sementara proyeksi kebutuhan air domestik Kecamatan Nongsa pada 2026 mencapai sekitar 20 juta meter kubik (m³) per tahun.
Angka tersebut, kata Hendrik, belum memperhitungkan kebutuhan air sektor industri, perdagangan, pariwisata, serta pusat data yang berkembang pesat di Batam Timur.

Defisit Air Baku Batam Sekitar 141 juta Meter Kubik
Untuk menjaga pasokan air domestik di Nongsa di tengah menyusutnya air Waduk Nongsa, BP Batam melalui Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum (BU SPAM) disebut telah mengalihkan sebagian pasokan air baku dari Waduk Duriangkang.
Namun, langkah tersebut dinilai hanya menjadi solusi jangka pendek.
Pasalnya, Waduk Duriangkang selama ini disebut menopang sekitar 70 persen kebutuhan air Batam.
Hendrik, yang organisasinya menjadi salah satu dari tujuh nominator Kalpataru 2026 kategori Penyelamat Lingkungan, menilai kondisi tersebut merupakan indikator bahwa Batam tengah menghadapi persoalan serius dalam ketahanan air baku.
Data Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Batam Tahun 2026, yang ditandatangani Wali Kota Batam Amsakar Achmad pada 22 April 2026, mencatat kebutuhan air domestik sekitar 1,39 juta penduduk Batam mencapai 280 juta meter kubik per tahun.
Sementara ketersediaan air tahunan diperkirakan sekitar 139 juta meter kubik.
Dari perbandingan tersebut, Hendrik menyebut Batam menghadapi potensi defisit air baku sekitar 141 juta meter kubik.
“Krisis air itu sudah terjadi, tapi BP Batam menutup-nutupi,” kata Hendrik.
Menurut dia, kebijakan water rationing atau penjatahan air serta distribusi air menggunakan mobil tangki ke sejumlah permukiman menjadi indikator adanya tekanan terhadap sistem penyediaan air.
Hendrik mendesak BP Batam membuka data kondisi air baku secara transparan dan mengambil langkah yang terukur untuk menghadapi persoalan tersebut.
Pakar Air: Bambu Betung Bukan Solusi Krisis
Di tengah munculnya persoalan tersebut, BP Batam justru melakukan program penghijauan di kawasan DTA Waduk Nongsa.
BP Batam bersama PT McDermott Indonesia menanam 400 bibit Bambu Betung melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Penanaman dilakukan di kawasan DTA Waduk Nongsa seluas sekitar 21,55 hektare.
Kawasan tersebut dinilai memiliki fungsi penting dalam mendukung keberlanjutan sistem penyediaan air baku Batam. Waduk Nongsa sendiri telah beroperasi sejak 1979.
Dikutip dari laman resmi bpbatam.go.id, pemilihan Bambu Betung merupakan bagian dari strategi penghijauan berbasis fungsi ekologis.
Sistem perakaran bambu yang kuat dan lebat disebut dapat membantu mengikat struktur tanah, mengurangi potensi erosi, serta meningkatkan kemampuan kawasan dalam menyerap air.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan keberlanjutan air baku bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan perguruan tinggi.
“Menanam pohon adalah menanam harapan untuk masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus memastikan keberlanjutan sumber daya air bagi generasi mendatang,” ujar Denny dalam rilis yang dipublikasikan BP Batam, Jumat (07/08/2026).
Namun, apakah penanaman 400 Bambu Betung dapat menjawab persoalan krisis air Batam?
Seorang sumber yang memahami bidang pengelolaan air dan memiliki sertifikasi di bidang air minum menilai fungsi vegetasi di daerah tangkapan air memang penting, tetapi tidak dapat diposisikan sebagai solusi tunggal untuk menambah volume air baku.
“Peran hutan atau tanaman di area coverage (cakupan wilayah) itu hanya sebatas menjaga agar air di daerah cakupan wilayah tersebut tidak langsung lari ke laut,” ujarnya kepada BatamNow.com.
Menurut dia, vegetasi berfungsi membantu menjaga tata air, mengurangi limpasan permukaan dan erosi, serta meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah.
“Tanaman itu sifatnya hanya menjaga air tanah agar jangan langsung mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan tanaman itu tidak mendatangkan air,” kata sumber tersebut meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Persoalan Bukan Sekadar Menanam Pohon
Sumber tersebut mengaku belum mengetahui secara persis pertimbangan BP Batam memilih Bambu Betung sebagai tanaman penghijauan di kawasan DTA Waduk Nongsa
Referensi diperoleh BatamNow.com dari kajian konservasi tanah dan air serta hidrologi kawasan DTA.
Secara botani, Bambu Betung atau dendrocalamus asper merupakan jenis bambu berukuran besar dari famili rumput-rumputan
Bambu ini dikenal memiliki banyak manfaat, terutama sebagai bahan bangunan dan konstruksi, seperti tiang rumah, rangka bangunan, jembatan, perancah dan berbagai kebutuhan struktural lainnya.
Dalam konteks konservasi DTA, menurut sumber tersebut, pemilihan jenis tanaman seharusnya mempertimbangkan karakteristik tanah, hidrologi kawasan, kemiringan lahan, fungsi vegetasi, serta tujuan konservasinya.
Ia menjelaskan Bambu Betung memiliki sistem perakaran serabut yang padat dan kuat, dengan rimpang (rhizome) yang membantu mengikat struktur tanah.
Namun, ia menilai persoalan ketahanan air tidak dapat diselesaikan hanya dengan memilih jenis tanaman tertentu.
“Padahal yang bisa menahan air tanah itu biasanya yang berakar tunjang atau masuk jauh ke dalam tanah,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah tanaman dengan sistem perakaran kuat yang dapat berfungsi dalam menjaga kestabilan tanah dan tata air, meskipun pemilihan vegetasi tetap harus disesuaikan dengan karakteristik ekosistem setempat.
Batam Water Security 2045
Di balik persoalan Waduk Nongsa, sumber tersebut juga menyebut BP Batam sebenarnya telah memiliki konsep “Batam Water Security 2045” atau ketahanan air Batam.
Konsep tersebut disebut mencakup proyeksi kebutuhan air Batam, kapasitas waduk yang tersedia, kebutuhan pembangunan waduk baru, pengembangan desalinasi, reclaimed water atau air hasil olahan yang digunakan kembali, hingga estimasi kebutuhan investasi.
Konsep tersebut, jika benar telah disusun, menunjukkan bahwa persoalan air Batam sebenarnya telah diproyeksikan dalam kerangka jangka panjang.
Namun, hingga kini belum diketahui secara terbuka sejauh mana konsep Batam Water Security 2045 tersebut telah diimplementasikan, berapa investasi yang telah direalisasikan, dan program mana yang sudah berjalan.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kebutuhan air Batam terus meningkat, sementara sumber air baku utama sangat bergantung pada curah hujan dan keberlanjutan fungsi daerah tangkapan air.
BP Batam Belum Menjawab
BatamNow.com telah meminta penjelasan kepada Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, terkait strategi penghijauan, ketahanan air Batam, serta sejauh mana konsep Batam Water Security 2045 telah dijalankan.
Konfirmasi juga disampaikan kepada Idul Priady, Direktur Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Pengelolaan Limbah BP Batam.
Namun hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum memberikan respons atas pertanyaan yang disampaikan BatamNow.com melalui WhatsApp. (A)

