BatamNow.com, Tanjungpinang – Panitia Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 terus mematangkan persiapan rangkaian kegiatan yang akan digelar di Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Untuk menyelaraskan konsep kegiatan dengan nilai adat dan budaya Melayu, panitia melakukan koordinasi bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Koordinasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Fesmed Selat Malaka 2026 yang akan berlangsung pada 19–21 September 2026 di Batam dan Tanjungpinang. Khusus di Tanjungpinang, rangkaian kegiatan hari terakhir akan dipusatkan di Tanjungpinang meliputi diskusi kelompok terpumpun (FGD), sarasehan, napak tilas sejarah Pulau Penyengat, serta sejumlah kegiatan lainnya.

Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, mengatakan Fesmed Selat Malaka 2026 akan berlangsung selama 3 hari. Dua hari pertama kegiatan dipusatkan di Kota Batam, sementara hari ke-3 akan dilaksanakan di Kota Tanjungpinang dengan mengambil lokasi utama di Pulau Penyengat dalam bentuk tur napak tilas sejarah budaya. Dalam kegiatan tersebut, para delegasi yang merupakan perwakilan AJI kota se-Indonesia akan diajak mengenal lebih dekat sejarah, budaya, dan warisan intelektual Melayu melalui agenda napak tilas. “Kami melakukan koordinasi dengan LAM Kepri karena kegiatan di Pulau Penyengat berkaitan erat dengan sejarah dan adat Melayu. Kami ingin memastikan rangkaian kegiatan ini berjalan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada,” kata Sutana. Menurut dia, Pulau Penyengat dipilih sebagai lokasi napak tilas karena memiliki posisi penting dalam sejarah peradaban Melayu. Pulau kecil tersebut tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, tetapi juga menjadi tempat lahirnya tradisi intelektual melalui para ulama, cendekiawan, dan pujangga Melayu. “Pulau Penyengat memiliki sejarah besar. Di pulau ini lahir banyak karya dan pemikiran yang menjadi bagian penting dari perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu,” ujarnya. Dalam rangkaian napak tilas tersebut, para peserta Fesmed akan mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Pulau Penyengat, di antaranya makam Engku Putri, makam Raja Haji, Balai Adat Melayu, serta Masjid Raya Sultan Riau. Selain mengenalkan situs sejarah, panitia juga akan memperkenalkan tradisi dan budaya Melayu kepada ratusan delegasi yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu budaya yang akan diperkenalkan adalah tradisi makan berhidang yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Melayu. Dalam tradisi tersebut, satu talam biasanya disajikan untuk empat orang dengan nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap adat. “Karena itu kami membutuhkan dukungan LAM Kepri sebagai pemangku adat untuk menyukseskan rangkaian kegiatan di Pulau Penyengat, khususnya dalam mengenalkan budaya Melayu kepada peserta Fesmed dari seluruh Indonesia,” ujar Sutana. Sementara itu, Ketua LAM Kepri, Raja Al Hafiz, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Festival Media Selat Malaka 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum baik untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Melayu Kepri kepada masyarakat luas. Ia mengatakan LAM Kepri siap berkolaborasi agar kegiatan yang berlangsung di Pulau Penyengat tetap mengedepankan nilai adat dan budaya Melayu. (*)

