BatamNow.com – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang digelar BP Batam dalam 20 hari yang disebut sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino.
Program yang berlangsung sejak 15 Mei hingga 3 Juni 2026 itu kini memunculkan pertanyaan besar di ruang publik.
Berapa realisasi anggaran yang digunakan dan seberapa besar hasil yang benar-benar dicapai terhadap ketersediaan air baku di waduk Batam?
Menurut informasi yang diperoleh BatamNow.com, pelaksanaan OMC tersebut diperkirakan menelan total biaya hingga sekitar Rp 7 miliar.
Namun ketika dikonfirmasi terkait besaran realisasi anggaran, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, tidak memberikan jawaban langsung.
Ia mengarahkan media untuk mengajukan permohonan informasi melalui Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) BP Batam.
Hal yang tak lazim dalam komunikasi pejabat negara dengan wartawan dalam hal penyebarluasan informasi.
Apalagi sikap tersebut dinilai tidak lazim dalam konteks konfirmasi wartawan, terutama terhadap penggunaan anggaran operasional lembaga negara.
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan mengatakan informasi mengenai realisasi biaya kegiatan yang telah selesai dilaksanakan seharusnya dapat disampaikan secara terbuka dan cepat kepada media agar dapat diteruskan kepada masyarakat.
Dari rangkuman media ini atas berbagai pendapat publik yang memunculkan pertanyaan: mengapa BP Batam terkesan enggan menjelaskan secara langsung dan terbuka realisasi biaya OMC yang telah dilaksanakan?
Realisasi Anggaran OMC Masih Menjadi Tanda Tanya
Dalam jawaban tertulis yang diterima BatamNow.com melalui Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga BP Batam, Sthefani Barlian, BP Batam hanya menjelaskan bahwa OMC merupakan kerja sama terpadu antara BP Batam, BMKG, dan instansi teknis terkait.
Menurut BP Batam, anggaran kegiatan mencakup berbagai komponen seperti penyediaan bahan semai, pemantauan radar cuaca, logistik operasional, hingga analisis meteorologi.
Seluruh proses administrasi dan kontraktual disebut telah dilaksanakan secara akuntabel dan diawasi pengawas internal maupun eksternal.
Namun anehnya BP Batam tidak menjelaskan berapa angka atau jumlah rupiah realisasi anggaran yang digunakan selama 20 hari pelaksanaan OMC tersebut.
Sebaliknya, BP Batam meminta media mengakses informasi tersebut melalui mekanisme permohonan informasi publik sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
Jawaban itu justru memunculkan kritik. Sebab informasi mengenai penggunaan dana publik dalam program yang telah selesai dilaksanakan seharusnya dapat disampaikan secara cepat dan transparan tanpa harus menunggu proses permohonan informasi yang memerlukan waktu lebih panjang.
Hasil OMC: 35 Penerbangan dan Klaim Kenaikan Muka Air Waduk
Terpisah dari persoalan anggaran, hasil pelaksanaan OMC juga menjadi sorotan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan Djambak, menyebutkan selama sekitar 20 hari pelaksanaan OMC telah dilakukan 35 kali penerbangan penyemaian awan.
Dapat dimaknai selama 15 hari dilakukan dua kali penerbangan per hari, sementara pada lima hari lainnya dilakukan satu kali penerbangan.
Di tengah pelaksanaan OMC, Denny Tondano melalui publikasi media sosial BP Batam menyampaikan bahwa program tersebut berhasil meningkatkan Tinggi Muka Air (TMA) di dua waduk utama.
BP Batam mengklaim: Waduk Sei Harapan naik 71 sentimeter, dan Waduk Muka Kuning naik 46 sentimeter.
Klaim tersebut kemudian menjadi perdebatan setelah dibandingkan dengan data yang dipublikasikan BP Batam melalui situs resminya.

Data TMA per tanggal 19 Mei 2026, muka air Waduk Sei Harapan setinggi +9,36 m/dpl dengan top spill atau batas ketinggian maksimum air di waduk +9,50 m/dpl, sementara curah hujan 0 mm.
Kemudian data tanggal 21 Mei, TMA Waduk Sei Harapan setinggi +9,37 m/dpl.
Artinya, muka air hanya naik ±10 cm dalam tiga hari. Sementara klaim BP Batam, dalam tujuh hari OMC ada kenaikan 71 cm pada TMA Waduk Sei Harapan.
Sedangkan Waduk Muka Kuning, berdasarkan publikasi BP Batam di website, tinggi muka air (TMA)-nya +22,92 m/dpl dengan top spill +25,00 m/dpl, dan curah hujan 0 mm.
Kemudian per 21 Mei menjadi +22,95 m/dpl, dengan curah hujan 11 mm.
Artinya, muka air Waduk Muka Kuning hanya naik ±3 cm dalam tiga hari. Sementara klaim BP Batam, dalam tujuh hari OMC ada kenaikan 46 cm.
Berdasarkan angka tersebut, sejumlah pihak mempertanyakan besaran kenaikan yang diklaim karena data harian di website menunjukkan kenaikan yang relatif kecil.
BP Batam: Data Website dan Klaim Kenaikan Menggunakan Metode Berbeda
Menanggapi perbedaan tersebut, BP Batam menjelaskan bahwa angka kenaikan 71 sentimeter dan 46 sentimeter merupakan hasil akumulasi selama masa evaluasi penuh OMC, bukan perbandingan data harian yang ditampilkan di website
Menurut BP Batam, data yang ditampilkan pada situs resmi merupakan snapshot atau catatan kondisi harian pada jam tertentu yang dipengaruhi oleh inflow dan penggunaan air baku oleh instalasi pengolahan air.
Karena itu, BP Batam menegaskan bahwa data harian tidak dapat digunakan untuk menghitung langsung total dampak OMC, melainkan harus dilihat berdasarkan tren akumulatif selama program berlangsung.
El Nino Belum Terjadi, Hujan Alami Justru Datang
Di sisi lain, alasan utama BP Batam nelaksanakan OMC adalah antisipasi terhadap fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus 2026
Namun sejumlah kalangan mempertanyakan urgensi program tersebut.
Sebab sejak awal BMKG di Batam telah menyampaikan bahwa dampak El Nino di wilayah Kepulauan Riau diperkirakan tidak akan separah yang terjadi di Pulau Jawa maupun beberapa wilayah lainnya.
Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa beberapa hari setelah pelaksanaan OMC, hujan alami masih beberapa kali turun di Batam, bahkan dengan intensitas cukup lebat.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mempertanyakan efektivitas OMC, terutama ketika informasi mengenai realisasi anggaran dan parameter keberhasilan program belum dijelaskan secara rinci kepada publik. (A)

