Catatan Redaksi
Dalam pidatonya di REI Expo Batam 2025, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengajak para pengembang menaati aturan lingkungan, terutama terkait larangan penimbunan sungai dan pemotongan bukit.
Pernyataan yang disebutnya sebagai bagian dari komitmen menjaga alam sekaligus mencegah banjir yang kerap terjadi.
“Kalau memang AMDAL-nya tidak memungkinkan sungai ditutup, ya jangan ditutup. Kalau AMDAL-nya tidak memungkinkan cut and fill, ya jangan dilakukan. Karena sekarang, tiga jam saja hujan lebat di Batam maka Batam ini berenang,” tegas Amsakar, di Atrium Grand Batam Mall, Kamis (29/05/2025).
Pernyataan ini terdengar menjanjikan.
Namun di tengah gemuruh ekskavator dan alat berat yang terus menggerus bukit dan menimbun sungai, kalimat itu seperti puisi yang melayang di udara, indah, tapi tak berpijak.
Kenyataannya, praktik perusakan lingkungan di Batam masih terjadi.
Bukit-bukit diratakan, pantai ditimbun, dan hutan dibabat.
Siapa yang bertanggung jawab? Dan siapa yang berani menindak tegas?

Amsakar tentu layak diapresiasi atas seruan moralnya. Namun ia juga adalah pemegang otoritas. Maka pertanyaan publik jika larangan sudah ditegaskan mengapa kerusakan masih terjadi?
Bukan rahasia bahwa banyak pengalokasian lahan di Batam bermasalah sejak lama—penuh kelonggaran, konflik, dan celah hukum.
Tapi kondisi ini tidak boleh dibiarkan menjadi warisan yang tak tersentuh.
Tumpang tindih kewenangan, lemahnya pengawasan, dan izin yang kabur seolah menjadi kronis birokrasi yang belum juga sembuh.
Wajar bila masyarakat meragukan bahwa pidato tak cukup menyelamatkan lingkungan
Amsakar bukan hanya pembicara, ia pemangku kebijakan. Komitmen lingkungan hanya bermakna jika dibarengi tindakan tegas—pengawasan nyata, pencabutan izin, dan penegakan hukum.

Batam bukan semata kota industri. Ia adalah ruang hidup yang diwariskan pada generasi mendatang.
Ketika pohon tumbang tanpa ganti, sungai tertimbun tanpa pertanggungjawaban, dan bukit dipapas demi cuan, sesungguhnya alam sedang “menangis.”
Masyarakat berharap, pernyataan Amsakar bukan hanya ucapan manis di forum, tapi tekad harus dijalankan.
Dan tidak menjadi puisi kosong yang terlupakan, melainkan janji yang ditegakkan.
Agar alam Batam tak hanya tinggal dalam kenangan pun dalam cerita tapi tetap utuh, lestari, dan layak dihuni. (*)

