Amsakar Tak Ingin Ada Isu Air di 2026, Krisis Air Kembali Memanas - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Amsakar Tak Ingin Ada Isu Air di 2026, Krisis Air Kembali Memanas

Warga Sengkuang Tahan Mobil Tangki Air, Bengkong Ikut Terdampak

16/Feb/2026 14:14
Amsakar Tak Ingin Ada Isu Air di 2026, Krisis Air Kembali Memanas

Warga RT 02/ RW 02 Tanjung Sengkuang menahan truk tangki air, Minggu (15/02/2026). (F: Dok. Warga)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Kisruh krisis air kembali memanas hanya berselang dua pekan setelah Kepala BP Batam Amsakar Achmad berucap tidak ingin mendengar “isu air bersih (air minum)” di tahun 2026.

Keinginan Amsakar yang tak ingin mendengar isu air di tahun 2026 ia sampaikan pada saat Rapat Kerja Rancangan Awal Rencana Kerja (Ranja) Tahun 2027 yang digelar di Aula Balairungsari, Lantai 3 Gedung Bida Utama BP Batam, Batam Center, Rabu (04/02/2026).

Namun, kini sengkarut krisis air bersih di wilayah Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Batam kembali memanas.

Mobil Tangki Air Ditahan Warga

Setelah warga Tanjung Sengkuang melakukan aksi damai di depan Kantor wali kota, kantor DPRD Kota Batam, lalu ke Kantor BP Batam serta Kantor PT Air Batam Hilir (ABH), pada Januari 2026, kini permasalahan air kembali terjadi.

@batamnow Tensi aksi demonstrasi krisis air oleh warga Tanjung Sengkuang di depan Kantor BP Batam pada Kamis (22/01/2026) siang, sempat memanas. Awalnya, ratusan warga tiba sekira pukul 12.30 WIB di depan gerbang BP Batam yang telah ditutup dan dijaga personel kepolisian serta Ditpam. Selang beberapa waktu, Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan wakilnya Li Claudia Chandra keluar dari gedung dan menemui peserta aksi. Tampak hadir juga Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono dan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait. Kemudian Amsakar yang berdiri di atas kap mesin bagian depan mobil polisi yang dilengkapi pengeras suara bersama Li Claudia di balik gerbang BP Batam, meminta perwakilan aksi untuk menyampaikan poin tuntutan. Syamsuddin pun membacakan tiga tuntutan warga (Tritura) Tanjung Sengkuang: segera alirkan air bersih, keadilan dalam distribusi air, dan permintaan mundur dari jabatan bila tidak melaksanakan dua tuntutan warga. Sebelum giliran Amsakar merespons tuntutan warga, massa aksi sempat protes ketika ada gestur menunjuk dari Li Claudia. “Woi jangan nunjuk-nunjuk,” begitu suara teriakan dari barisan peserta demo. Kemudian suasana kembali tenang, dan Amsakar menyampaikan tanggapannya. “Pertama, soal pelayanan air bersih tidak ada perbedaan kita sama dengan lain warga sini,” katanya, lalu dibalas sorakan protes dari warga. Namun, lanjut Amsakar, masih ada 18 stressed-area termasuk Tanjung Sengkuang, yang aliran air perpipaannya belum terdistribusi secara normal. Menurutnya sudah ada pengerahan armada truk air sebagai solusi sementara, meski memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan warga Tanjung Sengkuang. “Yang kedua kalau persoalan mundur, jangankan dari warga di hadapan OPD kalau dari 15 yang kami janjikan tidak selesai, tidak perlu Amsakar Achmad meneruskan jabatan,” tegasnya. Amsakar mengungkapkan, tender proyek untuk peningkatan infrastruktur air perpipaan ke Tanjung Sengkuang baru bisa dilaksanakn pada Februari nanti. “Jadi butuh waktu empat bulan paling cepat. Sementara menuju ke tahapan itu, kami akan lakukan pengiriman armada ke lokasi bapak/ibu,” katanya mengakhiri tanggapan atas tiga tuntutan warga. Selanjutnya giliran orator yang menanggapi respons Kepala BP Batam, hingga akhirnya menaikkan tensi di lokasi aksi. “Izin kepada yang terhormat bapak Kepala BP Batam hari ini yang hanya bisa mengandalkan argumen, tapi kenyataan di lapangan…” ucap Syamsuddin. Sontak Amsakar memprotes sambil menunjuk orator, “Bapak jangan menyerang personal, pak Syamsuddin. Bapak jangan menyerang personal”. Akhirnya orang nomor satu di Batam itu sampai memaksa turun dari atas mobil tempatnya berbicara, memprotes orator yang dituding menyerang personal. Namun langkahnya ditahan oleh beberapa orang di sana. Syamsudin menjawab bahwa tidak ada yang menyerang personal dalam penyampaian tuntutan aksi. Namun kemudian, giliran Wakil Kepala BP Batam Li Caludia Chandra yang memprotes. “Pak Syamsuddin, bapak titipan dari mana!” teriak Li Claudia dengan gestur menunjuk dan wajah dengan ekspresi yang sudah berubah. “Tidak ada, tidak ada, kami murni,” jawab Syamsuddin. Akhirnya Amsakar dan Li Claudia meninggalkan massa aksi, dan kembali ke gedung BP Batam. Tak pelak, tidak tercapai solusi dalam pertemuan itu. Warga Tanjung Sengkuang gagal mendapat tanda tangan pimpinan BP Batam untuk surat berisi tuntutan yang telah mereka persiapkan. Sayangkan Arogansi BP Batam Koordinator aksi sekaligus warga Tanjung Sengkuang, Harisdianto, menyayangkan adanya sikap yang dinilai arogansi dalam merespons aksi damai tersebut. “Kita sangat menyayangkan sikap yang menurut kita arogan ditunjukkan oleh BP Batam, yang mana massa aksi masih stabil, tidak memancing suatu keributan,” katanya kepada BatamNow.com, Kamis (22/01/2026). Ia mengapresiasi warga peserta aksi yang tidak terpancing atas tindakan pimpinan BP Batam… Baca selengkapnya di BatamNow.com #batampunyacerita #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com

Pada Minggu (15/02), warga RT 02/ RW 02 melakukan blokade dan menahan mobil tangki air yang dikerahkan ABH, setelah distribusi air yang mereka pesan sejak malam sebelumnya tak kunjung terealisasi.

Aksi penahanan mobil tangki air terjadi karena warga menilai distribusi air tidak adil. Warga mengaku telah melakukan pemesanan sejak hari sebelumnya, namun hingga keesokan harinya air tak kunjung datang, sementara wilayah lain tetap mendapatkan suplai.

“Kenapa ke tempat lain diantar, kami dari semalam order tidak dapat,” ujar salah seorang warga dengan nada kecewa.

Bahkan, warga sempat menegaskan bahwa jika permintaan mereka tidak dipenuhi, maka tidak ada satu pun mobil tangki yang diperbolehkan masuk ke kawasan tersebut.

“Kalau kami tidak dapat, biar semua sama-sama tidak dapat,” tegas warga di lokasi.

Situasi sempat memanas hingga akhirnya tim patroli dari Polsek Batu Ampar turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi dan meredam ketegangan.

Aparat menjanjikan satu tangki air akan segera didistribusikan dan tambahan suplai akan dikomunikasikan dengan pihak pengelola.

“Kami akan komunikasikan dengan ABH,” ujar salah seorang petugas di lokasi.

Setelah adanya kepastian suplai satu tangki air, emosi warga mulai mereda. Namun, persoalan tak langsung selesai.

Warga Tanjung Sengkuang menyatakan akan menggelar aksi besar-besaran di depan BP Batam dan pihak ABH dalam waktu dekat.

Tak hanya itu, titik aksi juga direncanakan di Polresta Barelang. Warga menilai, Kapolresta sebelumnya turut menyampaikan komitmen agar kebutuhan air masyarakat terpenuhi saat aksi warga pada 22 Januari 2026.

“Kami sudah dengar janji-janji itu. Sekarang kami mau bukti,” kata seorang warga.

Kekecewaan semakin memuncak karena krisis ini terjadi menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

BatamNow.com mengirimkan konfirmasi lewat pesan WhatsApp pada Senin (16/02) kepada Direktur PT ABH, Yuni Supriyanto; Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait; serta Direktur Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum, Fasilitas, dan Lingkungan, Iyus Rusmana.

Namun hingga berita ini diterbitkan, ketiganya belum merespons.

@batamnow Beberapa rencana (planning) yang disampaikan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait untuk menjawab persoalan krisis air warga di Tanjung Uma, tak mendapat respons baik dari para konsumen SPAM yang berdemo pada hari ini, Kamis (22/01/2026). Selain rencana mengirim armada truk tangki air, ia juga menyampaikan akan mengawal proses tendeer pelaksanaan proyek untuk perbaikan distribusi air perpipaan ke pemukiman warga di Kelurahan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar itu. “Sebagaimana tadi telah dikemukakan oleh bapak Kepala BP Batam, kami akan mengawal proses tender untuk pelaksanaan proyek ke Sengkuang. Yang kedua, kami akan mengawal juga mengenai truk-truk tangki air yang akan membantu bapak dan ibu,” jelas Ariastuty dari balik pagar kantor BP Batam yang memisahkannya dengan warga di luar. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan RT, RW, dan lurah setempat, untuk memastikan suplai menggunakan truk air dapat terdistribusi merata ke rumah warga Tanjung Sengkuang. “Kami akan melakukan hal-hal tadi dan kami harap bapak dan ibu dapat juga mendukung segala pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah untuk bisa mengalirkan air ke tempat bapak dan ibu yaitu Tanjung Sengguang. Jadi pada saat ini kami persilakan bapak dan ibu untuk meninggalkan tempat,” kata Ariastuty, lalu meninggalkan lokasi. Hamim Masri, perwakilan warga yang berdiri di atas mobil komando, memberi respons dan meminta Ariastuty tak langsung pergi meninggalkan mereka. “Saya jawab, ibu. ibu, jangan pergi dulu. Ibu, dengarkan kami. Ibu!” tegasnya. Ia menyampaikan bahwa narasi Ariastuty itu sudah berulang kali disampaikan dan belum menjawab persoalan air untuk warga Tanjung Sengkuang. “Berulang kali ibu mengatakan seperti itu? Itu bukan suatu solusi. Yang saya tahu adanya, di warga kami malah jadi ribut gara-gara air yang tidak transparan seperti ini.  Kami request tiap hari, tapi yang datang cuma berapa. Kemarin datang, akhirnya apa? Mau berkelahi warga kami,” ungkapnya. Ia pun menyayangkan hanya janji ke janji yang disampaikan Ariastuty. Ibu sudah berapa kali ketemu kami, cuma bisa janji-janji. “Masalah ibu mau kawal itu masalah lelang, mau apa, bukan urusan kami. Kami butuh air mengalir, karena kami bayar tiap bulan. Itu yang saya harus ibu camkan, bukan bicara seperti itu. Planning kerja silakan ibu lakukan. Kami butuh air, bukan butuh janji,” tegasnya. “Masjid kami berapa kali beli air. Kami minta untuk ini, untuk request. Punya hati nurani tidak? Jangan cuma bisa planning, datang audiens ke warga cuma untuk laporan ke pusat bahwa sudah melakukan audiens,” lanjutnya. Menurutnya, kondisi krisis air ini harus segera diselesaikan apalagi sudah mendekati bulan suci Ramadan. “Bentar lagi bulan puasa, Ramadan. Ada nggak terpikir? Tandon tidak bisa menyelesaikan masalah. Air tangki tidak menyelesaikan masalah. Menambah masalah, jadi rebutan warga. Ibu jangan cuma bicara begitu-begitu saja,” ujarnya. Hamim merasa heran karena air perpipaan bisa mengalir di malam hari, namun tidak di siang hari. Dan kondisi ini setelah penyelenggaraan SPAM ditangani BP Batam dengan mitranya. “Dulu ATB, jalan semua, tidak ada masalah. Pernah mati, tapi bisa terselesaikan. Kami sudah terlalu lama menunggu. Bapak berkunjung, ibu berkunjung, cuma audiens. Jadi difoto, kirim, bahwa sudah audiens dengan warga,” tukasnya. Sebagai perangkat RW, Hamim khawatir persoalan air yang menjadi kebutuhan vital ini dapat menimbulkan ekses yang lebih ekstrem lagi bagi masyarakat. “Apa perlu ada nanti sampai mati bunuh-bunuhan gara-gara air? Air ini sangat krusial. Memang bisa dijanjikan akan kami kirim berapa armada per hari. Nyatanya apa? Coba di lapangan. Kalau nggak pak Amsakar, bu Li Claudia, ayo tidur di tempat kami biar bisa merasakan,” terangnya. Baca beritanya di BatamNow.com #batamnow #batam #batamtiktok #fyp #batamhits #batampunyacerita #fypdong #semuatentangbatam #batamnews #bpbatam ♬ original sound – BatamNow.com

Warga Batu Merah Rasakan Hal Sama

Bukan hanya di Kelurahan Tanjung Sengkuang, hal yang sama juga dirasakan warga di Kelurahan Batu Merah.

Baca Juga:  Fenomena ASLI di Pilwako Batam

Kedua kelurahan ini di Kecamatan Batu Ampar.

Pada Sabtu (14/02) warga Batu Merah, melakukan aksi orasi kecil di wilayahnya, aksi tersebut diketahui menemui warga oleh, Direktur Pengendalian Pengelolaan Lahan, Pesisir, dan Reklamasi BP Batam, Deny Tondano.

Dari video yang dikirimkan warga, terlihat Kapolsek Batu Ampar juga hadir dalam aksi warga itu.

Lain Lubuk Lain Ikannya

Lain Lubuk lain Ikannya. Pepatah itulah yang menggambarkan kejadian dirasakan warga Bengkong dengan warga Batu Ampar saat ini.

Kecamatan Bengkong berbatasan langsung dengan Kecamatan Batu Ampar.

Jika di Tanjung Sengkuang air mati total, di Bengkong mengalami hal yang mirip.

Salah satu contohnya, di Bengkong Pertiwi RT 04/RW 13, Kelurahan Tanjung Buntung, warga kembali mengeluhkan sulitnya mendapatkan air minum perpipaan SPAM BP Batam, khususnya di siang hari.

Salah seorang warga, mengatakan kepada BatamNow.com bahwa air tidak mengalir atau mati total sejak pagi hingga malam hari.

“Hari ini mati total sejak pagi, dan tidak bisa diperkirakan kapan hidupnya, terkadang malam baru hidup,” ujar Parno, Senin (16/02/2026).

Sebelumnya, diberitakan media ini, pada Agustus 2025, persoalan yang sama terjadi di Bengkong Pertiwi.

Kala itu setelah diberitakan, petugas SPAM BP Batam dengan ABH langsung turun ke lapangan, untuk memperbaiki permasalahan air.

Namun kini, persoalan air kembali dirasakan warga Bengkong Pertiwi.

“Setelah kemarin diperbaiki, kini terjadi permasalahan yang sama, seperti bulan Agustus kemarin, dan persoalan air mati ini telah berlangsung sejak sekitar 1 bulan, “kata Parno.

Selain warga Bengkong Pertiwi, warga di Bengkong Kolam juga merasakan hal yang sama.

Warga Bengkong kolam, juga terpaksa begadang untuk menunggu keran air menyala.

Warga kini mengeluh soal krisis air bersih yang kian memprihatinkan. Sudah masuk pekan ke dua, persoalan air minum perpipaan belum juga ada solusi dari SPAM BP Batam maupun ABH.

Warga terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi menunggu air mengalir pada jam-jam tak menentu, bahkan hingga dini hari.

Fakta di lapangan, dalam dua hari terakhir, air memang sempat mengalir. Namun jadwalnya berubah-ubah dan kerap kembali mati saat paling dibutuhkan.

Kondisi ini memaksa banyak warga berjaga di depan keran hampir sepanjang malam, berharap bisa menampung air untuk kebutuhan dasar.

“Jam setengah dua pagi saya bangun, keran masih kering. Kami dipaksa jadi ‘penjaga keran’ tiap malam hanya untuk bisa mandi atau sekadar menampung air buat masak,” ucap Juna, salah satu warga Bengkong Kolam.

Ketiadaan air bersih tak hanya mengganggu aktivitas mandi dan mencuci, tetapi juga memasak hingga beribadah. Sebagian warga kini bergantung pada air galon atau sisa tampungan yang kualitasnya semakin menurun.

Situasi ini membuat biaya hidup ikut meningkat, terutama bagi keluarga dengan anak kecil dan lanjut usia (lansia).

Kini warga mendesak PT ABH memberikan penjelasan transparan terkait penyebab gangguan, disertai solusi teknis yang jelas agar distribusi air kembali normal dan merata.

Mereka berharap tak ada lagi wilayah yang harus menanggung dampak paling berat setiap kali krisis air terjadi. (H)

Berita Sebelumnya

Daratan Batam Darurat Sampah, Pun Laut dan Perairan: Apa Kabar Gema Batam ASRI?

Berita Selanjutnya

Jenazah yang Ditemukan Tanpa Identitas di Galang: Bendahara Keuangan RSBP Batam

Berita Selanjutnya
Nelayan Temukan Mayat Pria Tanpa Identitas di Perairan Galang

Jenazah yang Ditemukan Tanpa Identitas di Galang: Bendahara Keuangan RSBP Batam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




@batamnow

iklan PLN
BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com