Anak adalah Korban Paling Menderita Akibat Perceraian. Haruskah Kita Diam? - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Anak adalah Korban Paling Menderita Akibat Perceraian. Haruskah Kita Diam?

28/Nov/2021 14:45

“Kalau rata-rata terjadi 2.000 kasus perceraian per tahun, maka selama rentang waktu sepuluh tahun ada 20.000 kasus. Jika rata-rata 2 orang anak per keluarga, maka ada 40.000 orang anak terdampak masalah akibat perceraian.”

Kisah Anak Korban Perceraian yang Rapuh

Ada kisah nyata yang dialami oleh seorang anak perempuan di Batam sebut saja Nita. Nita dulunya adalah anak yang periang. Namun semenjak kedua orangtuanya bercerai Nita menjadi anak yang pemurung.

Ayah dan ibunya yang kini telah berkeluarga lagi, menitipkan Nita kepada pamannya. Kehidupan Nita sehari-hari hanya berkurung di kamar menyesali nasib yang diderita. Sehingga berakibat pada kondisi psikis. Nita tidak pemarah namun cenderung pendiam.

Lambat laun Nita tumbuh dalam keadaan psikis yang tidak baik. Nita menjadi pendiam, pemurung, tidak fokus, tidak suka merawat diri dan Nita menderita kleptomania.

Kleptomania adalah gangguan yang membuat penderitanya sulit menahan diri dari keinginan untuk mencuri. Penderita kleptomania kerap mencuri di tempat-tempat umum, tetapi ada juga yang mengutil dari rumah teman atau tetangga.

Nita mengekspresikan kekecewaannya dengan cara berbeda dan cukup meresahkan masyarakat.

Paman Nita sudah tidak sanggup lagi menasihati, marah bercampur kesal membuat keadaan Nita tak kunjung membaik. Keadaan ini masih berlangsung hingga kini.

Kisah Anak Broken Home: Memberontak dengan Menato Seluruh Badan

Panggil saja namanya Budi, berasal dari pasangan keluarga yang berada. Suatu saat sebelum perceraian kedua orangtuanya, Budi dibelikan sepeda motor bagus dari ayahnya. Budi senang bukan kepalang karena orangtuanya mengizinkan dia mengendarai motor.

Tapi alangkah kecewanya Budi suatu hari kedua orangtuanya bertengkar hebat atas suatu alasan yang dia tidak mengerti, hingga kedua orangtuanya akhirnya bercerai.

Budi tinggal bersama orang ibunya. Budi jarang di rumah dan menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya. Budi menjadi seorang yang suka mabuk-mabukan dan terjerumus pergaulan bebas.

Suatu saat Budi menjual motornya dan per ke Bali. Di sana, Budi menato seluruh badannya dengan tato yang bergambar “garang”. Sesudah itu, dia sengaja mengunjungi ayahnya di suatu daerah di Jawa dan menunjukkan tato di badanya hingga ayahnya menjadi marah.

“Kamu tahu mengapa aku menato seluruh tubuhku? Ini semua gara-gara kamu,” teriak Budi.

Budi meninju wajah ayahnya lalu pergi meninggalkannya. Begitulah cara Budi melampiaskan emosi yang selama ini terpendam dalam dadanya.

Kisah Korban Perceraian yang Mampu Bangkit dari Sedih Berkepanjangan

Masa kecilku diawali dengan penuh bahagia. Hubungan papa dan mamaku sangat harmonis dan penuh kasih sayang. Aku bahagia di saat papa dan mama tertawa bersama menggelitik dan mengusik sampai aku merengek kesal.

Aku sering diantar oleh papa dan mama menikmati liburan atau berbelanja ke pasar bersama. Mereka juga menasihati saat aku nakal lalu memeluk erat tubuhku. Papa sering mengantarkan aku latihan berenang dan menunggu dengan sabar sampai aku selesai latihan. Teringat rasa senang dan bahagia saat aku mengenang momen itu.

Mamaku seorang pekerja keras. Kami memiliki restoran yang dijalankan oleh mama. Papaku berasal dari keluarga berada. Karakternya yang keras selalu menjadi masalah hubungan mereka. Singkat cerita pertengkaran demi pertengkaran menjadi makanan sehari-hari. Dan pada akhirnya mereka bercerai. Perceraian mereka membuatku sangat sedih.

Aku ikut dengan mama sedangkan papa pergi dari rumah dan sekarang dia bersama istri terakhir dari beberapa kali perceraian.

Aku kesal dengan perceraian itu. Aku kesal pada papa yang pergi meninggalkan aku. Aku rindu pada momen kami bersama. Bergurau dan tertawa bersama. Kini tidak ada lagi figur papa yang menasihatiku saat aku nakal, memeluk aku saat aku butuh kasih sayang.

Aku sedih saat mama membawaku berbelanja di mal atau suatu tempat dan melihat anak lain berjalan bersama keluarga, bersenda gurau bersama sebagai keluarga yang utuh. Ayah dan ibunya memegang tangan kanan dan kiri anaknya dan bercanda, menjaga serta melindungi dia. Aku iri dan cemburu melihat itu semua. Aku hanya bisa menangis dalam hati.

“Ya Tuhan, sungguh tidak adilnya hidup ini. Aku rindu, kesal, kecewa dan menderita. Mengapa engkau ambil separuh kebahagiaan hidupku?” tangis dalam hati kecilku.

Mama bekerja bertungkus lumus menghidupi aku dan 2 orang kakak sambungku dari pernikahan mama sebelumnya.

Aku merasa dewasa dan mandiri. Aku bekerja paruh waktu membantu agar tidak memberatkan mama. Di sanalah tempat aku bekerja bertemu suamiku yang saat ini menjaga dan mendampingiku.

Rasa sakit hatiku pada papa yang meninggalkanku tidak pernah hilang. Rasa dendam pada keadaan menjadikan sikap dan karakterku keras. Aku tidak mengerti mengapa sikap dan karakter menjadi sama persis dengan papa.

Namun terkadang sesekali aku berkunjung ke rumahnya di Sumatera melepas rasa rindu. Bagaimanapun dia tetap ayah kandungku dan opa dari anak-anakku. Aku berusaha untuk membahagiakan dia dan aku berusaha untuk menghapus rasa pedih masa lalu dalam hatiku.

Aku berusaha memaafkan bukan untuk siapapun kecuali untuk diriku sendiri. Berharap menjadi anak yang berbakti dan membuat hidupku tentram.

Kini aku sudah berkeluarga. Punya suami yang bertanggung jawab. Dikaruniai 2 orang anak yang pintar dan cerdas. Aku bersumpah tidak akan membiarkan hal sedih yang kualami itu terjadi pada anak-anakku. Akan aku korbankan apapun sampai akhir hayatku untuk mempertahankan rumah tanggaku.

Penderitaan yang aku alami aku jadikan cermin hidupku. Terima kasih ya Allah, engkau telah mendengar doaku. (*)

SendShare

Comments 1

  1. Adit says:
    4 tahun ago

    Bermanfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com