
Sektor pariwisata di dunia mengalami penurunan lebih dari 80 persen sejak merebaknya virus Covid-19 pada tahun 2019.
Pada kuartal pertama tahun 2020 jumlah kunjungan wisatawan turun lebih dari 20 persen, banyak industri termasuk perhotelan, restoran dan pelaku wisata lainnya menutup usaha mereka. Serta banyak negara di dunia menutup perbatasan mereka hingga saat ini, menghentikan perjalanan domestik maupun internasional. Sehingga pada tahun 2020 jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis hingga 90 persen lebih.

Travel bubble dikenal sebagai salah satu bentuk solusi perjalanan bagi wisatawan di masa pandemi Covid-19. Pemerintah melalui kementerian terkait berencana membuka travel bubble dengan beberapa negara yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Australia, Singapura dan Malaysia.
Travel bubble ini mengacu pada penurunan data penyebaran pandemi Covid-19 dengan penerapan standar protol kesehatan (prokes) yang sama.
Sehingga langkah ini nantinya diharapkan mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi perjalanan wisatawan dan bisnis dalam mengunjungi suatu kawasan wisata tertentu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, negara yang berkunjung maupun dikunjungi oleh wisatawan.
Beberapa bulan ini, istilah travel bubble wara-wiri menghiasi narasi perjalanan di masa pandemi Covid-19.
Tak bisa dipungkiri, krisis kesehatan global memang memengaruhi perjalanan wisata terutama rute internasional dengan pertimbangan kesehatan. Mengingat perbedaan keefektifan penanggulangan wabah virus corona varian baru di setiap negara, koridor-koridor perjalanan pun dibuat.
Lantas apa itu travel bubble yang kini tengah dilirik oleh beberapa negara tersebut di seluruh penjuru dunia?
Travel bubble adalah ketika dua atau lebih negara yang berhasil mengontrol virus corona sepakat untuk menciptakan sebuah gelembung atau koridor perjalanan, juga dikenal sebagai travel bridge. Adalah sejenis pengaturan perjalanan yang memungkinkan warga negara tertentu melakukan perjalanan ke negara lain. Dengan travel bubble, masa tunggu bagi pelancong yang datang dari negara tempat virus telah terbendung, tak lagi ada.
Namun demikian, kebijakan ini bisa saja berganti. Tapi, kedua negara perlu memiliki kepercayaan satu sama lain untuk membangun pengaturan perjalanan seperti itu. Sehingga gelembung ini akan memudahkan penduduk yang tinggal di dalamnya melakukan perjalanan secara bebas dan menghindari kewajiban karantina secara mandiri.
Langkah tersebut akan memudahkan masyarakat melintasi kawasan perbatasan melalui entry point di border country tourist dengan kerumitan minimum.
“(Travel bubble) merupakan secercah harapan bagi orang-orang bahwa hidup akan kembali seperti biasa,” tutur Skvernelis, mengutip Forbes.
Peneliti dari Universitas Oxford menjelaskan istilah seperti ini, “Dalam travel bubble, sekumpulan negara setuju untuk membuka perbatasan satu sama lain, tapi tetap menutup perbatasan ke semua negara lain. Jadi, orang bisa bergerak bebas di dalam gelembung, tapi tak bisa masuk dari luar. Idenya adalah untuk memberi kebebasan tambahan pada orang-orang tanpa menyebabkan kerugian tambahan.”
Travel bubble memberi rasa aman dan dapat menunjukan apakah pergerakan kembali aman dilakukan oleh orang-orang yang datang berkunjung ke kawasan tersebut.
Senior Associate Professor of Politics and International Studies di International Christian University di Tokyo, Stephen Nagy, menuturkan, negara-negara dalam travel bubble akan membutuhkan cara untuk mengadang warga dari negara-negara ketiga.
Menurutnya, ada kemungkinan warga dari negara-negara tersebut lebih terinfeksi virus corona baru.
“Saya rasa akan terdapat zona aman yang dibentuk, dan mereka mungkin akan meningkatkan pelacakan kemana orang-orang sudah bepergian, dan melihat ke tiga atau empat destinasi terakhir,” ujarnya.
Sektor pariwisata dan pelaku industri berharap Pemerintah Indonesia dan negara terkait segera menyepakati kebijakan travel bubble untuk pelaku industri. Sebagaimana yang kini tengah dirancang untuk sektor pariwisata.
Kita bisa adaptasi ini untuk kegiatan bisnis, karena terkait rencana kebijakan travel bubble itu penting untuk dapat diterapkan mengingat sangat eratnya hubungan pelaku industri pariwisata dan bisnis di negara-negara tersebut.
Misalnya bentuk kebijakan yang dapat disepakati adalah memberikan kelonggaran kepada wisatawan yang datang. Dengan catatan khusus seperti, apabila yang telah divaksin dan tes swab PCR lebih dimudahkan masuk tanpa harus melalui proses karantina dengan pembuktian vaksinasi dari negara asalnya.
Travel bubble merupakan salah satu masa depan bagi dunia perjalanan wisata dan mungkin akan menjadi rujukan bagi negara-negara di seluruh dunia dan menjadi kebijakan pembukaan perbatasan negara secara terbatas, agar tidak menambah penularan Covid-19 di kedua negara dan penerapan tersebut dapat diterapkan di kawasan pariwisata eksklusif. Semoga.(*)