BatamNow.com – Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai kembali mengkaji rencana pemanfaatan sumber air baku dari Kabupaten Lingga untuk memenuhi kebutuhan air Batam dalam jangka panjang.
Rencana tersebut diungkapkan Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, setelah menghadiri rapat paripurna di DPRD Batam, Rabu (07/10/2026).
Amsakar mengatakan, kajian mengenai pemanfaatan sumber air baku dari Lingga sebenarnya telah dilakukan sejak 1991. Kajian lama tersebut kini akan dibuka kembali dan disesuaikan dengan kondisi serta harga investasi saat ini.
“Gambaran sederhana di tahun 1991, khusus untuk Lingga itu ada. Saya lupa angkanya. Yang pasti sudah, tapi tahunnya 1991 kalau tidak salah. Itu sudah ada file itu, kita akan lakukan penyesuaian dengan harga terkini,” kata Amsakar.
@batamnow Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai kembali mengkaji rencana pemanfaatan sumber air baku dari Kabupaten Lingga untuk memenuhi kebutuhan air Batam dalam jangka panjang. Rencana tersebut diungkapkan Wali Kota Batam ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, setelah menghadiri rapat paripurna di DPRD Batam, Rabu (07/10/2026). Amsakar mengatakan, kajian mengenai pemanfaatan sumber air baku dari Lingga sebenarnya telah dilakukan sejak 1991. Kajian lama tersebut kini akan dibuka kembali dan disesuaikan dengan kondisi serta harga investasi saat ini. “Gambaran sederhana di tahun 1991, khusus untuk Lingga itu ada. Saya lupa angkanya. Yang pasti sudah, tapi tahunnya 1991 kalau tidak salah. Itu sudah ada file itu, kita akan lakukan penyesuaian dengan harga terkini,” kata Amsakar. Menurut dia, kebutuhan air baku Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, kawasan perumahan, investasi dan aktivitas ekonomi. Sementara itu, Batam saat ini masih mengandalkan sejumlah waduk sebagai sumber air baku. Dari delapan waduk yang selama ini menjadi sumber air baku, satu di antaranya sudah tidak beroperasi. Tujuh waduk lainnya juga sangat bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan. “Problem kita, delapan waduk, satu sudah tidak operasional. Tujuh waduk ini sangat bergantung kepada cuaca, curah hujan. Jadi harus ada alternatif bagaimana cara agar ketersediaan air baku kita ini cukup,” ujarnya. Lingga Dinilai Lebih Menjanjikan BP Batam sebelumnya mengidentifikasi dua daerah yang sama-sama di Provinsi Kepulauan Riau, yang berpotensi menjadi sumber air baku alternatif, yakni Lingga dan Bintan. Amsakar mengatakan, kedua daerah tersebut memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing. Lingga memiliki sumber air yang lebih melimpah, tetapi membutuhkan biaya investasi besar. Sementara Bintan relatif lebih murah, namun ketersediaan sumber airnya terbatas. “Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi cost-nya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, cost-nya murah,” katanya. Jika harus memilih salah satu, Amsakar menilai Lingga lebih menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan air Batam dalam jangka panjang. “Kalau kita memilih dua opsi itu, jikalau memang ada investor yang sanggup, atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga. Karena ini memiliki ketersediaan jangka panjang yang relatif lebih menjamin,” tegasnya. Namun, besarnya kebutuhan investasi menjadi tantangan utama. Infrastruktur untuk membawa air baku dari Lingga ke Batam membutuhkan biaya besar sehingga skema pembiayaan dan tingkat pengembalian investasi harus dihitung secara matang. “Angkanya cukup besar investasinya. Sehingga kalau kita mau gandeng investor, mereka mempertimbangkan dengan cermat soal break-even point-nya. Kapan akan kembali ke titik pengembalian modalnya,” jelas Amsakar. BP Batam kini akan memperbarui kajian yang telah dibuat puluhan tahun lalu dengan menggunakan parameter ekonomi dan harga pembangunan terkini. “Kami juga sudah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga. Ini hanya memikirkan bagaimana skema pembiayaan yang paling mungkin, mitra yang paling mungkin untuk masuk ke situ,” ujarnya. Susun Roadmap Tata Kelola Air Selain mencari sumber air baku baru, BP Batam juga tengah menyusun roadmap tata kelola air untuk menyelesaikan persoalan dalam jangka panjang. Roadmap tersebut mencakup tiga hal utama, yakni revitalisasi jaringan pipa, memastikan ketersediaan air baku, serta pembangunan kembali sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) untuk memantau kondisi jaringan secara real time. “Sekarang terus terang kerja kita ini parsial. Ada problem kita coba selesaikan. Tetapi kami, saya sama ibu wakil ingin ada solusi jangka panjang yang kita ambil,” kata Amsakar. Ia mengatakan, kondisi jaringan perpipaan Batam juga menjadi persoalan yang perlu segera ditangani. Sebagian jaringan telah berusia puluhan tahun, bahkan ada yang dibangun sejak dekade 1970-an… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamtiktok #fyp ♬ original sound – BatamNow.com
Menurut dia, kebutuhan air baku Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, kawasan perumahan, investasi dan aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Batam saat ini masih mengandalkan sejumlah waduk sebagai sumber air baku. Dari delapan waduk yang selama ini menjadi sumber air baku, satu di antaranya sudah tidak beroperasi.
Tujuh waduk lainnya juga sangat bergantung pada kondisi cuaca dan curah hujan.
“Problem kita, delapan waduk, satu sudah tidak operasional. Tujuh waduk ini sangat bergantung kepada cuaca, curah hujan. Jadi harus ada alternatif bagaimana cara agar ketersediaan air baku kita ini cukup,” ujarnya.
Lingga Dinilai Lebih Menjanjikan
BP Batam sebelumnya mengidentifikasi dua daerah yang sama-sama di Provinsi Kepulauan Riau, yang berpotensi menjadi sumber air baku alternatif, yakni Lingga dan Bintan.
Amsakar mengatakan, kedua daerah tersebut memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing. Lingga memiliki sumber air yang lebih melimpah, tetapi membutuhkan biaya investasi besar. Sementara Bintan relatif lebih murah, namun ketersediaan sumber airnya terbatas.
“Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi cost-nya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, cost-nya murah,” katanya.
Jika harus memilih salah satu, Amsakar menilai Lingga lebih menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan air Batam dalam jangka panjang.
“Kalau kita memilih dua opsi itu, jikalau memang ada investor yang sanggup, atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga. Karena ini memiliki ketersediaan jangka panjang yang relatif lebih menjamin,” tegasnya.
Namun, besarnya kebutuhan investasi menjadi tantangan utama. Infrastruktur untuk membawa air baku dari Lingga ke Batam membutuhkan biaya besar sehingga skema pembiayaan dan tingkat pengembalian investasi harus dihitung secara matang.
“Angkanya cukup besar investasinya. Sehingga kalau kita mau gandeng investor, mereka mempertimbangkan dengan cermat soal break-even point-nya. Kapan akan kembali ke titik pengembalian modalnya,” jelas Amsakar.
BP Batam kini akan memperbarui kajian yang telah dibuat puluhan tahun lalu dengan menggunakan parameter ekonomi dan harga pembangunan terkini.
“Kami juga sudah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga. Ini hanya memikirkan bagaimana skema pembiayaan yang paling mungkin, mitra yang paling mungkin untuk masuk ke situ,” ujarnya.
Susun Roadmap Tata Kelola Air
Selain mencari sumber air baku baru, BP Batam juga tengah menyusun roadmap tata kelola air untuk menyelesaikan persoalan dalam jangka panjang.
Roadmap tersebut mencakup tiga hal utama, yakni revitalisasi jaringan pipa, memastikan ketersediaan air baku, serta pembangunan kembali sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) untuk memantau kondisi jaringan secara real time.
“Sekarang terus terang kerja kita ini parsial. Ada problem kita coba selesaikan. Tetapi kami, saya sama ibu wakil ingin ada solusi jangka panjang yang kita ambil,” kata Amsakar.
Ia mengatakan, kondisi jaringan perpipaan Batam juga menjadi persoalan yang perlu segera ditangani. Sebagian jaringan telah berusia puluhan tahun, bahkan ada yang dibangun sejak dekade 1970-an.
“Umur pipa kita ini rata-rata sudah di atas 25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau 55 tahun. Kalau dia dibangun tahun 70 itu berarti umurnya sudah 50-an tahun. Kalau dia dibangun tahun 80, jaringan itu berarti umur pipanya sudah 40-an tahun. Kalau dia dibangun tahun 90 berarti umurnya sudah 30-an tahun,” ujarnya.
Menurut Amsakar, kondisi tersebut membuat revitalisasi jaringan tidak dapat terus ditunda. Namun, proses revitalisasi membutuhkan basis data yang akurat untuk mengetahui kondisi dan keberadaan jaringan pipa.
“Revitalisasi ini membutuhkan data yang betul-betul kuat karena tidak semua pipa-pipa itu dapat dideteksi ketika SCADA ini kita tidak ada,” katanya.
Bangun Waduk Baru Butuh Waktu
Alternatif lain yang turut dibahas BP Batam adalah pembangunan waduk atau dam baru.
Namun, opsi tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang hingga dapat digunakan sebagai sumber air baku.
“Yang ketiga, kita bangun waduk, kita bangun dam, mana yang akan kita belah lagi pulau-pulau kita ini untuk membuat waduk baru. Tapi problem-nya juga ada, karena membuat waduk baru itu, dia baru dapat operasional paling cepat tujuh tahun,” kata Amsakar.
Menurutnya, semakin besar waduk yang dibangun, semakin panjang pula waktu yang dibutuhkan sebelum sumber air tersebut dapat dimanfaatkan.
Karena itu, di tengah kebutuhan air Batam yang terus meningkat, Amsakar menilai pencarian sumber air baku alternatif menjadi pilihan yang lebih realistis.
“Nah karena itu opsi yang paling masuk akal itu adalah mencari sumber air baku,” tegasnya. (H)

