:batamnow:-BRIGHT PLN Batam menyabet lima penghargaan bergengsi. Salah satunya tentang sukses pelayanan.
Dianugerahi di acara Jakarta Marketing Week (JMW) pada BUMN Marketeers Awards Markplus 2019.
Tapi sangat disayangkan. Kala penghargaan diraih, puluhan ribu pelanggan PLN Batam rumah tangga dan industri tengah dilanda sengsara.
Ini artinya, pihak penyedia listrik di sini sebenarnya tak beres dan tak profesional dalam hal produksi dan pelayanan.
Masyarakat sudah menjerit. Dirugikan. Kondisi suplai setrum PLN yang byar pet pun berkepanjangan.
Belum lagi kalangan pengusaha. Katakanlah pemilik industri yang tergabung dalam Himpunan Kawasan Indusri (HKI) di sini. Mereka menjerit juga.
Wali Kota Batam Muhammad Rudi pun membenarkan itu. Dia mengaku banjir keluhan sejumlah masyarakat dan pengusaha.
Konsumen listrik, banyak dirugikan pihak PLN Batam. Begitu Rudi berkata.
Seperti kondisi dijelaskan di atas, pemonopoli distribusi listrik ini justru diguyur award The Most Promosing in Marketing 3.0.
The Most Promosing Company in Entrepreneurial SOEs.
The Most Promosing Company in Branding Design.
The Most Promosing Company in Tactical Marketing dan The Most Promosing Company in Strategic Marketing.
PLN Batam sebagai anak perusahan BUMN terbaik, dinilai paling sukses.
Sukses melakukan strategi promosi, produk , brand, layanan digital dan pemasaran yang efektif dalam mengelola.
Staf Khusus IV Kementerian BUMN, Asmawi Syam, pun menganugerahi award itu kepada Direktur Utama bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura.
Rasanya item penghargaan itu masih ada yang kurang.
Penghargaan “THE MOST BYAR PET”.
Ini menunjukkan bahwa penyelenggara acara, gagal paham dan juga kurang profesional.
Mereka tak tahu soal keresahan masyarakat, akibat pelayanan buruk dari pihak PLN Batam. Ini sangat meyakitkan.
Salahkah Penghargaan?
Diberi penghargaan oleh dan bagi siapapun, itu lazim. Tapi bila award itu diterima di waktu dan kondisi yang tak tepat, itu menjadi “asin”.
Bisa asin karena puluhan ribu pelanggan PLN diterpa “redap-redupnya” setrum.
Di saat orang sedang kesusahandan dirugikan, bukan empati yang datang.
Penghargaan memang sifatnya memotivasi. Tapi itu menjadi basi, apalagi dibumbui dengan selebrasi narasi.
Sementara rakyat sedang tafakur di ruang remang pijar lilin tak berarti, yang mestinya diterangi. Bukan diguyur selebrasi yang menimbulkan antipati.
Meski di balik selebrasi itu akhirnya bisa kita pahami. Orang yang mengalungkan tropi adalah pejabat BUMN atasan sendiri.
“Penghargaan ini sangat berarti. Kami adalah pioneer dan change agent yang sudah memiliki kompetensi dari hulu dan ke hilir, dalam kelistrikan yang kami tangani.”
“Semua ini upaya menghargai dedikasi atas prestasi”.
“Bahkan kami dapat membantu melistriki dan menyebarkan usaha sampai ke delapan lokasi”.
Cuplikan di atas adalah bentuk puja-puji akan diri sendiri. Istilah yang sering disebut, ibarat sedang onani.
Sementara rakyat yang dihadiahi setrum mati-mati. Publik menilai pihak PLN Batam sudah hilang rasa empati.
Inilah hebatnya PLN Batam. Klaim mereka tiga mesin pembangkitnya sedang rusak dan dikatakan cukup lama waktu untuk memperbaiki.
Dengan kondisi seperti itu, malah PLN Batam tengah dengan nafsu-nafsunya berekspansi. Wilayah Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat, malah mau dilistriki.
Yang rencananya akan dijadikan ajang balap motor kelas dunia, World Superbike Series Motor GP.
Indonesia akan menjadi tuan rumah World Superbike Series musim 2021-2026, bila kelak kinerja PLN Batam ini terealisasi.
Batam oh Batam, seterumnya kok mati-mati. Apakah PLN, tak lebih baik lempar handuk sendiri? (Red-1)
