
Digital entrepreneurship menjadi topik yang semakin relevan dan penting di era digital saat ini.
Teknologi digital telah menjadi kekuatan ekonomi dan sosial baru, membentuk kembali model, strategi, struktur, dan proses bisnis tradisional.

Digital entrepreneurship berfokus pada penciptaan usaha baru dan mengubah bisnis yang ada dengan mengembangkan teknologi digital.
Digital entrepreneurship merupakan proses menciptakan, mengelola, dan mengembangkan bisnis atau usaha baru dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai katalisator atau pendorong utama inovasi dan pertumbuhan.
Digital entrepreneurship juga mencakup penggunaan teknologi digital dalam melakukan operasional bisnis dan memperluas pasar produk dan layanan.
Seorang digital entrepreneur harus mampu memanfaatkan teknologi digital yang ada untuk mengembangkan produk atau layanan baru, menciptakan model bisnis yang berkelanjutan, membangun merek, serta mengatur sumber daya dan proses bisnis secara efektif untuk mencapai tujuan dan menghasilkan nilai tambah.
Di dunia, digital entrepreneurship telah menjadi tren global yang signifikan.
Menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada tahun 2020, terdapat lebih dari 582 juta wirausahawan di seluruh dunia, dan sekitar 60% memiliki usaha yang memanfaatkan teknologi digital.
Selain itu, GEM juga melaporkan bahwa digital entrepreneurship mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penciptaan lapangan kerja baru. Digital entrepreneurship telah menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Di Indonesia, digital entrepreneurship juga terus berkembang pesat.
Pemerintah Indonesia telah mengambil inisiatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan digital entrepreneurship melalui berbagai kebijakan dan program.
Menurut Asosiasi E-commerce Indonesia, pada tahun 2020, e-commerce di Indonesia tumbuh 10% dari tahun sebelumnya dengan total nilai transaksi mencapai US$ 32,1 miliar. Selain itu, sejumlah unicorn dan decacorn (start-up dengan valuasi di atas US$ 10 miliar) asal Indonesia seperti Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak telah muncul dan berhasil mengambil pangsa pasar yang signifikan.
Era digital entrepreneurship dapat menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa yang memiliki minat membangun usaha.
Dengan teknologi digital, mahasiswa dapat memulai bisnis dengan modal dan sumber daya minimal, dan memanfaatkan platform online untuk menjangkau pelanggan secara global termasuk biaya awal yang lebih rendah, jangkauan pasar yang lebih luas, dan skalabilitas yang lebih cepat.
Mahasiswa juga dapat memanfaatkan analitik data dan alat otomatisasi untuk mengoptimalkan proses bisnis dan meningkatkan pengalaman pelanggan.
Sebagai generasi muda yang terampil dalam penggunaan teknologi digital dan bersemangat untuk menciptakan sesuatu yang baru, mahasiswa dapat memainkan peran yang penting dalam mengembangkan digital entrepreneurship di Indonesia.
Pertama, mahasiswa dapat menjadi pelaku digital entrepreneurship dengan memulai usaha sendiri yang memanfaatkan teknologi digital sebagai katalisator atau pendorong utama inovasi dan pertumbuhan. Dengan memiliki keterampilan dalam teknologi digital dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mahasiswa dapat menciptakan produk atau layanan baru, membangun merek, dan memperluas pasar bisnis.
Kedua, mahasiswa dapat menjadi katalisator dalam mengembangkan ekosistem digital entrepreneurship di Indonesia. Mahasiswa dapat menjadi penggerak dalam membentuk komunitas digital entrepreneurship yang aktif dan berkolaborasi dengan pelaku industri dan pemerintah untuk membangun ekosistem yang lebih baik.
Ketiga, melalui pendidikan dan pelatihan, mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi pelaku digital entrepreneurship yang sukses.
Sekolah atau universitas dapat menawarkan kurikulum dan program yang fokus pada digital entrepreneurship, dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktikkan keterampilan dan pengetahuan yang mereka peroleh dalam lingkungan nyata.
Perguruan tinggi memainkan peran penting dalam proses transformasi digital entrepreneurship. Berikut ini adalah beberapa peran penting yang dimainkan oleh perguruan tinggi.
Pertama, menyediakan pendidikan dan pelatihan kepada mahasiswa mengenai keterampilan digital dan kewirausahaan untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri menjadi pengusaha digital yang sukses.
Kedua, menyediakan fasilitas dan teknologi yang diperlukan bagi mahasiswa untuk mengembangkan bisnis digital mereka. Misalnya, perguruan tinggi dapat menyediakan akses ke perangkat keras dan perangkat lunak, ruang kerja yang didedikasikan, dan akses ke koneksi internet yang cepat.
Ketiga, menyediakan mentor dan dukungan untuk membantu mahasiswa mengembangkan bisnis digital mereka. Misalnya, perguruan tinggi dapat menyediakan akses ke ahli bisnis dan industri yang dapat memberikan nasihat dan dukungan untuk mahasiswa.
Keempat, mendorong inovasi dan riset dalam bidang digital entrepreneurship. Dengan mempromosikan riset dan inovasi, perguruan tinggi dapat membantu menghasilkan solusi yang inovatif dan efektif untuk masalah bisnis yang dihadapi oleh UMKM.
Kelima, mendorong sociopreneur mahasiswa untuk mengembangkan bisnis yang berfokus pada sociopreneur. Sociopreneur adalah bisnis yang tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga bertujuan untuk memberikan manfaat sosial kepada masyarakat.
Perguruan tinggi dapat membantu mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi pengusaha digital yang sukses dan membantu UMKM untuk mengadopsi teknologi digital dan mencapai pertumbuhan bisnis yang lebih baik.

Mahasiswa memiliki peluang besar untuk menjadi digital entrepreneur karena memiliki akses ke teknologi dan sumber daya digital yang diperlukan untuk memulai bisnis.
Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk menjadi digital entrepreneur, pertama, ide bisnis, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide bisnis yang inovatif dan menarik di era digital.
Dengan mengamati tren dan kebutuhan pasar, mahasiswa dapat menemukan peluang bisnis di berbagai bidang, seperti e-commerce, media sosial, dan aplikasi mobile.
Kedua, koneksi, mahasiswa dapat memanfaatkan jaringan sosial untuk membangun koneksi dengan pengusaha digital lainnya dan berbagi ide atau pengalaman bisnis.
Selain itu, mahasiswa juga dapat mengikuti kegiatan atau acara yang diselenggarakan oleh komunitas digital entrepreneurship untuk memperluas jaringan koneksi.
Ketiga, sumber daya, mahasiswa memiliki akses ke sumber daya digital yang diperlukan untuk memulai bisnis, seperti perangkat lunak, aplikasi, dan platform online.
Mahasiswa juga dapat memanfaatkan sumber daya di kampus, seperti kelas atau workshop, dan bantuan mentor dari staf pengajar atau alumni yang sudah berpengalaman di bidang digital entrepreneurship.
Keempat, pembelajaran, mahasiswa dapat memanfaatkan pengalaman dalam mengikuti kuliah dan program pendidikan untuk belajar tentang aspek bisnis digital, seperti pemasaran online, pengembangan produk atau layanan digital, analisis data, dan manajemen keuangan.
Kelima, modal, mahasiswa dapat memanfaatkan modal yang relatif kecil untuk memulai bisnis digital, seperti modal dari pinjaman atau dukungan dari keluarga atau teman.
Selain itu, mahasiswa juga dapat mencari dukungan dari investor atau lembaga pendanaan yang khusus membiayai bisnis startup.
Dengan memanfaatkan peluang-peluang tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuan di bidang digital entrepreneurship dan memulai bisnis yang sukses di era digital. (*)