BatamNow.com – Rencana revitalisasi Pasar Induk Sei Jodoh, Batam, yang telah lama dijanjikan Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan digadang-gadang akan dimulai pada tahun 2024, kini kembali dipertanyakan setelah munculnya proyek baru berupa pembangunan sistem drainase dan rumah pompa senilai Rp 18,25 miliar di lahan eks pasar tersebut.
Ketua DPP Kepri Lembaga Investigasi Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara (LI-Tipikor HKAN), Panahatan SH, menyatakan keheranannya atas proyek yang tiba-tiba muncul tanpa sosialisasi publik, apalagi lokasinya berada tepat di atas lahan yang sebelumnya direncanakan untuk pembangunan kembali Pasar Induk Jodoh.
“Pemerintah Kota Batam perlu menjelaskan kepada publik apa urgensi dari proyek rumah pompa ini, mengapa pembangunannya mendadak dan dipercepat, sementara proyek revitalisasi pasar yang nilainya jauh lebih besar, yaitu sekitar Rp 334 miliar untuk gedung lima lantai, justru tak kunjung dimulai,” tegas Panahatan.

Menurutnya, proyek drainase yang pembangunannya sudah berjalan sejak Februari 2025 ini belum pernah diwacanakan sebelumnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan menyampaikan pertanyaan langsung kepada Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Wali Kota, Li Claudia Chandra, dalam waktu dekat.
Dari hasil investigasi BatamNow.com, janji revitalisasi Pasar Induk Jodoh telah berulang kali disampaikan oleh Pemko Batam, termasuk oleh Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Batam, Gustian Riau. Ia sebelumnya menyatakan bahwa revitalisasi akan direalisasikan pada tahun 2024, setelah sempat ditunda pada tahun-tahun sebelumnya.

Alih-alih melanjutkan pembangunan pasar yang telah diratakan sejak 2021, Pemko Batam kini justru memprioritaskan proyek sistem drainase, termasuk pembangunan rumah pompa dan fasilitas pelengkapnya. Proyek ini resmi dimulai pada 6 Februari 2025 dengan dana bersumber dari APBD Kota Batam Tahun Anggaran 2025.
Sayangnya, baik Gustian Riau maupun Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Pemko Batam, Suhar, hingga kini belum memberikan klarifikasi kepada media meski telah dihubungi melalui pesan WhatsApp untuk dimintai keterangan.
Padahal, revitalisasi Pasar Induk Jodoh sebelumnya telah memperoleh dukungan dari Kementerian Perdagangan dan disebut-sebut akan menjadi pusat perekonomian baru yang tertata dan modern di Batam.
Perubahan arah proyek ini membuat para pedagang yang sempat menaruh harapan tinggi atas pembangunan kembali pasar menjadi kecewa. “Kami sangat kecewa. Janji revitalisasi pasar hanya jadi omongan dari Pemko Batam selama bertahun-tahun,” ungkap sejumlah pedagang kecil di kawasan Jodoh.

Sebagai informasi, Pasar Induk Jodoh dibangun pada tahun 2003 oleh kolaborasi antara Pemko Batam, Otorita Batam (kini BP Batam), dan Kementerian Kimpraswil. Namun kondisi fisiknya kian memburuk hingga akhirnya seluruh pedagang dipindahkan dan bangunan pasar diratakan pada tahun 2021. Wali Kota Batam saat itu, Muhammad Rudi, sempat berjanji akan melakukan revitalisasi menyeluruh.
Namun selama dua periode kepemimpinan Muhammad Rudi (2014–2019 dan 2019–2025), proyek tersebut tak pernah terealisasi. Hingga akhir masa jabatannya, proyek revitalisasi Pasar Induk Jodoh kembali tenggelam dalam ketidakpastian. (Red)

