BatamNow.com – Proyek kerja sama antara Rumah Sakit BP Batam (RSBP) dan Mayapada Healthcare serta Apollo Hospitals India sempat menuai kontroversi setelah adanya perubahan informasi terkait pengelolaan rumah sakit tersebut.
Pada Kamis, 15 Mei 2025, Ariastuty Sirait, Anggota/ Deputi Bidang Pelayanan Umum (BPU) BP Batam, mengunjungi RSBP Batam untuk meninjau pelayanan di rumah sakit tersebut. (Dikutip dari siaran pers BP Batam Nomor: 166/SP-A1.5/5/2025)
Saat kunjungannya dalam publikasi itu, Ariastuty memuji pelayanan di RSBP Batam yang dinilai sudah cukup baik dan sesuai standar. Ia juga mengungkapkan rencana pengadaan peralatan medis baru, seperti MRI dan mesin hemodialisis, untuk meningkatkan kualitas layanan rumah sakit.
Namun jauh sebelumnya, RSBP Batam sempat diinformasikan akan dikerjasamakan dengan Mayapada. Bahkan, Ariastuty sebelumnya dengan lantang menyebut bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2024, yang mengatur Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan Kesehatan di Sekupang, Batam.
Ariastuty menyebutkan kerja sama bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mempercepat pembangunan ekonomi di kawasan Batam.
Tapi, ketidakkonsistenan informasi mengenai pengelolaan RSBP Batam ini masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan publik.
Pantauan BatamNow.com, banyak yang mengkritisi kurangnya transparansi terkait keputusan ini, terutama setelah Ariastuty mengunjungi rumah sakit tersebut.
Di periode baru ini, Kepala BP Batam Amsakar Achmad, dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, ditegaskan bahwa RSBP Batam masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan tidak perlu dikerjasamakan dengan pihak luar.
Pernyataan ini semakin memperuncing kebingungan publik mengenai apakah rencana kerja sama dengan Mayapada yang sudah diumumkan sebelumnya bisa dibatalkan begitu saja tanpa penjelasan yang jelas dan transparan.
Mayapada Healthcare dan Apollo Hospitals India sebelumnya disebutkan akan membangun KEK Pariwisata dan Kesehatan di dekat RSBP Batam dan seolah akan dikebut penyelesaiannya dengan turunnya manajemen Mayapada ke lahan yang hendak dibangun.
Saat ini, hanya ada lahan sekitar 1,5 hektare yang sudah diratakan dan kosong, setelah rencana besar tersebut diumumkan dua tahun lalu.
Dan fakta lapangan menunjukan hingga kini, belum ada tanda-tanda proyek tersebut akan direalisasikan. (Red)

