BatamNow.com – Perwakilan ibu rumah tangga alias emak-emak dari Tanjung Sengkuang tak mampu membendung lagi keresahan mereka atas krisis air minum perpipaan yang didera sudah berbulan-bulan ini.
Mereka sampai mengutuk kinerja PT Air Batam Hilir (ABH), mitra BP Batam dalam pengoperasian dan perawatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) perpipaan di Batam.
“Katanya kalau air mati silakan order. Saya sudah telepon lima kali, kalian nggak kirim. Jahanam kalian!” kata seorang emak-emak saat orasi dalam aksi demonstrasi di depan Kantor PT ABH, di Batam Center, Kamis (22/01/2026).
Menurutnya, hanya dua tangki air yang dijatah untuk satu RT, dan itu tidak mencukupi kebutuhan semua warga.
“Kalian bilang lewat RT, tapi kalian jatahi satu RT, dua tangki. Kalian kira kami makan, minum, cebok, gak butuh air,” tanyanya.
Ia mengingatkan bahwa apa yang dialami warga Tanjung Sengkuang ini bisa saja berbalik kepada para pegawai PT ABH.
“Mungkin kami sekarang susah di dunia, tapi kalian akan susah di akhirat. Amin” teriaknya dan diaminkan warga lainnya yang ikut menjadi peserta demo.

Tiga Tuntutan Warga
Warga Tanjung Sengkuang mendatangi Kantor PT ABH ini usai menggelar unjuk rasa di Kantor BP Batam. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas krisis air bersih yang telah berlangsung hampir satu tahun di wilayah mereka.
Setiba di lokasi, terlihat Kantor ABH sedang tutup dengan papan pemberitahuan yang melekat di pintu depannya.
Setelah massa berkumpul di depan kantor, orator aksi, Syamsuddin menyampaikan tiga tuntutan warga (Tritura). Tak ada perwakilan PT ABH yang hadir menghadapi warga.
Pertama, warga menuntut ABH segera turun ke lapangan untuk memperbaiki instalasi air agar aliran kembali normal.
Kedua, warga meminta agar tagihan air ditiadakan bagi pelanggan yang mengalami mati air, terhitung mulai hari ini hingga tiga bulan setelah air benar-benar mengalir normal, sebagai bentuk kompensasi.
Ketiga, apabila dua tuntutan tersebut tidak dipenuhi, warga meminta ABH mundur sebagai pengelola air bersih di Batam.
Salah seorang warga menyampaikan kekecewaannya karena pihak ABH tidak kunjung menemui massa aksi.
“Kalau bapak-bapak di dalam tidak keluar, tidak menerima kami, pakai rok. Hadapi saya sebagai perempuan,” ujar emak-emak lainnya.
“Di rumah kami ada bayi, ada orang tua yang sakit, tapi air sama sekali tidak ada. Ditelepon ya, sebentar lagi pengurusan tangki. Apa yang ada? Nihil. Kami sampai bentrok dengan orang sebelah karena berebut air,” ujarnya dengan suara lantang.

Tak Ada Solusi di Batam, Akan Surati Pusat
Koordinator aksi sekaligus warga Tanjung Sengkuang, Harisdianto, menyebut belum ada solusi konkret untuk menjawab krisis air yang menerpa warga di Kecamatan Batu Ampar itu.
Padahal warga yang adalah konsumen itu ssecara estafet menggelar demo hari ini, mulai dari Kantor Wali Kota Batam, kantor DPRD, kantor BP Batam, hingga PT ABH.
Ia menceritakan, saat ini warga harus membeli air kemasan galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun tak ada kompensasi dari PT ABH.
“Ketika airnya mati, warga sendiri yang harus membeli air. Setiap hari untuk mandi, mau 3 galon – 4 galon. Kalau 4 galon Mindy sudah Rp 10.000 satu galon sudah Rp 40.000. Jadi ketika tagihan datang, kami ditagih. Sedangkan kami juga beli air di luar ketentuan itu. Ini yang sangat disayangkan,” ucap Harisdiantokepada BatamNow.com, Kamis (22/01/2026).

Ia mengatakan, persoalan krisis air ini sudah berlarut-larut tanpa solusi konkret dari penyelenggara maupun pengelola SPAM.
“Kalau tindakan solusi air tangki atau tandon air, menurut kami bukan solusi. Tapi bagaimana warga mendapatkan fasilitas air itu, kecukupan air sebagiamana yang sudah dijamin Undang-undang. Itu solusi yang harus mereka kerjakan,” tegasnya.
Karena belum ada tercapai solusi di Batam, kata Harisdianto, pihaknya akan coba menyampaikan masalah krisis air ini ke tingkat pusat.
“Kami akan berkirim surat dengan tuntutan tadi, entah itu melalui surat pos, atau melalui portal web, atau mungkin kami bisa saja langsung ke Jakarta,” jelasnya.
Demo di BP Batam Sempat Memanas Juga
Sebelumnya, aksi warga di Kantor BP Batam juga sempat memanas akibat adu argumen antara warga dengan Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra.
Ketegangan terjadi saat Amsakar menilai orator aksi menyerang secara personal, sehingga memicu reaksi warga. Amsakar bahkan sempat turun dari mobil dan hendak mendekati massa sebelum ditahan petugas.
Situasi kembali memanas ketika Li Claudia Chandra mendekati gerbang dan menunjuk orator aksi sambil melontarkan pertanyaan keras. Pernyataan tersebut memicu respons warga yang langsung bereaksi dan tensi suasana pun sempat meningkat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak PT Air Batam Hilir terkait tuntutan warga tersebut. (H/D)

