BatamNow.com – Krisis air yang melanda warga Sagulung Berseri, Kota Batam, memasuki hari keenam. Kondisi tersebut mendorong puluhan warga menggelar aksi spontan di titik pengisian truk tangki air (filling point) di depan Rumah Sakit (RS) Graha Hermine, Batu Aji, Senin (31/08/2026) pagi.
Warga yang berkumpul ikut aksi berasal dari RT 002 dan RT 009/RW 006, Sagulung Berseri mewakili sekitar 250 kepala keluarga (KK) di sana.
Mereka datang untuk “merazia” truk tangki air yang selama enam hari terakhir disebut tidak kunjung mereka dapatkan, meski permintaan telah disampaikan melalui saluran resmi sebagaimana diumumkan.
Warga RT 009/RW 006 Sagulung Berseri, Arianto Situmorang, mengatakan warga menuntut agar PT Air Batam Hilir (ABH) memastikan air mengalir ke permukiman mereka selama 24 jam.
“Tuntutan kami minta kepada pihak ABH biar hidup air di lingkungan kami 24 jam,” katanya kepada BatamNow.com.
Ia menjelaskan, selama puluhan tahun air hanya mengalir saat tengah malam, itu pun hanya beberapa jam.
“Tuntutan kami, poin pertama minta air hidup 24 jam,” tegasnya.
Namun, kini kondisi makin parah. Sebab aliran air mati total falam enam hari ini.
“Kondisi sekarang kita sudah alami satu minggu tidak ada mengalir apapun. Kita sudah koordinasi kepada pihak-pihak terkait, tidak ada tanggapan apa-apa,” jelasnya.
Menurut Arianto, warga juga telah berulang kali menanti distribusi air menggunakan truk tangki, namun tidak kunjung mendapatkannya.
“Sudah bolak-balik, tidak ada sama sekali,” ucapnya.
Kini, mereka terpaksa merazia truk tangki air ABH sebab merasa seperti didiskriminasi dalam pemenuhan suplai air saat buruknya pelayanan ABH yang menjadi biang masalah.
“Tujuan kita kalau ada lori, kita mau tahan biar semua sama rata. Merasakan, semuanya,” kata Arianto.
Ia juga mempertanyakan kondisi aliran air yang hingga Senin (31/08) pagi ini belum kunjung normal meski pekerjaan perbaikan pipa telah selesai dilakukan.
“Justru karena itu, saat ini sampai sekarang satu tetes pun air tidak mengalir ke tempat kita,” tukasnya.
Selama enam hari tanpa aliran air, warga terpaksa mencari dan membeli air sendiri. Namun, menurut Arianto, mendapatkan air juga tidak mudah karena harus mengantre.
“Cari air masing-masing. Kita juga berusaha beli, itu pun antre, tidak dapat juga. Sampai sekarang, kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi,” tandasnya.
Arianto meminta pihak PT ABH segera menyelesaikan persoalan tersebut. Ia bahkan meminta pejabat perusahaan yang dinilai tidak mampu menangani persoalan pelayanan air untuk turun dari jabatannya.
“Pejabat PT ABH kalau tidak mampu mengatasi masalah ini, silakan turun, ganti dengan orang yang kompeten,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada Kepala BP Batam, Amsakar Achmad terkait posisi PT ABH sebagai mitra BP Batam yang dipilih lewat tender (lelang).
“Pokoknya itu, kalau memang tidak kompeten, silakan itu diputus hubungannya dengan pihak ABH. Karena ini kan mitra, kalau mitra berarti dia harus tanggung jawab mengatasi masalah air yang ada di sini. Jangan kita disengsarakan, masyarakat miskin di sini,” terangnya.
“Kalau tidaknada tanggapannya, kami akan menduduki kantor ABH yang ada di SP,” ucap Arianto.
Emak-emak Dibikin Susah: Anak Sekolah Tak Mandi
Keluhan serupa disampaikan Rismawati Simanjuntak, warga RT 009/RW 006 Sagulung Berseri, Kelurahan Sei Lekop, Kecamatan Sagulung.
Perwakilam emak-emak itu mengungkapkan bahwa mereka dibikin susah. Krisis air telah mengganggu kebutuhan dasar keluarga, termasuk anak-anak yang hendak berangkat sekolah.
“Kami sangat membutuhkan air. Bahkan anak sekolah pun tidak mandi karena tidak ada air. Kami memohon kepada ABH, 24 jam kalu bisa kami harus hidup air,” katanya dengan suara lantang.

Selama ini, mereka harus begadang tiap malam untuk menunggu aliran air. Dan dalam enam hari ini, aliran air mati total.
Rismawati mengatakan warga tidak menuntut hal lain selain ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya memohon dan meminta. Ibu-ibu rumah tangga butuh air. Kami tidak butuh apa-apa selain air, air kehidupan,” tegasnya.
Kondisi sulit tersebut, kata dia, bahkan membuat warga terpaksa mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Untuk memandikan anak kita, air comberan yang di Mata Kucing kami mengambil dari situ, kami sewa pickup untuk mengambil air comberan di pinggir jalan,” keluhnya.
Ia pun merasa miris melihat kehidupan mereka yang kebutuhan dasarnya berupa air perpipaan tidak dapat dipenuhi 24 jam dalam sehari.
“Alangkah sedihnya kami hidup ini. Padahal kami membayar, lho. Tolonglah diaktifkan dulu air untuk kami,” katanya.
“Kenapa yang lain hidup, kami tidak bisa hidup di RT kami. Apa yang membuat tidak bisa hidup air di RT 009/ RW 006,” lanjutnya.
Rismawati menambahkan, warga RT 009/RW 006 bergabung dalam aksi tersebut karena selama ini mereka merasa tidak mendapatkan pasokan air yang memadai.
“Datang air sekali cuma dua tangki. satu drum untuk satu rumah tangga. Bayangkan, apa itu cukup untuk kami semua?” jelasnya.
Warga Minta Tidak Lagi Diberi Janji
Rismawati juga menyampaikan harapan kepada para pemimpin daerah, termasuk Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, agar turun tangan membantu warga yang terdampak krisis air.
“Siapapun wali kotanya, siapa pun di sini, siapa pun yang duduk di kursi atasan, kami butuh bantuan mereka untuk kami warga. Jangan janji-janji terus. Kami sudah bosan makan janji selama ini,” tegasnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, warga masih berkumpul di sekitar filling point di depan RS Graha Hermine, Batu Aji. Dan selama sekitsrndua jam mereka ‘razia’ di sana, sama sekali tidak ada truk air ABH yang datang ke fasilitas pengisian ulang tangki berasal dari jaringan perpipaan –aset SPAM BP Batam itu. (D)
