BatamNow.com – Pembangunan rumah sakit bertaraf internasional oleh Mayapada Healthcare di kawasan KEK Sekupang, Batam, hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti.
Pantauan BatamNow.com di Sekupang, tepatnya di sudut jalan menuju Rumah Sakit BP Batam (RSBP Batam), lahan seluas 2,9 hektare yang direncanakan menjadi lokasi proyek masih dalam kondisi kosong.
Area tersebut dipagari seng setinggi sekitar dua meter dengan pintu yang selalu tertutup. Saat dikonfirmasi di lokasi, tidak tampak aktivitas maupun petugas yang berjaga.
Di dalam area hanya terlihat sebuah bangunan sementara berupa direksi keet, tanpa tanda-tanda kegiatan konstruksi.
Kondisi ini kontras dengan ambisi besar proyek Mayapada Apollo Batam International Hospital yang sebelumnya digadang-gadang menjadi ikon wisata kesehatan di Batam.
Rumah sakit ini direncanakan berdiri di atas lahan 2,9 hektare, dengan tahap awal pembangunan seluas 1,68 hektare dan target penyelesaian pada 2027.
Proyek yang ditaksir menelan investasi sekitar Rp 2 triliun ini merupakan kolaborasi antara Mayapada Healthcare dan Apollo Hospitals, dengan fokus layanan pada kardiologi, onkologi, dan ortopedi.
Selain itu, rumah sakit ini dirancang mengusung konsep green hospital, terdiri dari 11 lantai, satu semi-basement, serta kapasitas hingga 250 tempat tidur.
Fasilitas ini ditargetkan menjadi rumah sakit internasional swasta pertama di kawasan KEK, mengikuti pengembangan rumah sakit serupa di KEK Sanur, Bali.
Namun demikian, informasi yang dihimpun menyebutkan pembangunan belum berjalan akibat sejumlah kendala. Salah satu sumber menyebut adanya keterbatasan pendanaan di internal Mayapada Group.
Sementara sumber lain mengungkap persoalan legalitas lahan yang belum sepenuhnya tuntas.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Mayapada Hospital yang dikonfirmasi melalui email [email protected] belum memberikan tanggapan.
Konfirmasi itu dikirimkan melalui email dikarenakan kantor Mayapada Hospital belum ada di Batam.
Hal serupa juga terjadi pada Direktur Pengolahan Lahan BP Batam, Harlas Buana, yang belum merespons konfirmasi terkait status lahan.
Sebelumnya, Mayapada juga sempat merencanakan pengambilalihan operasional RSBP Batam yang lokasinya tidak jauh dari area proyek.
Proyek ini sejak awal dipromosikan sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kemandirian layanan kesehatan sekaligus menekan arus pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri.
Kehadiran rumah sakit internasional di KEK pariwisata dan kesehatan Batam bahkan disebut mampu menahan potensi kebocoran devisa hingga ratusan triliun rupiah.
Seremoni peletakan batu pertama pada akhir Agustus 2025 dihadiri Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan perwakilan Dewan Nasional KEK.
Saat itu, proyek ini disebut sebagai langkah strategis menjadikan Batam sebagai pusat investasi sekaligus destinasi wisata kesehatan.
Namun hingga kini, realisasi di lapangan belum berbanding lurus dengan besarnya rencana yang telah diumumkan. (A/Red)
