BatamNow.com – Perwakilan aliansi pemuda dan Warga Bengkong Sarmen, Habibie, meluapkan kekecewaannya terhadap pelayanan air minum BP Batam yang dinilai bermasalah dan tidak kunjung memberikan solusi bagi warga Perumahan Bengkong Sarmen Raya, RT 04/RW 05, Kota Batam.
Kekecewaan itu disampaikan Habibie dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Kota Batam, SPAM BP Batam dan PT Air Batam Hilir (ABH), Senin (14/09/2026).
Habibie menilai warga sudah terlalu lama menghadapi krisis air. Kondisi mati air di wilayah RT 04, menurutnya, telah berlangsung sekitar empat bulan.
Ia menegaskan warga tidak lagi membutuhkan penjelasan panjang mengenai persoalan teknis distribusi air. Warga membutuhkan kepastian kapan air kembali mengalir.
“Kami sudah beraudiensi dengan ABH dan dijanjikan dua minggu untuk konektivitas atau penyaluran pipa karena air mati. Pertama mati itu sekitar dua bulan,” ujar Habibie dalam RDP.

Namun, janji tersebut belum menyelesaikan persoalan. Bahkan, hingga kini warga masih mengalami mati air.
“Kami tidak mau demo dulu. Kami audiensi, menyampaikan masalah kami. Kami ingin ada tanggung jawab dari pihak SPAM Batam serta ABH,” katanya.
Habibie juga mempertanyakan alasan gangguan distribusi yang disampaikan pihak SPAM BP Batam. Menurutnya, persoalan tersebut sulit diterima karena kawasan lain yang berada di sekitar permukiman warga masih mendapatkan aliran air.
“Di belakang rumah itu, Bengkong RT 03, air 24 jam walaupun kecil. Posisinya lebih tinggi. Jadi kami selama ini memahami mungkin karena perbaikan, tapi itu tidak sesuai dengan yang disampaikan SPAM Batam tadi,” ujarnya.

Warga Tak Lagi Butuh Penjelasan
Kekecewaan serupa disampaikan perwakilan warga RT 04, Rio Napitupulu. Ia secara tegas meminta pihak pengelola tidak lagi memberikan pemaparan yang menurut warga tidak menghasilkan solusi.
“Maaf kepada bapak-bapak yang sudah memaparkan presentasinya. Bagi kami sebenarnya ini tidak perlu. Kami bukan kuliah lagi, Pak. Yang kami butuhkan saat ini adalah solusi,” tegas Rio.
Rio juga mempertanyakan alasan kebocoran pipa yang disampaikan sebagai salah satu penyebab gangguan air.
“Ketika Bapak berbicara air bocor, kami sudah lama mati air sebelum itu. Kenapa Bapak mencari alasan bocor? Bagi kami perbaikan itu tidak masuk akal. Catatan pertemuan kita hari ini, apa solusinya?” ujarnya.

Menurut Rio, persoalan tersebut sudah beberapa kali dibahas bersama pihak ABH. Namun, warga RT 03 dan RT 04 tetap mengalami persoalan serupa.
“Pertemuan ABH selama dua kali ini seperti lingkaran. Kami RT 03 dan 04 tidak mengalir, tapi sekitarnya mengalir. Ini bagaimana?” katanya.
Ia menegaskan kondisi yang dialami warga bukan sekadar tekanan air rendah. Dalam beberapa waktu, air bahkan mati total selama berjam-jam hingga seharian.
“Sampai seharian mati total. Menetes saja tidak ada. Kalau kita berbicara tandon ada stok, kenapa kami yang di sekitar sini tidak mendapatkan air sama sekali, sementara yang lainnya ada, walaupun malam,” ujarnya.
Rio menilai persoalan air tidak bisa terus dijawab dengan alasan teknis karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Ini kehidupan. Air ini adalah sumber kehidupan manusia. Jadi tolong dipahami, kami sangat membutuhkan solusi, bukan alasan,” tegasnya.

Janji Air Normal 14 September Tak Terwujud
Warga juga mempertanyakan janji bahwa distribusi air akan kembali normal pada 14 September 2026.
“Seperti kata Pak Dewan tadi, tanggal 14 saja tidak terealisasi. Bagaimana ini? Apakah hanya untuk menenangkan masyarakat sesaat?” kata Rio.
Meski kecewa, ia mengatakan warga masih memilih menyelesaikan persoalan melalui jalur dialog dan RDP.
“Kalau kami tidak sabar, pasti kami akan anarkis, melakukan aksi. Tapi kami sabar. Cuma kami tidak akan sabar kalau hanya alasan demi alasan yang dilontarkan kepada kami,” tegasnya.
Enam Tuntutan Warga Bengkong
Dalam RDP tersebut, warga Bengkong Sarmen Raya menyerahkan pernyataan dan tuntutan kepada SPAM BP Batam, PT ABH/Moya serta Komisi III DPRD Kota Batam.
Ada enam tuntutan utama warga yang dibacakan oleh Habibie sebagai perwakilan.
Pertama, SPAM BP Batam dan PT ABH/Moya diminta segera memeriksa dan memperbaiki jaringan pipa air di sejumlah blok, yakni Blok J, K, X, Y, L, B, W dan N.
Perbaikan tersebut ditujukan untuk mengembalikan pelayanan air bersih bagi sekitar 60 rumah warga agar kembali normal dan mengalir secara berkelanjutan.
Kedua, selama perbaikan belum selesai, warga meminta pihak pengelola menyediakan sedikitnya enam tangki air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sekitar 60 rumah terdampak.
Ketiga, warga meminta SPAM BP Batam dan PT ABH memberikan kepastian serta jadwal tertulis pelaksanaan perbaikan, termasuk target waktu penyelesaian.
Keempat, warga meminta Komisi III DPRD Kota Batam melakukan pengawasan langsung dan memfasilitasi penyelesaian krisis air serta memastikan hasil kesepakatan RDP dijalankan.
Kelima, warga meminta evaluasi terhadap kinerja pengelola SPAM/ABH apabila tidak mampu memberikan pelayanan dan menyelesaikan persoalan air sesuai hasil RDP dan tuntutan masyarakat.
Keenam, warga meminta Direktur SPAM Batam mengundurkan diri atau dicopot dari jabatannya apabila tuntutan warga tidak diindahkan.
“Kami hanya meminta solusi. Kami meminta tanda tangan Direktur PT Air Batam Hilir pakai meterai, Direktur SPAM BP Batam pakai meterai, disaksikan oleh kami sebagai warga, Ketua RW, Ketua RT 04 dan Komisi III,” ujar Habibie.

Ia kembali menegaskan warga tidak ingin persoalan empat bulan mati air kembali dijawab dengan penjelasan teknis.
“Hari ini kami minta solusinya, Pak. Bukan panjang lebar lagi, karena sudah empat bulan mati air,” pungkasnya. (H)

