Hai Orangtua, Jangan Paksa Anak Anda untuk Kuliah - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Hai Orangtua, Jangan Paksa Anak Anda untuk Kuliah

08/Des/2021 18:59

Berbicara tentang kehidupan kampus, sebenarnya ada beberapa hal yang jarang dibahas dan menjadi masalah yang sering dialami mahasiswa.

Di kondisi ini banyak mahasiswa yang merasa kesulitan untuk bisa sharing atau curhat kepada orang yang dianggapnya layak.

Sebenarnya ada begitu banyak teman mahasiswanya yang bisa saja diajak untuk curhat, namun belum tentu sisi “trust” dan nyaman dalam bercerita itu bisa didapat dari teman-temannya tersebut. Begitu juga dengan kenyamanan yang mungkin sulit didapat dari para dosennya.

Situasi dan karakter mahasiswa, dosen dan kampus itu sendiri sangatlah bebeda satu sama lainnya, sehingga masih banyak mahasiswa sulit terbuka terhadap masalah yang digumulinya.

Adapun masalah yang dimaksud tersebut adalah banyak mahasiswa yang sebenarnya tidak ingin lanjut kuliah dan mereka akhirnya lanjut kuliah hanya karena dipaksa oleh orangtuanya atau untuk menyenangkan orangtuanya saja.

Dan ada juga sebagian dari mereka yang akhirnya kuliah sesuai jurusan pilihan orangtuanya, namun bukan jurusan pilihan mahasiswa itu sendiri.

Setiap orangtua tentunya ingin sekali memberikan yang terbaik buat setiap putra-putrinya. Orangtua yang semestinya lebih berpengalaman dari anak-anaknya, sering sekali berpikiran bahwa kuliah adalah solusi buat masa depan anak-anaknya, dan merasa pilihan jurusannyalah yang menjadi jurusan yang bisa membuat ekonomi anaknya ke depan lebih baik dan cenderung aman.

Tentu saja ini semua adalah niat baik dari orangtua yang harus dihargai dan diketahui setiap anak-anaknya. Hanya saja orangtua juga perlu mengetahui bahwa yang terpenting dalam kehidupan seorang anak adalah bagaimana mereka harus mendapatkan kebahagiaan mereka.

Hal ini juga pernah dikatakan seorang pentolan The Beattles, John Lennon yang pernah mengatakan:

“Ketika saya berusia 5 tahun, ibu saya selalu mengatakan kepada saya bahwa kebahagiaan adalah kunci kehidupan. Ketika saya pergi ke sekolah, mereka bertanya kepada saya ingin menjadi apa ketika telah dewasa, saya menuliskan ‘bahagia’. Mereka bilang saya tidak mengerti tugas yang diberikan, dan saya mengatakan kepada mereka. Mereka tidak mengerti kehidupan.”

Di beberapa pengalaman menjadi dosen, sering sekali kami menemukan mahasiswa yang masuk ke kampus perhotelan bukan karena pilihannya melainkan karena pilihan orangtuanya.

Di posisi mahasiswa, mereka akhirnya menerima pilihan dengan banyak alasan seperti tidak mau ribut dengan orang yang melahirkan dan membesarkannya, atau ada juga alasan klasik yaitu ingin membahagiakan orang tuanya.

Sementara itu di waktu yang berbeda, kami juga pernah bertanya ke orangtua mahasiswa dan bertanya hal yang sama. Adapun jawaban yang kami dapatkan beragam mulai dari alasan bahwa jurusan tersebut punya masa depan dan juga alasan seperti tidak mau jauh dari anaknya dan menganggap pilihan itu adalah jurusan yang lagi “ngehits”.

Apapun jawaban dari mahasiswa dan orangtuanya, kami menemukan ada hal yang lebih serius dari sekadar jawaban tersebut.

Sebagai contoh ketidakberhasilan orangtua membuat anaknya nyaman dan terbuka ketika berdiskusi, atau orangtua yang cenderung memaksakan pemikirannya dan kurang realistis dengan kemajuan teknologi, kemajuan kehidupan dan masa depan itu sendiri.

Serta yang lebih buruk dari itu semua adalah sebuah kata yang kita sebut talenta, bakat atau “passion”.

Mahasiswa tidak menjalani hidup dan membangun masa depannya dari apa yang benar-benar ia sukai atau apa yang paling ia cintai, begitu juga orangtua tidak secara sadar mengenali bakat anak-anaknya sejak kecil.

Terlebih lagi orangtua tidak mendorong anak-anaknya untuk bisa menjalani hidup dengan melakukan apa yang paling dia cintai.

Akhirnya tidak mengejutkan ketika banyak mahasiswa yang pada akhirnya lebih nyaman berdiskusi dengan orang lain daripada dengan orangtuanya sendiri.

Pada akhirnya mahasiswa juga banyak yang berpikir orang lain lebih mau mendengarkan permasalahan dan apa yang ia pikirkan.

Hal ini tidaklah salah tentunya, apalagi seandainya mahasiswa tersebut mendapatkan orang yang baik dan tepat untuk membimbingnya namun sebaliknya akan sangat buruk apabila mahasiswa tersebut mendapatkan teman bicara yang salah dan membawa dia kepada hal-hal yang merusak masa depannya sendiri.

Terlebih lagi harusnya kita bisa mewaspadai banyaknya kenakalan remaja yang berawal dari kejadian-kejadian seperti ini.

Sementara itu di posisi orangtua, ada banyak yang sulit membagi waktunya untuk bisa berdiskusi dengan anak-anaknya.

Atau ketika memiliki waktu pun, banyak dari orangtua yang diganggu oleh panggilan telepon maupun kebiasaan menjawab chattingan WhatsApp di handphonenya.

Orangtua tidak berupaya dari awal menyadari kebutuhan primer seorang anak adalah waktu atau quality time bukan uang atau kebutuhan ekonomi saja.

Sering kali fokus orangtua kepada ekonomi justru membawa anak kepada masalah besar bahkan masalah yang sangat besar dari ekonomi itu sendiri.

Namun apabila orangtua memberikan prioritas waktunya kepada anak sering sekali masalah ekonomi sebesar apapun ke depannya, mampu terpecahkan karena anak mendapatkan solusi dari quality time yang ia dapat dari orangtuanya.

Pentingnya Kebersamaan

Dan ada juga kekeliruan lainnya yang sebenarnya terjadi di awal, dimana banyak budaya di keluarga yang kurang mengutamakan kebersamaan.

Artinya ada banyak orangtua lupa bahwa pentingnya berbagi waktu dengan anak-anak serta bertukar pikiran mulai dari saat mereka masih kecil.

Banyak orangtua yang kelelahan setelah pulang dari kerja dan langsung tidur tanpa harus bermain terlebih dahulu dengan anak-anaknya.

Ada banyak rasa capek orangtua yang justru memupuskan kerinduan anak yang ingin bermain dengan bapaknya.

Anak menunggu dari pagi sampai orangtuanya pulang kerja untuk hal-hal yang mau ia ceritakan atau tunjukkan, namun orangtuanya justru tidak mampu menyiasati rasa capenya dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anaknya.

Tanpa disadari hal ini menjadi kebiasaan dan kebiasaan itu menjadi sebuah budaya keluarga. Ketika anak tumbuh dewasa dan akan kuliah, hal inilah yang terjadi. Orangtua tanpa sadar “memaksa” anaknya mengikuti keputusannya. Orangtua kurang lentur dalam urusan masa depan anak-anaknya.

Orangtua cenderung terpusat pada dirinya sendiri dalam urusan masa depan anak, padahal ini tentang masa depan anak bukan masa depannya. Kedua hal tersebut jelas berbeda, berbicara masa depan anak harusnya mendengarkan kebutuhan anak, ketertarikan anak dan juga mimpi anak. Anak butuh mentoring yang mampu mengguide dirinya bukan seorang hakim yang memberikan keputusannya.

Sebagai seorang dosen, kami melihat ada begitu banyak mahasiswa yang menyia-nyiakan waktunya ketika harus kuliah dengan jurusan yang menjadi pilihan orangtuanya. Mereka tidak antusias dan cenderung pasrah apabila dihadapkan dengan perkuliahan. Faktanya tidak ada pencapaian hebat di dunia ini yang lahir tanpa adanya antusias.

Lebih baik seorang mahasiswa tersebut bisa mendapatkan pilihannya dan tercebur dengan proses yang ia sukai. Seandainya pun mahasiswa tersebut mendapatkan hambatan atau masalah dari proses tersebut maka ia akan dengan senang hati berusaha serta mendapatkan solusinya. Dalam hal ini penting untuk mahasiswa mengetahui bahwa kita harus mengerjakan apa yang kita cintai dan mencintai apa yang kita kerjakan. Dengan pemahaman ini, mahasiswa punya keberanian dan kepercayaan diri menghadapi masa depan.

Inilah alasan kenapa teramat penting untuk orangtua mengajarkan sedini mungkin kepada anak-anaknya tentang kebahagiaan, tentang menemukan kebahagiaan bukan terburu-buru memaksakan seorang anak untuk menjadi pintar bahkan mencekoki anak untuk menjadi kaya dengan semua kemungkinan pendapatan yang bisa ia dapatkan.

Orangtua Jangan Latah Tren

Orangtua harusnya tidak latah dengan semua tren yang ada dan meminta anaknya untuk terjun di lautan yang sama dengan kebanyakan orang lainnya. Orang tua harus bisa memahami bahwa anaknya adalah unik, anaknya adalah sebuah talenta special yang dibrikan Tuhan untuk mewarnai dunia dan kehidupan.

Karena sebenarnya pun Tuhan menciptakan kita berbeda satu sama lainnya, kita tidak diproduksi massal yang artinya sama dengan manusia lainnya. Ada panggilan hidup (calling) seseorang yang harus ditemukannya. Sehingga peran orangtua semakin penting untuk bisa membantu anak menemukan keunikan tadi dan membimbingnya dalam mengoptimalkan keunikan tersebut. Dengan cara seperti itu hidup anak tersebut akan menjadi berkat dan memberkati lingkungannya. Dimana pun ia berada, ia akan menjadi terang buat manusia lainnya.

Sehingga pada akhirnya kita harus menyadari keputusan mengizinkan seorang anak untuk kuliah bukanlah sebuah prioritas. Begitu juga dengan pilihan jurusan yang harus ia ambil ketika harus kuliah, karena jauh lebih penting dari itu semua adalah memberikan kebijaksanaan kepada anak tentang apa itu kebahagiaan.

Pola pikirnya disini menjadi kunci, dan sebaiknya pola pikir anak juga bersumber dari orangtuanya. Orangtuanya yang selalu memberikan waktunya, yang selalu memberikan “telinganya” untuk anak-anaknya. Bagaimanapun juga kita sedang berbicara tentang mimpi seorang anak, hidup yang indah ini harus dijalaninya untuk menggenapi mimpinya sendiri dan bukan menjalani mimpi Bapak dan Ibunya. Apa pun yang dikatakan orang lain di luar sana, seorang anak harus berjalan dari apa yang ia sukai, karena ketika kita berjalan hanya untuk membuat orang lain senang maka kita akan kecapean dan terombang-ambing ke depannya.

Semoga saja ke depan ada begitu banyak anak/mahasiswa yang berani mengejar mimpinya, dan banyak orangtua yang menginspirasi anak-anaknya tersebut untuk menggenapi mimpinya. Sehingga orangtua akan menjadi sahabat terbaik buat anak-anaknya dan tidak sekedar menjadi orangtua untuk ekonomi anaknya saja.

Salam Sukses Selalu..!!! (*)

SendShare

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com