BatamNow.com – BP Batam mengklaim terjadi peningkatan akumulasi curah hujan di sejumlah wilayah sasaran selama pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 27 Oktober hingga 3 November 2026.
Namun, BP Batam belum membeberkan secara terperinci hasil penyemaian awan, jumlah penerbangan, maupun total anggaran yang digunakan dalam operasi tersebut.
Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga BP Batam, Sthefani Barlian, menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC difokuskan pada daerah tangkapan air (DTA) waduk yang menjadi sumber air baku Batam.
Menurutnya, penyesuaian jadwal operasi dilakukan untuk mengoptimalkan potensi awan hujan di kawasan tangkapan air waduk.
Wilayah sasaran penyemaian meliputi DTA Waduk Duriangkang, Sei Ladi, Sei Harapan, Tembesi, Muka Kuning, Nongsa, Sei Rempang, serta wilayah sekitar Pulau Bintan.
Seluruh penerbangan operasional, kata Sthefani, dilaksanakan berdasarkan kriteria meteorologis dan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan penerbangan.
Berdasarkan data pemantauan BP Batam, terjadi peningkatan akumulasi curah hujan di sejumlah wilayah sasaran dibandingkan periode sebelum OMC.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa OMC hanya berfungsi mengoptimalkan potensi awan alami untuk menghasilkan hujan. Pembentukan hujan tetap dipengaruhi dinamika atmosfer secara keseluruhan.
Terkait dampaknya terhadap ketersediaan air baku, Sthefani mengatakan kondisi tinggi muka air (TMA) waduk dipengaruhi keseimbangan antara air yang masuk (inflow) dari hujan dan air yang keluar (outflow). Itu untuk memenuhi kebutuhan produksi air minum masyarakat setiap hari.
Peningkatan curah hujan melalui OMC diharapkan dapat menjaga pasokan dan daya dukung air baku waduk di tengah konsumsi harian masyarakat.
Namun, dia tambahkan, evaluasi dampak hidrologi secara menyeluruh masih dikonsolidasikan oleh tim teknis internal BP Batam.
Anggaran OMC Belum Diungkap
Mengenai pembiayaan, Sthefani menyatakan penganggaran dan mekanisme pelaksanaan OMC dilakukan secara transparan dan akuntabel sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Skema anggaran, katanya, dihitung berdasarkan standar tarif operasional resmi dan tata kelola pengadaan barang/jasa pemerintah, bukan berdasarkan persepsi tarif untuk setiap penerbangan.
Jumlah penerbangan atau sortie pada setiap periode OMC disesuaikan dengan analisis kondisi cuaca harian, ketersediaan awan potensial, serta rekomendasi teknis BMKG dan tim ahli.
Meski demikian, Sthefani tidak menyebutkan rincian maupun nominal anggaran yang telah dikeluarkan maupun jumlah penerbangan penyemaian awan selama periode operasi tersebut.
Sebagai perbandingan, pelaksanaan OMC pada Mei-Juni 2026 diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 7 miliar.
Kepala BMKG Kota Batam, Ramlan Jambak, sebelumnya mengatakan biaya operasi modifikasi cuaca di sejumlah Batam pada Mei-Juni lalu berkisar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per hari.
Besaran biaya tersebut bergantung pada jenis pesawat, kebutuhan avtur, sewa hanggar, dan intensitas penerbangan. (Red)
