Insiden Maut Berulang di Shipyard PT ASL, ALMI: Reputasi Maritim Batam Terancam - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Insiden Maut Berulang di Shipyard PT ASL, ALMI: Reputasi Maritim Batam Terancam

by BATAM NOW
11/Mar/2026 16:59
Insiden Maut ASL Shipyard Bertambah, Pekerja Subkon Kembali Meninggal Dunia

PT ASL Shipyard Indonesia, di Tanjung Uncang, Kota Batam. (F: BatamNow)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Ketua Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) Batam Osman Hasyim, mendesak pemerintah dan instansi terkait melakukan audit dan investigasi menyeluruh terhadap operasional PT ASL Shipyard Indonesia yang berlokasi di Tanjung Uncang, Batam.

Desakan itu menyusul rentetan kecelakaan kerja fatal di kawasan galangan kapal (shipyard) tersebut.

“Pun dalam proses audit, penghentian sementara seluruh aktivitas galangan dihentikan hingga persoalan keselamatan kerja benar-benar dituntaskan,” kata Osman kepada BatamNow.com di Sukajadi, Batam, Selasa (10/03/2026).

Ketua Forum Masyarakat Peduli Batam Maju (FMPBM), Osman Hasyim. (F: BatamNow)

Sebelumnya, Suprapto Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPL FSPMI) Kota Batam juga mendesak pemerintah menutup PT ASL.

Desakan itu disampaikan sebagai dampak insiden fatal menewaskan 22 pekerja kawasan shipyard dengan korban terbaru 3 kru tugboat Mega pada 6 Maret 2026.

Bahkan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Yassierli, sebelumnya, mengancam manajemen akan merekomendasikan penutupan PT ASL Shipyard jika kejadian terulang dan sepuluh hari kemudian ternyata terulang.

Peringatan keras itu disampaikan saat inspeksi ke PT ASL pada Selasa (24/02/2026) pasca kejadian fatal yang menelan puluhan korban jiwa pekerja di kapal.

@batamnow Kecelakaan kerja kembali terjadi di kawasan galangan kapal (shipyard) PT ASL Shipyard Indonesia, Tanjung Uncang, Kota Batam. Satu unit kapal pandu (tugboat) bernama Mega yang sedang beraktivitas memandu kapal Kyparissia untuk sandar dilaporkan terbalik di perairan sekitar shipyard tersebut pada Jumat (06/03/2026) sore. Insiden tersebut menewaskan tiga orang anak buah kapal (ABK). Informasi yang dihimpun menyebutkan, saat kejadian terdapat lima orang kru di atas tugboat tersebut. Kapal pemandu itu tiba-tiba terbalik ketika sedang melakukan proses pemanduan kapal untuk sandar di area galangan. Akibat peristiwa itu, seluruh kru tercebur ke laut. Dari lima orang kru, satu orang berhasil diselamatkan, tiga orang ditemukan meninggal dunia, sementara satu orang lainnya masih terjebak di tugboat dan belum bisa dievakuasi hingga malam ini. “Satu orang ditemukan selamat, tiga meninggal dunia, yang satu lagi masih berada di dalam kapal dan kita masih belum bisa pastikan,” kata Kapolsek Batu Aji, AKP Bayu Rizky Subagyo kepada BatamNow.com, Jumat (06/03) malam. Menurutnya, penyelam telah mencoba mengevakuasi namun proses dihentikan karenaada tumpahan minyak yang berpotensi membahayakan tim penyelamat. Tiga korban meninggal dunia diketahui bernama Abdul Rahman, Guntur Pardede, dan Jhonson Bartuahman Damanik. Ketiganya telah dievakuasi dan dibawa ke kamar jenazah RS Mutiara Aini Batam. AKP Bayu Rizki menjelaskan kronologi singkat kejadian itu. “Jam 14.30 itu kapal anchor mulai sandar dibantulah sama kapal tugboat. Nah pada pukul 15.00 kapal itu terbalik, kapal tugboat itu,” jelasnya. “Pukul 15.30 itu tim gabungan dari Basarnas dan Polair Polda Kepri tiba di lokasi, langsung upaya evakuasi,” tambahnya. Wakapolsek Batu Aji, Iptu Andi Pakpahan, saat dikonfirmasi awak media juga membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan tugboat yang memandu kapal sandar tiba-tiba terbalik sehingga para kru jatuh ke laut. “Benar telah terjadi dugaan kecelakaan kerja di perairan sekitar galangan kapal ASL. Tugboat yang sedang memandu kapal sandar terbalik saat cuaca hujan dan angin kencang,” ujar Andi. Menurutnya, saat ini pihak kepolisian bersama tim SAR masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kecelakaan tersebut. Pantauan di kamar jenazah RS Mutiara Aini Batu Aji, suasana duka menyelimuti keluarga korban. Sejumlah keluarga terlihat menangis setelah mengetahui anggota keluarga mereka menjadi korban dalam insiden tersebut. Catatan Kecelakaan Kerja di ASL Shipyard Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan kerja di kawasan galangan kapal tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, kecelakaan kerja di PT ASL Shipyard tercatat menelan sedikitnya 19 korban jiwa. Peristiwa kecelakaan terbesar terjadi pada 15 Oktober 2025 ketika kebakaran dan ledakan melanda kapal tanker Federal II yang sedang menjalani perbaikan di galangan tersebut. Insiden itu adalah kejadian kedua pada kapal yang sama dan menewaskan 14 pekerja serta melukai puluhan pekerja lainnya. Sementara ledakan pertama kapal Federal II pada 24 Juni 2025, menewaskan 4 orang dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Sementara pada 29 Desember 2025, seorang pekerja subkontraktor juga dilaporkan meninggal dunia setelah tersengat arus listrik saat melakukan pekerjaan di area galangan PT ASL Shipyard. Jika digabung dengan insiden tugboat terbalik yang terjadi hari ini dan menewaskan tiga ABK, maka dalam kurun waktu 2025 hingga awal 2026 sedikitnya 22 pekerja dan kru kapal dilaporkan meninggal dunia dalam berbagai kecelakaan kerja yang terjadi di kawasan PT ASL Shipyard Indonesia. Sementara Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat inspeksi mendadak ke PT ASL Shipyard Indonesia pada Selasa (14/02), mengungkapkan sudah ada 20 korban jiwa di galangan kapal tersebut… Baca di BatamNow.com #batam #batamnow #batamhits #batamviral #batamnews #batampunyacerita #fyp #batamtiktok #fypdong #semuatentangbatam ♬ original sound – BatamNow.com

ALMI: Audit Menyeluruh PT ASL dan Hentikan Aktivitas

Kembali ke ALMI, Osman Hasyim menegaskan langkah tegas perlu segera diambil agar persoalan tidak berlarut dan berdampak lebih luas terhadap sektor maritim dan ketenagakerjaan di Batam.

Baca Juga:  Peristiwa Maut Berulang, Akankah Izin PT ASL Shipyard Indonesia di Batam Dicabut?

“ALMI meminta audit total dan transparan terhadap galangan ASL. Selama proses tersebut, operasional sebaiknya dihentikan sementara untuk memastikan tidak ada pelanggaran yang merugikan negara, lingkungan, maupun pekerja,” kata Osman, lagi.

Ia katakan, rangkaian insiden fatal yang terus berulang berpotensi mencoreng reputasi industri maritim Batam di mata internasional.

“Jika kejadian seperti ini terus terjadi, Batam bisa dicap sebagai daerah merah oleh komunitas maritim dunia bagi kapal-kapal yang ingin melakukan perbaikan dan docking,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah harus hadir secara nyata untuk memastikan kepastian hukum serta menjaga iklim industri maritim tetap sehat dan berkeadilan.

Selain itu, Osman juga mengingatkan agar nasib para pekerja tetap diperhatikan jika penghentian aktivitas galangan dilakukan.

“Jangan sampai buruh dan tenaga kerja dirugikan. Pemerintah harus menyiapkan skema perlindungan dan solusi selama masa penghentian aktivitas,” tegasnya.

ALMI berharap proses audit dilakukan secara independen dan transparan, sehingga hasilnya dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang adil serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap pengelolaan industri galangan kapal di Batam.

Kejadian Berulang di Kawasan yang Sama

Insiden terbaru terjadi pada 6 Maret 2026. Ketika kapal tugboat TB Mega yang sedang membantu menarik kapal tanker Kyparissia berbendera Malta untuk masuk ke dock di kawasan galangan PT ASL Shipyard Indonesia terbalik di perairan kawasan Shipyard sekitar pukul 14.30 WIB.

Peristiwa itu menewaskan tiga kru kapal, yaitu: Abdul Rahman (kapten kapal), Guntur Pardede (chief), Jhonson Bertuahman Damanik (kepala kamar mesin/KKM).

Dua kru lainnya berhasil selamat, yakni M. Habib Ansyari (chief engineer) yang diselamatkan pada hari kejadian, serta Yusuf Tankin (second engineer) yang berhasil bertahan selama sekitar 38 jam di ruang mesin sebelum dievakuasi.

Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan kerja di kawasan galangan tersebut. Sepanjang 2025, kecelakaan kerja di PT ASL Shipyard Indonesia tercatat menelan sedikitnya 19 korban jiwa.

Peristiwa terbesar terjadi pada 15 Oktober 2025, ketika kebakaran dan ledakan melanda kapal tanker Federal II yang sedang diperbaiki di galangan tersebut. Insiden fatal ini menewaskan 14 pekerja dan melukai puluhan lainnya.

Sebelumnya, 24 Juni 2025, ledakan pertama pada kapal yang sama juga menewaskan 4 pekerja.

Kemudian pada 29 Desember 2025, seorang pekerja subkontraktor dilaporkan meninggal akibat tersengat arus listrik saat bekerja di area galangan.

Dengan tambahan tiga korban dalam insiden tugboat pada Maret 2026, sedikitnya 22 pekerja dan kru kapal dilaporkan meninggal dunia dalam berbagai kecelakaan kerja di kawasan PT ASL Shipyard Indonesia dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. (A)

Berita Sebelumnya

Cemburu, Pria Bunuh Pria di Nongsa Batam Karena Korban Punya Pasangan Baru

Berita Selanjutnya

Pertumbuhan Ekonomi Anambas Tertinggi di Kepri, Batam Lokomotif Ekonomi Nasional

Berita Selanjutnya
Pertumbuhan Ekonomi Anambas Tertinggi di Kepri, Batam Lokomotif Ekonomi Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Anambas Tertinggi di Kepri, Batam Lokomotif Ekonomi Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com