Kementerian LHK Sebut Indeks Kualitas Air di Kepri Rendah, Tercemar E-coli - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Kementerian LHK Sebut Indeks Kualitas Air di Kepri Rendah, Tercemar E-coli

by BATAM NOW
23/Des/2021 16:28
Kementerian LHK Sebut Indeks Kualitas Air di Kepri Rendah, Tercemar E-coli

Refleksi Akhir Tahun 2021 KemenLHK. (F: Dok. KemenLHK)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Air merupakan kebutuhan dasar bagi setiap makhluk hidup.

Sayangnya, indeks kualitas air di sejumlah daerah termasuk Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih rendah.

Ini adalah hasil survei dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap sungai dan danau (waduk).

Catatan BatamNow.com, Batam adalah kota di Provinsi Kepri dengan kebutuhan air baku terbanyak yang dipasok dari 6 waduk.

“Lebih tepatnya terjadi penurunan kualitas air,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KemenLHK Sigit Reliantoro, dalam paparan Refleksi Akhir Tahun 2021 KemenLHK, di Jakarta, Selasa (21/12/2021).

Sigit menjelaskan, indeks kualitas lingkungan hidup diukur dari empat media lingkungan. Mulai dari air, udara, lahan (tutupan lahan dan gambut), hingga kualitas air laut.

Menurutnya, meski secara umum indeks kualitas air di Indonesia naik, namun tidak demikian di beberapa daerah. “Bila pada periode 2015-2019, indeks kualitas lingkungan hidup di Indonesia berada di angka 60-an, pada 2020, melompat menjadi 70,27. Lalu naik lagi menjadi 71,43 di 2021.

“Harus diakui, masih ada pekerjaan rumah untuk membenahi indeks kualitas air. Pada periode 2015-2021, indeks kualitas air naik turun pada kisaran 50,20 – 53,53,” urainya.

Baca Juga:  Syarat Masuk Singapura yang Mulai Buka Pintu bagi WNI

Sigit mengakui, kualitas air ini yang paling berat (meningkatkannya), karena indeksnya masih rendah dan belum mencapai target. “Di sejumlah provinsi pada periode 2015-2021, terjadi penurunan indeks kualitas air. Salah satunya di Kepri,” terangnya.

Menurutnya, penyebab utama penurunan kualitas air adalah Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme dan kadar e-coli. E-coli merupakan bakteri yang terdapat dalam tinja manusia.

“Itu sebetulnya mencerminkan aktivitas dari rumah tangga itu air limbahnya belum terkelola dengan baik,” jelasnya.

Untuk itu, Sigit melanjutkan, mempercepat perbaikan sanitasi urgen dilakukan. KemenLHK sendiri saat ini mencoba membuat infrastruktur hijau yang dinamakan ekoriparian. Infrastruktur ini berupa tanaman dan fasilitas pengolahan air limbah di area bantaran sungai yang dulunya tempat pembuangan sampah warga.

Sigit juga meminta pemerintah daerah lebih memperhatikan indeks kualitas air di tempatnya masing-masing. “Pemda harus secara intens melakukan pengecekan dan pengujian kualitas air di daerah masing-masing, sehingga air yang dikonsumsi warga tidak tercemar,” pungkasnya. (RN)

Berita Sebelumnya

Siapa Prioritas Vaksin Booster Tahun Depan? Nih Bocorannya!

Berita Selanjutnya

Tiga Dosis Vaksin Sinovac Disebut Gagal Beri Perlindungan dari Omicron

Berita Selanjutnya
Studi China: Antibodi Sinovac Memudar 6 Bulan, Butuh Booster

Tiga Dosis Vaksin Sinovac Disebut Gagal Beri Perlindungan dari Omicron

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com