BatamNow.com – Aktivis HAM sekaligus Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP), Chrisanctus Paschalis Saturnus mengungkap dan menyoroti penyidik PPA Polda Kepri yang mengopi bareng dengan mafia Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
“Benar, demikianlah,” katanya saat diklarifikasi BatamNow.com, Minggu (19/05/2024) lewat komunikasi WhatsApp.
Selain itu, aktivis HAM yang akrab dipanggil Romo Paschal ini juga menyebut oknum yang ngopi bareng dengan mafia TPPO itu sudah dilaporkan ke Propam Polda Kepri, di Batam, namun dinyatakan tak kuat bukti.
Romo Paschal sampai rada marah dalam pernyataannya: Orang bodoh juga bertanya, penyidik, kok, sering ngopi sama mafia?
“Begitulah adanya. Tidak ada yang perlu dibangkitkan kalau tidak pernah tuntas memidanakan TPPO apalagi yang menyangkut korporasi,” ditulisnya di pesan WhatsApp menjawab BatamNow.com.

Ia pun dengan tegas meminta aparat untuk memenjarakan pelaku utama TPPO sampai tuntas dan semua jaringan yang terlibat.
“Polisi tahulah masak perlu diajarin. Saya tidak perlu ajarin mereka bagaimana caranya. Udah kerjaan mereka tiap hari. Mereka tahu juga kok siapa mafianya. Udahlah gak usah ada dusta di antara kita,” begitu kalimat tegas Romo Paschal.
Ia tegaskan, aparat seperti belum menganggap TPPO sebagai masalah yang serius dan prioritas, padahal ini kejahatan kemanusiaan.
“Ini extraordinary crime. Ini kejahatan biadap yang tidak boleh ditanggapi dengan biasa biasa saja,” sebutnya lagi.
Ia katakan, Gugus Tugas yang sudah dibentuk pun tidak ada kedengaran suaranya.
“Cek saja di provinsi dan kabupaten/kota. Ada gak gugus tugas pemberantasan TPPO?, kalau mereka bilang ada, tanyakan lagi apa kerjanya dan pernah gak pertemuan dalam setahun, apa rencana aksi daerahnya?” tukasnya.
Ia juga bertanya, apakah Kapolri tahu secara utuh masalah di Batam (Kepri) terkait TPPO yang seperti tidak menjadi atensi prioritas aparat di sini.
“Saya kuatir beliau terima informasi yang tidak lengkap. Teman-teman media bisa menyuarakan itu sampai ke beliau. Supaya beliau ada sikap tegas terkait ini,” demikian ia tegaskan.
Kembali ke soal laporan mereka ke Propam Polda Kepri terkait pejabat PPA yang ngopi-ngopi dengan mafia TPPO yang dianggap tak cukup bukti, Romo Pascal berjanji akan melapor ke Kapolri.
“Kami tidak akan berhenti, dalam minggu ini kami akan laporkan ke Kapolri soal ini termasuk kerja Propam Polda Kepri yang perlu ditinjau dan dievaluasi,” terangnya.
Oknum Aparat Terlibat: Penghinaan Terhadap Negara
Sejurus kemudian Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengeluarkan statement yang sangat keras tentang penanganan yang kurang tegas dalam memerangi TPPO ini.
Dimintai penegasannya, Minggu (19/05/2024), terkait penanganan TPPO di Batam (Kepri) yang tak membanggakan, Benny Rhamdani menyatakan penempatan ilegal pekerja migran adalah KEJAHATAN.
Negara, katanya, tidak boleh kompromi terhadap segala bentuk kejahatan demikian juga dengan mafia pelaku TPPO. Dan, eksploitasi terhadap pekerja migran termasuk perdagangan orang harus dihentikan.
Sama dengan Romo Paschal, Benny Rhamdani berharap tindakan tegas dan nyata oleh aparat penegak hukum.
“Tangkap dan penjarakan semua bandarnya, tidak cukup menindak hanya calo dan sikat jika ada oknum aparat terlibat. Termasuk jika ada oknum BP2MI,” begitu ia tegaskan.

Sebab, menurutnya, karena jika ada oknum terlibat, itu tidak sekadar terlibat dalam kejahatan, tapi juga sebuah tindakan kehinaan.
“Penghinaan terhadap tugas negara dan merah putih,” ia sebut di akhir penegasannya.
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan SH ikut menyoroti apa yang dikeluhkan Romo Paschal.
“Kami juga mengamati dan memantau pengiriman ilegal migran ke luar negeri dari Batam, khususnya dan Kepri umumnya masih berlangsung dari beberapa pintu,” katanya, Minggu (19/05).
Apa yang disampaikan Romo Paschal, menurut hematnya, ada benarnya.
“Masalah ini harus mendapat atensi dari Kapolda Kepri yang digadang-gadang menjadi Bacalon Gubernur Kepri itu, apalagi diduga ada oknum PPA Polda Kepri yang cincai-cincai dengan mafia TPPO, ini bahaya,” tegasnya.
Sementara Kapolda Kepri Irjen Pol Yan Fitri Halimansyah belum dapat dikonfirmasi media ini.
Di FB Ada Tawaran Pengiriman Perawat ke Australia
Sementara itu, satu akun media sosial Facebook (FB), seorang wanita berinisial Nn S, memposting tawaran kerja bagi 550 perawat ke Sydney, Australia.
Wanita itu dikenali berdomisili di Batam yang sering dengan pengiriman beasiswa sekolah sambil bekerja ke Jerman.
Dalam postingannya itu dibuat narasi “Di butuhkan 550 Tenaga Perawat u/ di tempatkan di Sydney Australia, Syarat & Ketentuan berlaku, WhatsApp to +62811709***“.

Seorang warganet yang sempat membaca dan memiliki ketertarikan dengan tawaran di unggahan itu menghubungi nomor telepon yang dicatatkan di sana.
Awalnya dijawab: benar. Namun berkali dihubungi ke nomor yang sama, tak dijawab lagi.
Dikonfirmasi dan diklarifikasi wartawan media ini ke nomor WhatsApp milik Nn S, tak ada jawaban.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, membantah ada pengiriman PMI sebagai perawat ke Australia dari Batam.
“Tidak ada melalui disnaker, bekerja keluar negeri harus melalui perusahaan resmi, hati-hati penipuan,” jelas Rudi kepada BatamNow.com, Sabtu (18/05).
Lalu Romo Paschal pun menanggapi masalah ini. “Model model tawaran seperti ini banyak di medsos dan harus hati-hati menyikapinya. Harusnya disnaker atau dinas terkait memberikan klasifikasi apakah ini benar atau tidak sehingga tidak menyesatkan masyarakat dan bahkan membawa masyarakat pada perangkap-perangkap perdagangan orang,” jelas Romo Pascal. (A/red)

