Ketua ISAA Batam Soroti Kejanggalan di Balik Ledakan FSO Federal II: Dugaan Sisa Minyak di Tangki Kapal - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Ketua ISAA Batam Soroti Kejanggalan di Balik Ledakan FSO Federal II: Dugaan Sisa Minyak di Tangki Kapal

20/Okt/2025 14:20
Kebakaran FSO Federal II di ASL Shipyard: 10 Nyawa Melayang, Tragedi Berulang di Galangan Kapal

Kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Federal II kebakaran di ASL Shipyard, Batam, Rabu (15/10/2025) sekitar pukul 04.00 WIB (kiri) dan salah satu korban terbakar (kanan). (F: ist)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Indonesia Shipping Agencies Association (ISAA) Batam, Erdi MH menyoroti kejanggalan di balik tragedi meledaknya kapal Floating Storage and Offloading (FSO) MT Federal II di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam.

Peristiwa maut itu terjadi pada Rabu (15/10/2025) dini hari tadi, merenggut 13 korban jiwa dan menyebabkan 8 pekerja lainnya mengalami luka ringan hingga luka berat.

Erdi yang merupakan mantan perwira kapal tanker, berpendapat dari sisi kemaritiman adanya kejanggalan dalam peristiwa tersebut.

“Saya melihat dari sisi kemaritiman, ada beberapa pertanyaan terhadap pekerjaan perbaikan kapal (MT Federal II) tersebut,” kata Erdi kepada BatamNow.com, saat dijumpai di Batam Center, Senin (20/10).

Yang pertama, kalau benar adanya sisa minyak ataupun muatan yang masih ada di tangki atau lambung kapal, sebelum masuk ke atas docking atau galangan, harusnya kapal tersebut sudah dalam keadaan clear atau bersih dari muatan minyak.

“Pertama seharusnya sisa minyak ataupun muatan yang ada di tangki seharusnya sudah bersih (di-cleaning) sebelum kapal naik di atas tanah, yang menurut saya ini tipe kapal FPSO yang masuk dalam kategori kapal penyimpanan minyak,” ujarnya.

Dan, lanjutnya, dipastikan dengan jelas pekerjaan docking ada melakukan hot work (pengelasan).

“Dan dikarenakan panasnya tangki dari hasil pengelasan pekerja tersebut maka terjadilah ledakan yg dahsyat,” ujarnya.

@batamnow Tragedi kembali terjadi di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam. Kapal Floating Storage and Offloading (FSO) Federal II kebakaran pada Rabu (15/10/2025) sekitar pukul 04.00 WIB. Informasinya, ledakan terdengar hingga radius beberapa kilometer dan menimbulkan kobaran api besar yang melahap bagian lambung kapal. Para pekerja panik dan berusaha menyelamatkan diri dari lokasi kejadian. Berdasarkan data yang diterima BatamNow.com, peristiwa ini menyebabkan 31 orang menjadi korban, terdiri dari 10 orang meninggal dunia, sementara sisanya mengalami luka berat hingga luka ringan. Tim pemadam kebakaran dan petugas keamanan galangan segera dikerahkan untuk memadamkan api. Sementara itu, tim medis mengevakuasi para korban ke sejumlah rumah sakit di kawasan Batu Aji. Data Sementara Korban Berikut rincian sementara korban berdasarkan data yang dihimpun BatamNow.com: RS Elisabeth Batu Aji terdapat 7 korban, terdiri dari: 4 meninggal dunia: CP (36), KS (51), RRN (19), HS. 3 korban kritis: FK (23), TA (41), MS. RSUD Embung Fatimah: 2 korban meninggal dunia: A (48), FPP (41). RS Mutiara Aini dengan 15 korban, terdiri dari: 4 meninggal dunia: AH, IS, DS, MT. 5 luka ringan: AR, JAP, PAP, JR, SLT. 6 luka berat/kritis: IP, AH, RAHA, IM, MS, EBN. RS Graha Hermine dengan 7 korban, terdiri dari: 6 korban luka berat: DSR (31), KR (24), AD (25), AM (28), DD (41), S (23). 1 korban luka ringan: CS (22). Para korban diketahui merupakan pekerja dari dua perusahaan subkontraktor, yakni PT Ro dan PT PTM, yang saat kejadian tengah melakukan pekerjaan pengelasan dan perawatan tangki kapal. Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. “Anggota masih melakukan penyelidikan di lapangan, dan kita masih fokus ke korban yang terluka,” ujar Zaenal, Rabu (15/10). Tragedi yang Pernah Terjadi Peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi di galangan kapal tersebut. Pada Selasa, 24 Juni 2025, kapal FSO Federal II juga sempat terbakar di lokasi galangan yang sama. Insiden itu menewaskan 4 orang, menyebabkan 4 lainnya luka bakar berat, dan 1 orang mengalami luka ringan. Baca beritanya di BatamNow.com #batam #batamnow #fyp #batamtiktok #beritabatam ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music

Kejadian yang merenggut nyawa belasan orang tersebut, Erdi menduga ada sisa minyak di dalam tangki kapal Federal II hingga menyebabkan terjadinya ledakan.

Baca Juga:  Yusuf Tankin Selamat Setelah 38 Jam Terjebak dalam Tugboat Terbalik di Perairan ASL Shipyard

“Saya merasa ada kejanggalan atas kejadian ini, dan menurut saya pasti masih ada sisa minyak di dalam tangki makanya terjadi ledakan. Ini menurut pengalaman saya selama menjadi perwira di atas kapal tanker,” kata Erdi.

Ia pun berpendapat, seharusnya pihak Health, Safety, and Environment (HSE) yang dalam bahasa Indonesia berarti Kesehatan, Keselamatan, dan Lingkungan yang mengacu pada sistem, kebijakan, dan praktik yang diterapkan untuk memastikan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan tidak merusak lingkungan.

“Seharusnya pihak HSE dari galangan kapal dan juga pimpinan PT ASL bertanggung jawab atas kejadian ini yang sudah kedua kalinya terjadi yang telah memakan korban meninggal dunia sebanyak 13 orang dan masih ada 8 orang lain yang kini masih berada di rumah sakit,” ujar Erdi.

Selaku Ketua DPC ISAA Batam, Erdi berharap agar aparat penegak hukum (APH) mengambil tindakan tegas.

“Saya berharap aparat penegak hukum mengambil tindakan tegas terhadap PT ASL karena ini sudah memakan korban,” katanya.

@batamnow Kapal MT Federal II kembali meledak di kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam, Rabu (15/10/2025). Ledakan kedua ini menewaskan 10 pekerja dan 21 lainnya terluka saat melakukan perbaikan di atas kapal tersebut. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar, karena kapal yang sama sebelumnya juga pernah meledak pada 24 Juni 2025, menewaskan empat orang. Namun, kapal itu tidak disita dijadikan barang bukti oleh penyidik dalam kasus pertama. Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin menjelaskan, keputusan untuk tidak menyita kapal MT Federal II saat kejadian pertama diambil dengan mempertimbangkan aspek teknis dan efisiensi penyidikan. “Jadi gini, dalam proses memutuskan ini barang bukti itu diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Ada kewenangan penyidik di situ, juga dengan Pasal 5 dan 7 KUHAP itu untuk menentukan mana yang layak untuk dijadikan. Itu kewenangan penyidik,” ujar Zaenal kepada wartawan, Kamis (16/10/2025). Menurutnya, setelah olah TKP rampung, kapal bisa dikembalikan. Ia menambahkan, bila kapal disita, maka muncul konsekuensi besar terhadap pengawasan, pengamanan, hingga biaya perawatan barang bukti yang tinggi. “Betul, pertanyaan ada muncul, kenapa enggak disita kapal ini? Nah, persoalan adalah, kembali lagi, prinsip daripada proses penanganan tindak pidana itu adalah efektif dan efisien,” ucapnya. Namun, keputusan tersebut kini menuai sorotan, setelah kapal yang sama kembali meledak dan memakan korban lebih banyak dari sebelumnya. Zaenal menyebut, 10 korban tewas dalam peristiwa terbaru adalah pekerja dari perusahaan subkontraktor (sub-contractor) yang sedang mengerjakan proyek perbaikan kapal. “Jadi untuk 10 orang almarhum ini adalah karyawan dari sub-con yang bekerja, yang sedang mengerjakan proyek pengerjaan perbaikan kapal MT Federal II,” kata Zaenal. #batam #batamnow #beritabatam #fyp #batamnews ♬ News, news, seriousness, tension(1077866) – Lyrebirds music

Ia juga meminta dinas terkait (stakeholder) agar menghentikan pekerjaan yang sedang berlangsung, hingga investigasi yang sedang dilakukan oleh pihak kepolisian dan perlu dipertanyakan dokumen perusahaan.

“Dan pihak dari pemerintah yaitu dinas terkait (stakeholder) menghentikan pekerjaan di PT ASL, bisa juga izin dari perusahaan tersebut dibekukan sampai investigasi terkait selesai. Perlu juga dipertanyakan dokumen perusahaan, gaji dari buruh apakah sudah standar, asuransi, dan lain-lain,” tegas Erdi.

Tragedi ini menjadi kejadian kedua di kapal dan lokasi yang sama, setelah insiden serupa pada 24 Juni 2025 yang menewaskan empat pekerja serta lima lainnya mengalami luka ringan hingga berat. (A)

Berita Sebelumnya

Korban Ledakan FSO Federal II di PT ASL Shipyard Bertambah, Total 13 Pekerja Tewas

Berita Selanjutnya

Ketua DPRD Kepri Terima Silaturahmi PWI: Tekankan Peran Pers sebagai Penyeimbang Informasi

Berita Selanjutnya
Ketua DPRD Kepri Terima Silaturahmi PWI: Tekankan Peran Pers sebagai Penyeimbang Informasi

Ketua DPRD Kepri Terima Silaturahmi PWI: Tekankan Peran Pers sebagai Penyeimbang Informasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2024 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2024 BatamNow.com