Kisah Anak Buruh Bangunan, Hanya 2 Kali Belajar Daring karena Tak Punya Hp - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini
No Result
View All Result
BatamNow.com

Kisah Anak Buruh Bangunan, Hanya 2 Kali Belajar Daring karena Tak Punya Hp

23/Sep/2020 20:41
Kisah Anak Buruh Bangunan, Hanya 2 Kali Belajar Daring karena Tak Punya Hp

Asisah hanya bisa belajar secara offline di rumahnya tanpa bisa mengikuti belajar daring karena tidak memiliki handphone. Foto: Lukman Budianto/kendarinesia.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow – Wajah Asisah cukup familiar bagi warga Kota Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut). Apalagi mereka yang bekerja di lingkup Pemda dan Polres Kolut.

Sejak tiga tahun silam, anak tunggal dari pasangan Demmattajang dan Satmawati ini menjalani hari-harinya sebagai penjual kue dan gorengan. Kompleks perkantoran di Pemda dan Polres Kolut menjadi salah satu rute Asisah berjualan.

Dua pilihan yang sulit bagi anak berusia 11 tahun ini. Antara fokus ke sekolah dan membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue dan gorengan. Sejak tiga tahun lalu, Asisaah sudah menjalani rutinitas itu.

Pagi hari, Asisah ke sekolah. Setelah pulang, Asisah kembali bergegas menjajakan jajanannya ke warga Kota Lasusua.

“Sekarang kan sudah beberapa bulan ini kita tidak sekolah. Jadi tiap hari saya keliling jual gorengan. Kalau jam kantor saya masuk di kantor-kantor,” kata Asisah, pada Rabu (17/9).

Asisah mengaku tak jarang mendapat ejekan dari teman-temannya di sekolah. “Sering diejek dibilangi penjual jalang kote (gorengan). Tapi saya tidak peduli,” ucap anak yang bercita-cita ingin menjadi Kowad ini.

Ayah Asisah, Demmattajang bekerja sebagai buruh bangunan. Sementara ibunya, menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Jika musim petik buah, atau cengkih, Satmawati, ibu Asisah menjadi buruh petik.

Dengan kondisi seperti itu, hasil kerja ayah, dan ibu Asisah hanya cukup untuk makan sehari-hari. Hasil jualan kue Asisah dipakai untuk keperluan sekolah.

Apalagi saat ini keluarga tersebut hanya numpang tinggal di tanah milik orang lain, dengan bangunan semi permanen ukuran tiga kali tujuh meter.

Tak Ikut Belajar Online

Sudah beberapa bulan Pemerintah menjalankan sistem belajar online sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Di sisi lain, sistem belajar online ini lebih memudahkan aktivitas Asisah menjual gorengan. Namun problem barunya, Asisah tidak mampu ikut belajar online lantaran tak punya gawai

Sebenarnya ayah Asisah punya handphone. Handphone itulah yang sempat dipinjam Asisah mengikuti pembelajaran online sebanyak dua kali.

Dulu sempat ada kuotaku. Jadi itu saya pinjamkan. Tapi ini hp juga sudah heng-heng (mulai rusak), nda ada juga kuota,” ujar Demmattajang.

Jadi, sejak pembelajaran online diberlakukan, Asisah terhitung hanya dua kali ikut mata pelajaran sistem daring. Anak perempuan ini mengaku diberi toleransi oleh gurunya dengan belajar di rumah dan tidak ikut sistem belajar online. (sumber Kumparan)

 

ADVERTISEMENT
Berita Sebelumnya

Soft Opening di Batam, Marriott Hotel Berkelas Premium Setara Hotel Bintang Lima 

Berita Selanjutnya

Bupati Bintan Serahkan Sertifikat Tanah Program PTSL ke Warga Desa

Berita Selanjutnya

Bupati Bintan Serahkan Sertifikat Tanah Program PTSL ke Warga Desa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan Central Tiban
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Wawancara
  • Opini

© 2021-2026 BatamNow.com