Kisah Wartawan Tempo di Afghanistan, Dari Nyaris Ditembak Hingga Mau Dinikahkan - BatamNow.com Verifikasi
BatamNow.com
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional
No Result
View All Result
BatamNow.com

Kisah Wartawan Tempo di Afghanistan, Dari Nyaris Ditembak Hingga Mau Dinikahkan

by BATAM NOW
23/Agu/2021 13:08
Kisah Wartawan Tempo di Afghanistan, Dari Nyaris Ditembak Hingga Mau Dinikahkan

Pasukan Taliban berpatroli dengan menggunakan senjata mesin RPK 74 di sebuah jalan di Herat, Afghanistan 14 Agustus 2021. RPK 74 merupakan senapan mesin yang menggunakan basis dari senapan AK-47. (F: REUTERS/ Stringer)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke Facebook

BatamNow.com, Jakarta – Wartawan Tempo, Qaris Tajudin, nyaris meregang nyawa ketika meliput situasi di Afghanistan pasca-peristiwa 911 pada 2001 lalu. Gara-gara “iseng” mengucapkan salam, ia dicurigai sebagai mata-mata Amerika. Maklum, saat itu, situasi di Afghanistan lagi tegang-tegangnya dengan Taliban sudah terdesak oleh militer Amerika.

Dilansir Tempo.co, senjata sudah ditodongkan kepadanya, seperti di film-film. Qaris mencoba “kabur” dari situasi tersebut dengan mencoba membacakan ayat-ayat Al-Quran, hasilnya nihil. Menurut mujahidin yang menodongkan senjata kepadanya, intel pun bisa membaca ayat-ayat Al-Quran. Masuk akal.

Untungnya, Qaris ditemani oleh seorang fixer berjaringan luas. Fixer Qaris, yang bertugas membuka jalan ke Afghanistan, berteman dengan panglima-panglima perang (warlord) Mujahidin. Mujahidin yang menodongkan senjata ke Qaris walhasil menjadi ciut, mengurungkan niatnya membunuh Qaris dan melepaskannya.

“Mereka anak buah warlord-warlord itu. Sebenarnya itu gaya komunikasi mereka hehehe… Karena mereka bersenjata dan saat itu banyak yg kurang berpendidikan, jadi agak susah menghadapi orang yang berbeda,” ujar Qaris ketika menceritakan pengalamannya pekan lalu.

Saya mau cerita pengalaman berada di Afghanistan saat Taliban kehilangan kekuasaannya, 20 tahun lalu. Dari cerita itu kita bisa sedikit tahu kenapa sekarang mereka bisa berkuasa lagi.

(Foto: Qaris Tajudin) pic.twitter.com/N8iF2ETzvx

— Qaris Tajudin (@QarisT) August 17, 2021

Hal tadi adalah satu dari sekian banyak pengalaman seru yang dialami Qaris ketika dikirim ke Afghanistan. Saat itu, statusnya masih anak baru. Dirinya bergabung ke Tempo tahun 2000, setahun kemudian pada bulan November ia sudah dikirim ke Afghanistan.

Latar belakang pendidikan Qaris menjadi penyebab utama ia dikirim ke Afghanistan. Ia alumnus Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, alhasil diyakini bakal dengan mudah keluar-masuk ke wilayah konflik. Bagian “keluar-masuk”-nya benar, bagian “mudah”-nya yang salah. Dalam cerita Qaris, mencoba masuk ke Afghanistan bukan perkara gampang.

Nyaris dibunuh baru satu hal. Ia sempat ditawari bantuan masuk ke Afghanistan oleh seorang fixer asal mau disembunyikan dalam karung. Qaris, saat itu, mendengar cerita seorang wartawan nyaris tertusuk pedang ketika mujahidin melakukan random-checking. Ia ogah mengalami pengalaman serupa.

“Waktu saya masuk, beberapa kota memangg masih dikuasai Taliban. Makanya saya cari jalan yang tidak memotong frontline meski lebih jauh,” ujar Qaris. Qaris akhirnya mengambil rute Agnadabad, Jalalabad, lalu Kabul yang dirasa aman. Ironisnya, di Jalalabad lah dirinya nyaris dibunuh.

Pasukan Taliban berjaga-jaga dengan menenteng Senapan Mesin M249 di dalam Kabul, Afghanistan 16 Agustus 2021. Senapan mesin otomatis yang berasal dari Amerika Serikat ini menggunakan kaliber 5,56 mm. (F: REUTERS/ Stringer)

Selain sempat berhadapan dengan maut, Qaris mengatakan dirinya juga harus sering gonta-ganti pakaian selama bertugas di Afghanistan. Bukan karena panas, tetapi untuk mengganti penyamarannya. Ia harus membaur dengan warga-warga wilayah yang ia lewati menuju Kabul.

Baca Juga:  Dewi Ajak Masyarakat Dispilin Memakai Masker

Ketika melewati daerah-daerah pedesaan, ia harus menggunakan pakaian selayaknya warga Afghanistan, sementara saat berada di Kabul, ia harus mengganti pakaiannya menggunakan jeans, karena orang-orang di kota besar lebih mengagumi dan menghargai sesuatu yang berbau asing, apalagi Amerika.

Qaris menyamakan pengalaman tersebut seperti mengikuti fashion show. Lucunya, beberapa tahun kemudian, Qaris dikenal sebagai wartawan lifestyle juga di mana “berhadapan” dengan fashion show adalah salah satu tugasnya.

Pengalaman paling unik, ia pernah ditawarkan untuk dinikahkan. Pada saat itu, fixer Qaris menanyakan apakah dirinya berkeinginan untuk melakukan nikah sementara waktu. Qaris menolaknya karena ia tidak menyetujui adanya bentuk pernikahan seperti itu.

Pejuang Taliban berdiri di luar Kementerian Dalam Negeri dengan menenteng senapan M16 di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. M16 adalah kesimpulan dari senjata senapan serbu yang lebih modern dan lebih maju. Kinerjanya lebih unggul dibanding AK-47. (F: REUTERS/ Stringer)

Semua tantangan-tantangan itu dilalui Qaris dengan modal skillnya sebagai wartawan dan doa. “Modalnya cuma doa hahaha… Karena memang gak dibawain apa-apa ke Afghanistan, kecuali telepon satelit. Pernah akan dibawain rompi anti-peluru, tapi entah kenapa waktu itu gak jadi dibawa,” ujarnya.

Sekarang, Afghanistan kembali panas. Dua dekade setelah Qaris berkunjung ke sana, Taliban mengambil alih pemerintahan Afghanistan. Afghanistan resmi jatuh ke Taliban pada 14 Agustus lalu. Berbagai pihak menykini situasi Afghanistan akan memburuk di bawah Taliban yang tegas menyatakan tak akan ada demokrasi. Pihak paling khawatir adalah kelompok perempuan, takut mereka akan dimarginalkan dan hak asasinya dikesampingkan.

Taliban berjanji akan berubah. Qaris skeptis.

“Antara percaya dan tidak percaya, dalam artian ada faktor-faktor yang membuat mereka harus berubah. Geopolitik berubah, pendukung utama mereka yakni Arab Saudi pada tahun 2001 secara relatif berubah.”

“Arab Saudi berubah, mereka tidak lagi ingin dilihat sebagai negara yang mendukung kelompok keras, sehingga dukungan kepada Taliban pun berkurang.”

Menurutnya, saat ini Taliban mendapat dukungan dari China. Kedua negara terlihat saling memuji satu sama lain. Sehingga, dapat dikatakan Taliban pada saat ini terlihat lebih pragmatis. Dengan pragmatisme ini, pemimpin Taliban akan bisa berpikir lebih terbuka, mengikuti keinginan dunia internasional.

Qaris mengatakan bahwa rasa kekhawatiran dari orang-orang di luar Afghanistan pasti ada, karena mereka mungkin tidak sepenuhnya akan berubah. Namun, menurutnya, publik juga masih perlu melihat nanti saat keadaan sudah mulai stabil, apakah Taliban akan memenuhi janjinya di Afghanistan.(*)

Berita Sebelumnya

Resmi, Roby Kurniawan Jabat Plt Bupati Bintan

Berita Selanjutnya

Amsakar Dorong UMKM Go Digital untuk Masuk Pasar Internasional

Berita Selanjutnya
Amsakar Dorong UMKM Go Digital untuk Masuk Pasar Internasional

Amsakar Dorong UMKM Go Digital untuk Masuk Pasar Internasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recipe Rating




iklan BRK
iklan PLN
@batamnow

BatamNow.com

© 2021-2026 BatamNow.com

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Peraturan Dewan Pers
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Pilihan Editor
  • Akal Sehat
  • Opini
  • Wawancara
  • Politik
  • Ekonomi
  • Internasional

© 2021-2026 BatamNow.com