BatamNow.com – Pemerintah Filipina akan menyelidiki sumber pengiriman beberapa kontainer berisi serbuk seng (zinc powder) yang terkontaminasi bahan radioaktif dan berdampak pada sembilan orang di Indonesia.
“Untuk saat ini, kemungkinan besar ini adalah kasus kontaminasi yang terisolasi dan tidak menimbulkan bahaya yang meluas bagi masyarakat umum,” kata Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Filipina, Renato Solidum Jr, dalam pesan teks pada 17 Oktober.
Ia menambahkan bahwa kontainer yang akan dikembalikan ke Manila akhir Oktober ini tidak pernah dibuka, dan tidak ada radiasi yang terdeteksi dari luar kontainer tersebut.
“Tidak ada risiko terhadap awak kapal,” katanya.
“Setibanya di Manila, kontainer tersebut akan diperiksa dan disimpan di gudang yang aman.”
Menurut seorang sumber yang mengetahui situasi namun meminta an5onimitas karena isu bersifat sensitif, pengiriman tersebut dikirim ke Indonesia oleh perusahaan dagang asal Tiongkok yang memiliki kantor di Filipina.
Impor Skrap Logam Dihentikan
Pekan lalu, Indonesia menghentikan impor skrap logam setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada bulan Agustus mendeteksi jejak Caesium-137, sebuah isotop radioaktif, pada udang beku — dan kemudian juga ditemukan pada cengkeh — yang diekspor dari Indonesia.
Pada bulan September, penyelidikan otoritas Indonesia menemukan keberadaan Caesium-137 di sebuah pusat pengolahan logam di kawasan industri Jawa Barat yang menyuplai bahan bangunan dan manufaktur.
Perusahaan eksportir udang beku juga berlokasi dekat dengan situs industri tersebut.
Dalam kondisi tertentu, isotop ini dapat menyebar melalui udara.
Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa sembilan orang yang terpapar Caesium-137 telah pulih sepenuhnya.
Langkah Selanjutnya dari Pemerintah Filipina
Sumber yang sama menyebutkan bahwa pemerintah Filipina kini tengah menyelidiki fasilitas pengolahan baja yang diduga menyuplai debu seng (zinc dust) kepada perusahaan eksportir Tiongkok tersebut, yakni Zannwann International Trading, yang berkantor di Meycauayan City, Provinsi Bulacan.
Hingga kini, pihak Zannwann belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Filipina juga telah berkoordinasi dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) terkait insiden ini.
Menurut Menteri Solidum, penanganan kasus ini dilakukan oleh tim lintas kementerian, termasuk Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (DOST) dan Institut Riset Nuklir Filipina (PNRI). (berita dilansir dari The Strait Times)
Batam Periksa 199 Kontainer Mengandung Limbah B3
Sementara di Batam, Direktorat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Bea dan Cukai (BC) tengah memeriksa secara ketat sejumlah kontainer impor berisi limbah elektronik (e-waste) yang diduga mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Awalnya sebanyak 74 kontainer yang diperiksa dan kemudian masuk lagi 125 kontainer sehingga jumlah totalnya menjadi 199 kontainer.
Dari hasil penyelidikan pertama Direktorat KLH dan BC menemukan 4 kontainer yang mengandung limbah B3 akan dire-ekspor ke Amerika sebagai negara asal dan kini pemeriksaan atas kontainer lain masih terus berlangsung.
Kontainer-kontainer berisi limbah elektronik impor tersebut adalah milik 3 perusahaan daur ulang di Batam, yakni PT Esun International Utama Indonesia, PT Logam Internasional Jaya dan PT Batam Battery Recycle Industry.
Pabrik PT Esun di kawasan Industri Horizon di Sagulung, Batam gagal disegel Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq, tiga minggu lalu.
Ketua DPP Kepri LI-Tipikor dan Hukum Kinerja Aparatur Negara, Panahatan SH meminta tim pemeriksa isi kontainer agar lebih cermat terkait pemeriksaan kontainer berisi limbah ini.
“Kita mesti membuka mata dengan isi kontainer kiriman dari luar negeri ke Indonesia yang terpapar cecium 137,” pintanya mengingatkan. (*/Red)

