Istilah border country tourist telah membawa warna baru bagi pariwisata Indonesia.
Hal tersebut diartikan sebagai bagian dari perilaku dari wisatawan lintas negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga yang berdekatan.

Perilaku tersebut dilihat dalam konteks pariwisata adalah yang berhubungan dengan aktivitas wisatawan sebagai aktor utamanya yang merupakan bagian dari pola perjalanan wisata serta menekankan adanya keinginan wisatawan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dan baru untuk lebih bermakna.
Perilaku tersebut yang secara langsung dapat dilihat dan dipahami sebagai bentuk perilaku dalam konteks perbatasan antarnegara bertetangga yang terjalin melalui kunjungan wisatawan ke kawasan wisata serta hubungan bilateral dengan sangat baik mencakup aspek-aspek tertentu seperti: agama, sosial ekonomi lingkungan, budaya dan kelas sosial.
Border country tourist dapat dipahami dengan kriteria dalam bentuk konteks batas kedaulatan pemisah suatu negara (States Border) dan dipandang dalam konteks batas negara sebagai sebuah ruang geografis (Geographical Space) dan atau batas negara sebagai ruang sosial-budaya (socialculture space) melalui dimensi-dimensi yang terdapat di dalamnya yaitu:
- Jarak yang sangat strategis dan berdekatan langsung dengan negara tetangga.
- Ditempuh tidak menghabiskan waktu yang terlalu lama dengan biaya yang lebih relatif terjangkau di dalam melakukan perjalanan wisata.
- Tinggal dekat dari tempat asal wisatawan yang dapat menghasilkan tingkat kepercayaan yang tinggi (trustworthy artificial intelligence), serta arus lintas negara (data free flow with trust and cross-border data flow).
Perbatasan (borders) dipahami sebagai suatu garis yang dibentuk oleh alam atau unsur buatan manusia yang memisahkan wilayah suatu negara yang secara geografis berbatasan langsung dengan wilayah negara lain.
Namun sesungguhnya pengertian mengenai perbatasan tidak sesederhana itu, karena di dalamnya juga mengandung beberapa dimensi lain, yaitu antara lain garis batas (border lines), sepadan (boundary) dan perhinggaan (frontier).

Perilaku border country tourist dapat kita lihat dan diklasifikasikan:
- Wisatawan asing dikenal dengan istilah (Foreign Tourist) yang merupakan orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan merupakan negara dimana ia biasanya tinggal atau lebih dikenal dengan wisatawan mancanegara.
- Indigenous Foreign Tourist yang merupakan warga negara suatu negara tertentu yang karena tugasnya atau jabatannya berada di luar negeri, pulang ke negara asalnya dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri.
- Transit Tourist yaitu wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke suatu negara tertentu yang terpaksa singgah pada suatu pelabuhan/ airport/ stasiun dan bukan atas kemauannya sendiri.
- Business tourist merupakan orang-orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan bisnis bukan untuk kegiatan wisata tetapi perjalanan wisata akan dilakukan setelah tujuan utama selesai.
- Domestic foreign tourist adalah orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal di suatu negara karena tugas dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negara di mana ia tinggal. Seperti contoh staf kedutaan negara-negara sahabat yang mendapat cuti tahunan, tetapi ia tidak pulang ke negaranya dan melakukan perjalanan wisata ke Indonesia.
- Domestic Tourist (Wisatawan Nusantara) merupakan seorang warga negara yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negaranya.
Berdasarkan hal tersebut pada konteks pariwisata dibedakan menjadi dua yaitu sunlust dan wonderlust.
Sunlust tourist adalah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah dengan tujuan untuk berisitirahat atau relaksasi sehingga mereka umumnya mengunjungi daerah tujuan wisata yang mempunyai ciri mulimultiple (sun, sea, sand). Wisatawan tipe ini mengharapkan keadaan iklim, fasilitas, makanan dan lain-lain yang sesuai dengan standar di negaranya yang bertujuan untuk menggeliatkan perekonomian masyarakat setempat.
Kementerian Pariwisata Indonesia melihat perilaku border country tourist di Indonesia masih tergolong sangat rendah, sangat berbeda sekali dengan negara-negara tetangga lainnya di Asia dan di Eropa. Padahal perilaku tersebut sangat berpotensi untuk menggenjot pendapatan devisa negara dan meningkatkan kearifan lokal masyarakat di sekitar kawasan.
Dengan demikian memahami perilaku border country tourist tersebut merupakan sesuatu yang dapat dilakukan berdasarkan proses dan kegiatan yang terlibat ketika orang-orang termasuk wisatawan didalamnya mencari, memilih, menggunakan, mengevaluasi dan mendapatkan produk jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Kebutuhan dan keinginan itu diambil oleh individu maupun kelompok berupa tindakan yang terdiri dari input, proses dan ouput. Input, artinya adalah stimulus bagi wisatawan dalam memunculkan minat berkunjung yang terdiri dari pengenalan akan kebutuhan wisata, sehingga nantinya dapat mengetahui dan menjaring wisatawan potensial untuk menjadi sumber pendapatan bagi kawasan perbatasan di sekitarnya serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dari perilaku tersebut.
Namun pada kebanyakan, preferensi perilaku biasa kita lihat dalam gambaran-gambaran dari nilai-nilai terbaik yang dipertimbangkan oleh wisatawan dalam menentukan sebuah pilihan wisata sehingga pada akhirnya digambarkan sebagai niat untuk mengunjungi maupun merekomendasikan kawasan tersebut. (*)
