BatamNow-PT. Pertamina sepanjang masa tak lekang dari masalah. Mungkin karena “licin”-nya minyak BUMN ini. Sehingga belakangan ini, ramai disorot.
Apalagi setelah masuknya Basuki Tjahaya Purnama (BTP) alias Ahok menjadi Komisaris Utama Pertamina.
Selentingan kabar “Tim Satgas Anti Mafia Minyak” dari Mabes Polri tengah pasang “GPS” di Batam (Kepri) untuk mengikuti sepak terjang para oknum pemilik badan usaha Pemegang Izin Usaha Niaga Umum (PIUNU).

Meski belum terkonfirmasi, dua perusahan Niaga Umum di sini disebut kena cokok Satgas itu, baru-baru ini.
Pasar gelap minyak di Batam, apalagi dengan memanfaatkan peluang di laut, ramai. Pasar gelap hulu dan hilir, yakni distribusi dan pemasaran, bukan rahasia umum lagi.
Kini, kabarnya Ahok hendak membongkar berbagai “permainan orang dalam” maupun mafia, kapitalis yang berkecimpung di lingkaran perusahan pelat merah itu, hingga ke daerah.
Batam sebagai kawasan di perbatasan jalur internasional sudah sejak zaman bahelau dimanfaatkan para mafia minyak. Ada dari luar negeri (LN) maupun dalam negeri (DN) sendiri. Mereka berada dalam lingkaran sindikat.
Apa saja masalah pelik Pertamina yang diatur lewat UU NO. 22 Tahun 2011 ini, berkaitan dengan PIUNU itu?
Media ini mencoba mengulas beberapa angle di seputaran “main” minyak ini.
Pasar Gelap Minyak di OPL
Kasus penyelundupan minyak yang dilakukan “Raja Minyak” Achmad Machbub alias Abob tahun 2014 lalu, bukan tak menggemparkan Batam (Kepri), saat itu.
Kasus minyak ilegal kakap inilah yang dibongkar Mabes Polri, enam tahun lalu.
Uang Rp 1,3 Triliun pun ditemukan polisi di aliaran kasus “minyak licin” ini. Soal pundi-pundi triliunan itu, juga melibatkan “Ratu Minyak” Niwen Khairiah yang tak lain adik dari Abob.
Lain lagi kasus penangkapan kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) oleh Tim Gabungan F1QR Lantamal IV dan Lanal Batam, tahun 2018 lalu.
Sebanyak 5.000 ton bahan bakar minyak (BBM) sejenis solar ditemukan di kapal tanker MT Eastern Glory berbendera Mongolia.
Locus penangkapan ini dilakukan di perairan Pulau Akar, Jembatan 2 Barelang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri).
Dua kasus yang dibeberkan di atas adalah bagian dari sederet kasus yang sama, menandakan kawasan ini masih tetap rawan akan pasar gelap minyak.
Kawasan Barelang mulai dari Jembatan 2 hingga Jembatan 5, rawan penyelundupan, termasuk BBM ilegal.
Kawasan lahan Barelang masih status quo. Tapi, di Jembatan 2 juga ada beberapa bangunan permanen, yakni Storage Tank (Tangki Penyimpanan) milik PT JE, termasuk pelabuhan khususnya.
Kabarnya bangunan permanen di sana berikut lahannya sudah memiliki sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Minim Kontrol Pihak BPH Migas
Munculnya kasus-kasus penyelundupan minyak di perairan Kepri tak terlepas dari minimnya kontrol pihak BPH Migas dan jajarannya. Apalagi kawasan Batam dikelilingi laut nan luas hingga ke samudera.
Soal kasus “kencing minyak”, mafia-mafia di Outer Port Limit (OPL) dengan cara Ship to Ship (STS) dan sebagainya. Itulah sebagian titik-titik pemicu ramainya pasar gelap minyak itu.
Salah satu jaringan “pemain” distribusi yang dicurigai adalah oknum perusahaan PIUNU.
Beberapa oknum PIUNU ini dianggap ikut memperkeruh kondisi distribusi dan pemasaran Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina Patra Niaga. Termasuk minyak yang diimpor PIUNU.
Berbagai macam modusnya, kuota impor hanya dijadikan topeng belaka. Disinyalir banyak modus jual-beli minyak ilegal yang dilakukan, salah satunya di pasar gelap di OPL.
Beberapa oknum PIUNU terindikasi menyalahgunakan kuotanya dari Pertamina Patra Niaga dengan modus menjual ke luar ke Wilayah Marketing Operation Region (MOR) lainnya.
Sedangkan wilayah Batam masuk ke MOR I di Sumatera bagian utara (Sumbagut).
Belum lagi pasar ilegal minyak di OPL itu. Beberapa oknum PIUNU nakal, seolah mengimpor minyak dari LN secara legal. Padahal mereka sebenarnya mendapat minyak di pasar gelap di zona laut lepas tadi.
Nah, kegiatan ini semua mulus bertopengkan kuota yang dikeluarkan BPH Migas.
Mengapa pemerintah seolah membiarkan kondisi ini?
Apakah masalah ini yang tengah diincar oleh Tim Satgas Anti Mafia Migas yang sedang berada di Batam?(*)