BatamNow.com – Warga Kampung Sembulang di Pulau Rempang, menyalakan api pada ±1.000 lebih pelita di malam ke-27 Ramadan, Sabtu (06/04/2024).
Pantauan BatamNow.com di Sembulang, pelita semacam alat penerangan tradisional buatan tangan. Bahannya dari kaleng minuman bekas yang di dalamnya diisi minyak tanah/ solar, lalu dipasang sumbu yang kemudian disulut api.
Diperkirakan setidaknya ada sekiar 1.000 pelita dinyalakan tersebar di seluruh Kampung Sembulang, terutama di sepanjang sisi kiri dan kanan jalanan.

Di salah satu titik, warga menyusun pelita yang menyala di atas tanah membentuk frasa “TOLAK RELOKASI”.

“Hari ini Sabtu tanggal 6 April 2024, kami masyarakat Sembulang sampai hari ini tetap menolak relokasi ataupun digeser,” seru warga Sembulang, Sabtu (06/04/2024) malam.

Seorang tetua di kampung itu menegaskan nyala api pelita bisa juga menyimbolkan tak padamnya semangat perjuangan warga menolak relokasi. “Tidak akan menyerah kami, itu hak kami,” tegas Kidin, kelahiran 58 tahun silam.

Menyalakan pelita di Kampung Sembulang, tambahnya, memang sudah menjadi tradisi setiap bulan suci Ramadan. Bedanya, tahun ini mereka menghadapi ‘ancaman’ digeser dari kampung leluhurnya karena proyek Rempang Eco-City.

Kampung Sembulang ini adalah satu dari lima kampung yang terdampak program strategis nasional itu. Direncanakan, warga yang setuju akan direlokasi ke kampung baru yang sedang dibangun di Kampung Tanjung Banun, masih di Rempang.

Sebagai informasi, malam ke-27 Ramadan disebut memiliki keutamaan dan keistimewaan sendiri. Pasalanya, dipercayai bahwa salah satu malam di 10 malam terakhir bulan Ramadhan adalah saat peristiwa Lailatul Qadar.
Malam Lailatul Qadar sebagai juga dipercayai sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Umat Muslim meyakini pada malam inilah diturunkannya Al-Quran yang menjadi petunjuk bagi umat manusia. (D)

