BatamNow.com – Momen keakraban para politisi teras di Kepulauan Riau (Kepri) ini (lihat gambar) hal langka dan seperti memberi sinyal spesial ke khalayak.
Apalagi ditengah mulai memanasnya temperatur perpolitikan Kepri mendekati pesta demokrasi 2024.
Adalah DR Soerya Respationo SH MH, Ketua DPD PDIP Kepri yang tak asing lagi di kancah perpolitikan provinsi ini. Pemilik gelar Romo itu pernah juga mencalon sebagai Gubernur Kepri. Ia juga salah satu tokoh karismatik berbasis, paling tidak di komunitas sosial dan politiknya di Kepri.
Nurdin Basirun juga mantan Gubernur Kepri periode 2016-2019. Sebelum gubernur ia adalah Wakil Gubernur Provinsi Kepri Muhammad Sani. Ia menggantikan M Sani yang wafat tahun 2016.
Saat menjadi gubernur, ia dapat perintah “sekolah” tiga tahun lalu. Ia pun terpaksa melepas jabatan gubernur itu dan menyerahkannya kepada Isdianto yang wakil saat itu.
Nurdin sebelumnya adalah politisi Partai NasDem. Tak tahu, kekinian bergabung ke partai mana?
Sepulang dari “sekolah” baru-baru ini, ia langsung naik di panggung dan berdendang ria di acara Partai NasDem bersama Wali Kota Batam Muhammad Rudi. Rudi menjadi Ketua NasDem Kepri menggantikan Nurdin kala menjalani “sekolah” itu.
Nurdin sebagai anak tempatan di tanah Melayu ini juga punya basis massa yang kuat.
Kemudian Aunur Rafiq adalah Bupati Karimun dua periode 2016-2021 dan 2021-2024. Selentingan ia berniat mau maju juga di perhelatan politik tahun 2024.
Lalu hendak berpacu menjadi apa lagi di 2024? Belum terkonfirmasi.
Aunur baru-baru ini menjadi perbincangan netizen karena mengenakan jaket merah berlogo banteng di acara Rekerda PDIP Kepri, Oktober lalu.
Ramai dibincangkan, Aunur akan pindah ke PDIP. Dibantahnya. “Saya hanya menghargai karena diundang, saya masih Ketua DPD Golkar Kabupaten Karimun,” jawabnya. Ia juga punya basis massa yang kuat di Kabupaten Karimun.
Ansar Ahmad, Gubernur Kepri periode 2021-2024 ini adalah milik warga Kepri. Bagi masyarakat Batam apalagi.
Ia adalah mantan Bupati Bintan dan Anggota DPR RI. Ia politisi senior di Partai Golkar. Ia juga akan lanjut bertarung di Pilkada 2024, tentu dengan target “juara bertahan”.
Para politisi gaul Kepri kumpul bareng. Pada Pilkada 2020, diantara mereka berempat ada yang berkompetisi keras untuk duduk di Kepri 1.
Ansar Ahmad kala itu berpasangan dengan Marlin Agustina.
Dan pasangan itu memenangkan pertarungan di ring perpolitikan provinsi ini. Menjadi Kepri 1 dan Kepri 2 periode 2021-2024.
Namun begitu dilantik, tetiba “pekong” alias pecah kongsi.
Menurut Ansar, wakilnya itu sudah setahun lebih jarang ngantor di gedung di Dompak, Tanjung Pinang. Tentu imbas dari pekong itu.
Di sisi Marlin beralasan bahwa Ansar Ahmad lah yang tak pernah memberi tugas. Rudi suami Marlin yang kerap mendengungkan itu di berbagai kesempatan.
Banyak pihak menilai Ansar yang low profile ini sebenarnya tak suka ribut-ribut, apalagi dengan wakilnya yang kaum hawa itu.
Dalam satu momen, Ansar mengatakan, ia malah minta Marlin agar aktif sebagaimana amanat perundang-undangan.
Belakangan temperatur perseteruan di antara Kepri 1 dengan Kepri 2 semakin memanas.
Marlin sering dibela suaminya, Rudi, yang Kepala BP Batam ex-officio dalam beberapa momen.
Bahkan Rudi secara blak-blakan mengkampanyekan sang istri akan maju bakal calon Wali Kota Batam untuk bertarung di 2024.
Rudi sendiri tak tendeng aling-aling akan mencalonkan diri ke Kepri 1. Tentu kalkulasi politik dan yang berkembang di publik, bisa jadi pertarungannya Kepri 1 akan head to head.
Konstelasi perpolitikan Provinsi Kepri semakin seru, manakala Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad juga sudah kukuh bakal maju menjadi Wali Kota Batam 2024-2029.
Artinya, ditengah kondisi “pekong” antara Marlin dengan Ansar, istri Rudi harus berkejaran pula dengan Amsakar Achmad paling tidak “jualan”, mencitrakan diri ke publik demi menaikkan elektabilitas di samping menyiapkan isi tas.
Amsakar pun dengan tekad bulat akan maju di perhelatan politik 2024. Kalau di jabatan wakil terus-menerus ia sudah jenuh, begitu kabar menyebar.
Amsakar bersama Rudi sama-sama pentolan Partai NasDem di Kepri dan Batam. Jika Rudi ngotot mem-branding Marlin dan menyusun kuda-kuda politiknya menggolkan istrinya lewat koalisi partai NasDem, lalu Amsakar mau naik kendaraan mana?
Tentu Amsakar juga sudah punya kalkulasi politik yang mapan mencari kendaraannya. Bisa kendaraan lama bisa “membeli” yang baru.
Warming up di kancah perpolitikan sudah dimulai, paling tidak untuk menaikkan citra masing-masing di mata dan hati publik.
Semuanya sah-sah saja. Bahkan saling sikut-menyikut, telikung-menelikung pun sudah mentradisi di dunia politik.
“Tak ada kawan dan lawan yang abadi yang ada hanya kepentingan yang abadi”, istilah yang masih berlaku dalam dunia politik.
Lantas adakah yang sedang ketar-ketir melihat kekompakan sementara empat politisi pemilik kuat basis massa yang ada di foto di atas? (*)

